Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 30 - Surat Al-Mā'idah (Hidangan)
الماۤئدة
Ayat 30 / 120 •  Surat 5 / 114 •  Halaman 112 •  Quarter Hizb 12 •  Juz 6 •  Manzil 2 • Madaniyah

فَطَوَّعَتْ لَهٗ نَفْسُهٗ قَتْلَ اَخِيْهِ فَقَتَلَهٗ فَاَصْبَحَ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Fa ṭawwa‘at lahū nafsuhū qatla akhīhi fa qatalahū fa aṣbaḥa minal-khāsirīn(a).

Kemudian, hawa nafsunya (Qabil) mendorong dia untuk membunuh saudaranya.209) Maka, dia pun (benar-benar) membunuhnya sehingga dia termasuk orang-orang yang rugi.

Makna Surat Al-Ma'idah Ayat 30
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pernyataan Habil tersebut memberi pengaruh pada Qabil, maka ia agak ragu untuk melakukan pembunuhan, tetapi nafsu Qabil dengan kuat mendorongnya untuk membunuh saudaranya, sehingga muncullah keberaniannya dan kemudian dia pun benar-benar membunuh saudaranya itu, maka jadilah dia termasuk orang yang merugi dunia dan akhirat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada mulanya Qabil takut membunuh Habil, tetapi hawa nafsu amarahnya selalu mendorong dan memperdayakannya, sehingga timbullah keberanian untuk membunuh saudaranya dan dilaksanakanlah niatnya tanpa memikirkan akibatnya. Setelah hal itu benar-benar terjadi, maka sebagai akibatnya Qabil menjadi orang yang rugi di dunia dan di akhirat. Di dunia ia rugi karena membunuh saudaranya yang saleh dan takwa. Dan di akhirat ia akan rugi karena tidak akan memperoleh nikmat akhirat yang disediakan bagi orang-orang muttaqin.

Imam as-Suddi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Murrah bin Abdillah, dan dari beberapa sahabat Nabi Muhammad saw bahwa Qabil setelah teperdaya oleh hawa nafsunya dan bertekad membunuh saudaranya, ia mencari Habil dan menemukannya di atas gunung sedang menggembala kambing, tapi ia sedang tidur, maka Qabil mengambil batu besar lalu ditimpakan kepadanya di sebuah tempat yang terbuka bernama ‘Arak.

Isi Kandungan Kosakata

Tabū’a تَبُوْءَ (al-Mā’idah/5: 29)

Arti kata tabū’a adalah “kembali”. Kemudian arti kata ini digunakan secara metafora dalam memperoleh akibat dari suatu tindakan atau perbuatan. Dalam ayat ini Habil mengatakan kepada saudaranya Qabil yang berupaya untuk membunuhnya bahwa dia tidak akan melawan saudaranya ketika akan membunuhnya, yang dia inginkan hanyalah semua dosa-dosanya ditanggung oleh saudaranya yang akan membunuhnya ketika dia kembali menghadap Allah. Di balik perkataan Habil ini terkandung maksud menasehati, mengingatkan dan menyadarkan saudaranya bahwa pembunuhan merupakan dosa besar. Pelaku pembunuhan akan menanggung dosa tindakan tersebut bahkan menanggung dosa orang yang dibunuhnya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto