هٰٓؤُلَاۤءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةًۗ لَوْلَا يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطٰنٍۢ بَيِّنٍۗ فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ
Hā'ulā'i qaumunattakhażū min dūnihī ālihah(tan), lau lā ya'tūna ‘alaihim bisulṭānim bayyin(in), faman aẓlamu mimmaniftarā ‘alallāhi każibā(n).
(Salah seorang dari para pemuda itu berkata kepada yang lain,) “Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Lalu mereka menunjukkan kepada kaumnya bahwa mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mereka menyekutukan Allah tanpa suatu bukti dan alasan yang jelas. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas tentang kepercayaan mereka, sebagaimana kami tunjukkan bukti-bukti yang nyata tentang kekuasaan Allah, Tuhan kami? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Sungguh, mereka itulah orang-orang yang zalim karena mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Dalam ayat ini, Allah swt menceritakan percakapan di antara para pemuda itu. Mereka mengatakan bahwa kaumnya yang berada di bawah kekuasaan Decyanus, meskipun lebih tua dan memiliki banyak pengalaman, namun menyekutukan Tuhan tanpa mempergunakan akal pikiran. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang benar, atau bukti yang kuat dan jelas untuk memperkuat kebenaran yang mereka katakan dan percayai. Pemuda-pemuda itu menyatakan bahwa kaum mereka seharusnya berbuat seperti yang mereka lakukan, yaitu menunjukkan bukti-bukti kebenaran agama yang mereka anut.
Anak-anak muda itu juga menyatakan bahwa tidak ada kezaliman yang lebih besar kecuali kezaliman orang yang berbuat dusta terhadap Allah, seperti mengatakan bahwa Tuhan itu mempunyai sekutu. Kaum mereka telah mempersamakan martabat berhala-berhala dengan martabat Tuhan yang tinggi, tetapi mereka tidak dapat memberikan alasan yang benar, padahal agama seharusnya berdasarkan kepercayaan atau alasan yang benar. Mereka mengada-adakan nama-nama untuk sebutan Tuhan dengan hanya menuruti hawa nafsu mereka.
Firman Allah swt:
اِنْ هِيَ اِلَّآ اَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْه َآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُۚ وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰىۗ ٢٣
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka. (an-Najm/53: 23)
Nama-nama yang diberikan kepada sekutu-sekutu Allah itu bermacam-macam seperti al-Lāta, al-Manāt, al-Uzzā, yaitu nama-nama untuk berhala-berhala yang diberikan oleh orang-orang Arab Jahiliah.
Ar-Raqīm الرَّقِيْمِ (al-Kahf/18: 9)
Ar-Raqīm adalah lafal dalam bentuk ṣifah musyābahah yang berarti maf’ūl yaitu batu yang ditulisi atau batu bertulis. Seperti lempengan batu peninggalan sejarah di Mesir yang bertuliskan peristiwa-peristiwa sejarah atau pribadi besar tokoh sejarah. Kata kerja atau fi’li ﺭﻗﻤﺎ ﻳﺮﻗﻢ ﺭﻗﻢ artinya menulis. Ar-Raqīm berarti tulisan atau yang ditulisi. Hal ini berkaitan dengan kisah Aṣḥābul Kahf yaitu beberapa pemuda penghuni gua yang tidur selama 309 tahun, sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an pada Surah al-Kahf ayat 9-25. Peristiwa ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Upsus daerah Turki di Anatoli Selatan di Asia Kecil. Ketika itu raja yang berkuasa adalah Dikyanus atau Decius (249-251 M). Tetapi menurut Ibnu Kaṡir dan al-Maragī, peristiwa ini terjadi sebelum Masehi, karena para ulama Yahudi juga membicarakan hal ini. Jadi yang dimaksud ar-raqīm ialah batu bertulis tentang Aṣḥābul Kahf, tetapi ada yang menafsirkan sebagai nama anjing yang mengikuti para pemuda tersebut, anjing itu mati dan menjadi tulang belulang yang berserakan, tidak seperti para pemuda yang diikutinya yang tidur 300 tahun lebih.














































