Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 27 - Surat Al-Kahf (Gua)
الكهف
Ayat 27 / 110 •  Surat 18 / 114 •  Halaman 296 •  Quarter Hizb 30.25 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَاتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖۗ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا

Watlu mā ūḥiya ilaika min kitābi rabbik(a), lā mubaddila likalimātih(ī), wa lan tajida min dūnihī multaḥadā(n).

Bacakanlah (Nabi Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Makna Surat Al-Kahf Ayat 27
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sesudah selesai menceritakan kisah penguni gua, ayat ini kembali menyampaikan pesan-pesan yang disampaikan pada permulaan surah ini. Dan bacakanlah wahai Nabi Muhammad apa yang diwahyukan Allah kepadamu, yaitu Al-Qur’an, Kitab Tuhanmu. Tidak ada siapa pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, yakni wahyu-Nya atau ketetapan-ketetapan-Nya. Dan ketahuilah engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya. Oleh karena itu, janganlah engkau lalai melaksanakan tuntunan Tuhanmu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan Rasul-Nya agar mem-bacakan Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya, mengamalkan isinya, menyampaikan kepada umat manusia, dan mengikuti perintah dan larangan yang tercantum di dalamnya. Tugas Rasul saw adalah menyampaikan wahyu Allah itu kepada umat manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيّ هَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ٦٧

Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (al-Mā’idah/5: 67)

Rasulullah tidak perlu mempedulikan perkataan orang-orang yang menghendaki agar ayat-ayat Al-Qur’an itu didatangkan sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka berkata, “Datangkan ayat Al-Qur’an yang lain daripada ini atau ganti dengan yang lain.” Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dapat mengganti ataupun mengubah kalimat-kalimat Al-Qur’an, baik kalimat perintah ataupun larangan, baik kalimat ancaman terhadap mereka yang melakukan kemaksiatan ataupun janji Allah kepada mereka yang taat dan berbuat kebaikan. Hanya Allah Yang Kuasa mengubah atau mengganti kalimatnya berdasarkan hikmah-Nya. Firman Allah swt:

يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُ ۚوَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ ٣٩

Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). (ar-Ra’d/13: 39)

Pergantian ayat oleh Allah dalam Al-Qur’an dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar manfaatnya, sebagaimana firman-Nya:

وَاِذَا بَدَّلْنَآ اٰيَةً مَّكَانَ اٰيَةٍ ۙوَّاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ

Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya…. (an-Naḥl/16: 101)

Segala ketentuan atau hukum yang telah ditetapkan Allah haruslah dipatuhi. Jika tidak, pasti akan ada hukuman yang diberikan Allah sesuai dengan apa yang sebelumnya telah diancamkan kepada orang-orang yang melanggar garis-garis yang ditetapkan-Nya. Tak seorang pun yang dapat menjadi pelindung, kecuali Allah swt karena kekuasaan-Nya meliputi makhluk-Nya. Tak seorangpun yang dapat lolos dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

Furuṭan فُرُطًا (al-Kahf/18: 28)

Lafaz furuṭan terambil dari akar kata faraṭa – yafruṭu – farṭan – wa furuṭan, yang berarti mendahului dengan sengaja, atau penganiayaan dan melampaui batas. Faraṭa juga berarti air yang melimpah dan keluar dari embernya. Dalam arti yang lain, faraṭa juga diartikan dengan perbuatan yang melebihi batas kewajaran atau berlebih-lebihan, menimbulkan penyesalan yang mendalam dan berakhir dengan kehancuran dan sia-sia. Penggandeng-an kata faraṭa dengan kata kāna dalam ayat ini, mengandung arti “keman-tapan dalam melampaui batas”. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah swt menegur nabi-Nya untuk tetap bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya dan janganlah tertipu oleh perhiasan kehidupan duniawi. Karena sesungguhnya apa yang orang-orang kafir lakukan dengan hawa nafsunya dengan melupakan Allah dan ayat-ayat-Nya adalah suatu keadaan yang melewati batas dan akan mendapatkan balasannya nanti di akhirat.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto