مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۚوَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۗوَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
Mā qultu lahum illā mā amartanī bihī ani‘budullāha rabbī wa rabbakum, wa kuntu ‘alaihim syahīdam mā dumtu fīhim, falammā tawaffaitanī kunta antar-raqība ‘alaihim, wa anta ‘alā kulli syai'in syahīd(un).
Aku tidak (pernah) mengatakan kepada mereka kecuali sesuatu yang Engkau perintahkan kepadaku, (yaitu) “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
Nabi Isa melanjutkan pertanggungjawabannya di hadapan Allah di akhirat, “Aku tidak pernah, selama hidupku, mengatakan kepada mereka, Bani Israil, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku dalam kedudukanku sebagai rasul Allah, yaitu, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada ibadah kecuali kepada-Nya. Dan aku, sebagai utusan Allah kepada Bani Israil, menjadi saksi terhadap sikap mereka; di antara mereka ada yang beriman dan lurus keyakinannya, dan ada pula kufur yang menyeleweng keyakinannya dengan menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah, selama aku berada, hidup dan bergaul, di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, selesailah tugasku sebagai nabi dan rasul dalam mengawasi keyakinan mereka. Sejak itu, Engkaulah yang mengawasi mereka; apakah mereka lurus atau menyeleweng dengan menjadikan aku dan ibuku dua tuhan selain Allah. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu, yang terlihat maupun tersembunyi dari pandangan manusia.” Jadi, Nabi Isa selama hidupnya tidak pernah menyatakan kepada Bani Israil bahwa dirinya dan ibunya, Maryam, adalah tuhan dan tidak pernah pula memerintahkan untuk menyembah mereka berdua.
Sesudah Nabi Isa pada ayat yang lalu mensucikan Allah dan kemudian dia membersihkan dirinya dari tuduhan menganggap dirinya sebagai Tuhan, maka dalam ayat ini Isa menjelaskan apa sebenarnya yang telah diserukannya kepada kaumnya yaitu agar mereka menyembah Allah. Tuhannya sendiri dan juga Tuhan kaumnya. Tidak benar dia menuhankan dirinya dan ibunya karena mereka berdua adalah hamba Allah seperti juga manusia lainnya. Nabi Isa telah mengajarkan pokok-pokok agama dan dasar-dasar keimanan kepada kaumnya yang seharusnya mereka jadikan pedoman dalam kehidupan beragama sepanjang masa. Sewaktu Nabi Isa masih berada bersama mereka, beliau selalu memberikan bimbingan kepada mereka dan mengawasi segala tingkah laku mereka; yang benar dibenarkan, yang salah dinyatakan salah sesuai dengan petunjuk Allah. Tetapi setelah beliau diangkat ke langit, habislah masa tugas kerasulannya, putuslah pengawasan dan bimbingan beliau terhadap kaumnya. Nabi Isa tidak mengetahui lagi amal perbuatan mereka dan sejarah perkembangan mereka dan agamanya. Hanyalah Allah yang menjadi Pengawas dan Saksi atas mereka. Allah memberi petunjuk kepada orang yang menghendaki kebenaran, membiarkan orang yang menginginkan kesesatan. Orang yang menuhankan Isa telah kafir dan haram surga bagi mereka. Hal itu ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ ٧٢
Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ”Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ”Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. (al-Mā′idah/5:72).
‘Isa Almasih عِيْسىَ اَلْمَسِيْح (al-Mā’idah/5: 116)
Di dalam Al-Qur’an, nama Isa atau Isa anak Maryam, sering juga diikuti dengan nama gelar, Isa Almasih, yang disebutkan dalam 33 ayat dalam 13 surah.
Pada mulanya kata Almasīḥ dari kata bahasa Arab masaḥa, dalam arti istilah berarti mengurapi minyak ke badan untuk memberi berkah bagi seorang raja atau nabi, yang sudah menjadi adat di kalangan orang Yahudi dan Kristiani. Almasih, orang yang diurapi. Dalam Bibel berarti diurapi dengan minyak suci; dari bahasa Ibrani, masakh, mengurapi, Mashīach (dalam ejaan bahasa Inggris), atau Messiah, Mesias, “yang diurapi oleh Tuhan,” yakni Kristus dalam bahasa Yunani, dari asal kata iesus dalam bahasa Latin atau yeshua dalam bahasa Ibrani.
