وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ
Wa lau lā iż dakhalta jannataka qulta mā syā'allāh(u), lā quwwata illā billāh(i), in tarani ana aqalla minka mālaw wa waladā(n).
Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, “Mā syā’allāh, lā quwwata illā billāh” (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah). Jika engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu,
Dan mengapa engkau tidak mengucapkan, ketika engkau memasuki kebunmu yang subur dan penuh dengan berbagai macam buah dan tanaman “Masya Allah, la quwwata illa billah”, Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Semestinya engkau ucapkan kalimat itu sebagai tanda syukur kepada Allah yang menciptakan dan menganugerahkan kebaikan kepadamu. Sekiranya engkau melihat harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu, tidaklah mengapa, itulah anugerah Tuhan yang diberikan untukku.
Yahuza lalu meneruskan kata-katanya kepada Qurṭus, “Seharusnya kamu mengucapkan syukur kepada Allah ketika memasuki kebun-kebunmu dan merasakan kagum terhadap keindahannya. Mengapa kamu tidak mengucapkan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu, berupa harta dan anak yang banyak yang belum pernah diberikan-Nya kepada orang lain.”
“Katakanlah “māsyā Allāh” ketika itu, sebagai tanda pengakuan atas kelemahanmu di hadapan-Nya, dan bahwa segala yang ada itu tidak mungkin terwujud tanpa izin dan kemurahan-Nya. Di tangan-Nya nasib kebun-kebun itu, disuburkan menurut kehendak-Nya ataupun dihancurkan menurut kehendak-Nya pula. Mengapa kamu tidak mengucapkan lā quwwata illā billāhi (tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) sebagai tanda pengakuan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat memakmurkan dan mengurusnya kecuali dengan pertolongan Allah swt.” Ayat ini mengandung pelajaran tentang zikir yang baik diamalkan. Nabi Muhammad saw berkata kepada sahabatnya, Abu Hurairah:
اَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ تَحْتَ الْعَرْشِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ: أَنْ تَقُوْلَ لَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ. (رواه أحمد عن أبي هريرة)
Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu perbendaharaan surga yang terletak di bawah Arasy? Aku menjawab, “Ya, saya mau.” Rasul berkata, “Kamu membaca lā quwwata illā billāhi.” (Riwayat Imam Aḥmad dari Abu Hurairah)
Demikian pula banyak hadis-hadis Rasul saw yang mengajarkan kepada umatnya sewaktu mendapat nikmat dari Allah supaya dia mengucapkan bacaan itu, Rasulullah saw bersabda:
مَا أَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فِى أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ وَلَدٍ فَيَقُوْلُ مَا شَاءَ اللّٰهُ لَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ، إِلاَّ دَفَعَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ كُلَّ آفَةٍ حَتَّى تَأْتِيَهُ مَنِيَّتُهُ وَقَرَأَ وَلَوْلَا إِذَ دَخَلْتَ، إلخ. (رواه البيهقي وابن مردويه عن أنس)
Setiap Allah swt memberikan kepada seorang hamba nikmat pada keluarga, harta, atau anak lalu dia mengucapkan “māsyā’ Allāh, lā quwwata illā billāh”, tentu Allah menghindarkan dia dari segala bencana sampai kematiannya, lalu Rasulullah membaca ayat 39 Surah al-Kahf ini. (Riwayat al-Baihaqī dan Ibnu Mardawaih dari Anas r.a.)
Setelah Yahuza selesai menasehati saudaranya supaya beriman, dan sudah menjelaskan tentang kekuasaan Allah swt, mulailah dia menanggapi perkataan saudaranya yang membanggakan harta dan orang-orangnya. Yahuza berkata, “Jika kamu memandang aku lebih miskin daripada kamu, baik mengenai harta kekayaan, maupun mengenai anak buah, maka tidaklah mengapa bagiku.”
1. Tabīd تَبِيْدَ (al-Kahf/18: 35)
Lafaz tabīda merupakan bentukan dari kata bayd, terambil dari akar kata bāda – yabīdu – bayādan yang berarti hancur beterbangan seperti sesuatu yang tersebar diterpa angin di gurun pasir atau diartikan pula dengan kebinasaan. Gurun pasir disebut juga dengan baidā’, bentuk jamaknya adalah baidun. Maksud ayat ini adalah Allah swt membuat perumpamaan terhadap dua orang Yahudi, yang seorang mukmin dan lainnya adalah kafir. Keduanya diberikan dua buah kebun anggur yang dikelilingi pohon kurma dan dialiri di celah antara keduanya dengan sebuah sungai. Orang Yahudi kafir dengan segala keangkuhan dan kesombongan dirinya berkata kepada orang Islam bahwa kebun yang dia miliki tidak akan hancur atau binasa selama-lamanya.
2. Gauran غَوْرًا (al-Kahf/18: 41)
Gauran terambil dari kata gāra- yagūru - gauran yang berarti masuk ke bagian yang paling dalam dari bumi atau lembah bumi. Gārat ‘ainuhu berarti air matanya menjadi kering karena masuk ke bagian dalam. Dalam Surah al-Mulk/67: 30 firman Allah: aṣbaḥa mā’ukum gauran berarti sumber air kamu menjadi kering. Gār berarti gua yang ada di lembah gunung. Penjelasannya adalah bahwa orang Yahudi yang telah masuk Islam menjawab kesombongan orang kafir bahwa Allah swt akan memberikan kebun yang lebih baik dari kebunnya dan semoga Allah swt mengirimkan petir kepada kebunnya sehingga menjadi tanah yang licin dan airnya menjadi surut dan kering, masuk ke dalam tanah sehingga tidak akan bisa ditemukan lagi.















