Sejarah permulaan hidup Isa Almasih memang tidak banyak diketahui. Selain yang sudah disebutkan di dalam Al-Qur’an, satu-satunya sumber informasi tentang Yesus terdapat dalam Perjanjian Baru, terutama dalam tiga Kitab pertama, yakni Matius, Lukas dan Markus, meskipun ada juga tambahan data yang dapat dikumpulkan dari Yohanes, Surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul. Dalam Injil Matius (1:1-125) disebutkan bahwa Yesus keturunan Daud sampai kepada Ibrahim. Dalam Injil Lukas (2:23-38) disebutkan bahwa “Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun, dan menurut anggapan orang, Ia anak Yusuf, anak Eli, anak Matat,…” dan seterusnya sampai pada “anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.”
Tentang nasab ini antara Injil Matius dengan Injil Lukas memang terdapat perbedaan, kendati keduanya bermuara pada Ibrahim. Matius mengatakan Yusuf anak Yakub dan seterusnya; kata Lukas ia anak Eli dan seterusnya. Begitu juga mengenai silsilah Yesus, Matius mengatakan bahwa Yesus dari cabang Sulaiman anak Daud, Lukas mengatakan ia dari cabang Natan anak Daud. “Dan ketika genap delapan hari Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas 2:21). Dalam syariat agama Yahudi bayi delapan tahun sudah harus dikhitan, seperti yang sudah berlaku sebelumnya terhadap Ibrahim.
Dalam versi Kristen, Yesus lahir di Betlehem, 6 mil selatan Yerusalem, diperkirakan dalam bulan Desember tahun 5 sebelum Masehi. Ketika itu Kaisar Augustus (versi lain mengatakan Tiberius) adalah maharaja Roma. Ibu Yesus, Maria telah mengandungnya melalui Roh Kudus, yang pada masanya ia dikenal sebagai anak Yusuf, seorang tukang kayu, suami Maria. Kedua orang tuanya di Nazaret, Galelea.
Dalam Perjanjian Baru diceritakan, bahwa orang-orang majusi dari Timur datang ke Yerusalem mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mereka telah melihat bintang-Nya di Timur dan datang untuk menyembah Dia. Raja Herodes, penguasa Yudea di bawah Roma, terkejut sekali mendengar berita itu, dan mengumpulkan semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi untuk dimintai keterangan di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka menjawab di Betlehem, tanah Yudea, karena sudah tertulis dalam kitab nabi. Diam-diam Herodes memanggil orang majus itu dan menanyakan bilamana bintang itu nampak. Ia menyuruh mereka ke Betlehem untuk menyelidiki Anak itu karena raja Herodes juga akan menyembah Dia. Mereka berangkat, dan terlihatlah bintang yang mereka lihat di Timur itu sudah mendahului mereka dan berhenti di tempat Anak itu berada. Mereka melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu mereka sujud menyembah Anak itu. Mereka mempersembahkan harta kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Karena dalam suatu mimpi mereka diperingatkan agar jangan kembali kepada Herodes, maka mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain. (Matius 2: 1-12).
Tak lama setelah itu Yesus dibawa ke Mesir untuk menghindari pembantaian bayi oleh raja Herodes. Dalam usia 12 tahun oleh ibunya ia dipersembahkan kepada rumah ibadah di Yerusalem. Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, mungkin sekitar tahun 26 Masehi, dan mulai berkhotbah di depan umum, menyembuhkan orang sakit dan membentuk kelompok kecil menjadi pengikut-pengikutnya di kalangan bawah masyarakat Palestina, nelayan dan sebagainya. Ajarannya ditafsirkan oleh kalangan pemuka agama Yahudi sebagai bentuk permusuhan terhadap lembaga yang sah, dan dengan pengkhianatan salah seorang dari dua belas orang muridnya, yakni Yudas Iskariot (Matius 26:14-16; 48-50) dan dengan kerjasama dengan penguasa-penguasa Yahudi dilaporkan kepada Pontius Pilatus, wali negeri itu. Ketika itu umur Yesus sudah mencapai 33 tahun, yang berakhir dengan penyaliban (Matius 27. 45-56).Demikian versi Kristen.
Kelahiran Nabi Isa di dunia sama dengan akhir hayatnya, banyak mengandung rahasia, dan menimbulkan berbagai perselisihan. Seperti dikatakan oleh Yusuf Ali dalam menafsirkan Surah an-Nisā’/4: 157-158, bahwa membicarakan segi-segi yang masih banyak menimbulkan keraguan di kalangan sekte-sekte Kristen dahulu dan juga di kalangan ahli-ahli ilmu kalam kaum Muslimin, kurang ada manfaatnya. Di kalangan gereja Kristen Ortodoks hal ini menjadi dasar utama yang mengatakan bahwa Yesus mati di tiang salib dan dimakamkan, dan bahwa pada hari ketiga dia bangkit dengan keadaan tubuh yang masih utuh dengan lukanya, berjalan dan bercakap-cakap, dan makan bersama dengan murid-muridnya dan kemudian jasadnya diangkat ke langit. Untuk ajaran teologis mengenai pengorbanan darah dan penebusan dosa atas namanya itu adalah suatu keharusan, yang oleh Islam jelas ditolak. Tetapi ada beberapa sekte Kristen terdahulu yang memang tidak percaya bahwa Kristus mati di tiang salib. Kaum Basilides percaya bahwa ada orang lain yang telah menggantikan Yesus. …Injil Barnabas mendukung teori substitusi (penggantian oleh orang lain) di atas Salib. Menurut ajaran Al-Qur’an, Almasih tidak disalib dan tidak pula dibunuh oleh orang-orang Yahudi, meskipun karena keadaan tertentu, dalam pikiran musuhnya memang demikian yang terbayang. Ada paham yang berpendapat, bahwa dia tidak mati seperti matinya manusia biasa, melainkan masih hidup dengan jasadnya di langit; yang lain berpendapat bahwa dia mati (Āli ‘Imrān/3: 55, an-Nisā’/4: 159, al-Mā’idah/5: 117), tetapi bukan pada waktu dia disalib seperti yang diduga; dan bahwa dia “diangkat naik” ke hadirat Tuhan itu berarti, bahwa sebaliknya daripada dicemarkan dan dihina sebagai penjahat, sebagaimana dikehendaki oleh orang Yahudi; tetapi sebaliknya ia dimuliakan oleh Allah sebagai Rasul-Nya seperti dalam ayat berikutnya (an-Nisā’4: 158). Kata yang sama raja`a itu juga dipakai dalam surah al-Insyirah/94: 4 sehubungan dengan kemuliaan yang diberikan kepada Rasulullah. “Oleh pihak Yahudi Isa dituduh menghina Tuhan karena mengaku dan mendakwakan diri Allah atau anak Allah. Oleh golongan Nasrani (kecuali sebagian kecil pada sekte yang mula-mula, yang telah dibasmi dengan cara penyiksaan, dan sekte yang sekarang Unitarianisme, mereka hampir sama dengan kaum Muslimin), inti pengakuan itu diambilnya dan dijadikannya dasar keimanan mereka. Allah membersihkan Isa dari tuduhan atau pengakuan semacam itu,” demikian A. Y. Ali.
Dalam Surah Maryam/19: 16-33) dan Surah Āli ‘Imrān/3: 45-53) Allah berfirman bahwa kelahiran Isa dimulai ketika para malaikat berkata kepada Maryam, bahwa Allah telah mengutamakannya dan menyucikannya di atas semua perempuan seluruh alam, dan dia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang bersih. Dan dilukiskan Maryam yang keheranan, karena ia tak pernah bersentuhan dengan laki-laki, ketika malaikat menyampaikan berita gembira kepadanya dari Allah, bahwa ia akan mendapat anak bernama Isa, terhormat di dunia dan di akhirat dan termasuk orang yang saleh dan dekat kepada Allah, berbicara ketika masih dalam buaian dan sesudah dewasa. Allah akan mengajarkan kebijakan kepadanya, Taurat dan Injil, dan selaku rasul kepada Bani Israil, disertai mukjizat-mukjizat, menyuruh menyembah hanya kepada Allah. Setelah Isa menyadari akan kekafiran mereka ia bertanya, siapakah yang akan menjadi pembelanya di jalan Allah. Para muridnya berkata, bahwa mereka pembela-pembela Allah. Mereka bersaksi bahwa beriman kepada Allah, tunduk, dan beriman pada Kitab yang diwahyukan Allah dan mengikuti Isa Rasul-Nya.
Tugas Nabi Isa ditegaskan dalam dua cara: (1) dia akan menjadi bukti kepada manusia. Kelahiran dan cara hidupnya yang ajaib akan membuat dunia tak bertuhan kembali kepada Tuhan; dan (2) tugasnya akan menjadi hiburan dan penyelamat bagi orang yang bertobat. Ini memang sudah menjadi salah satu cara bagi semua utusan Allah, dan cara yang paling menonjol ialah pada Muhammad Rasulullah. Tetapi di sini pokok persoalannya ialah, karena orang-orang Israil itu, yang menjadi sasaran diutusnya Nabi Isa kepada mereka, adalah ras yang keras kepala; maka misi Nabi Isa akan menjadi rahmat bagi mereka.
Demikian ringkasan kisah Isa Almasih dan Maryam dalam Al-Qur’an dan kisah Yesus dalam Perjanjian Baru.












































