Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 9 - Surat Al-Mujādalah (Gugatan)
المجادلة
Ayat 9 / 22 •  Surat 58 / 114 •  Halaman 543 •  Quarter Hizb 55 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā tanājaitum falā tatanājau bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma‘ṣiyatir-rasūli wa tanājau bil-birri wat-taqwā, wattaqullāhal-lażī ilaihi tuḥsyarūn(a).

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu saling mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah berbicara tentang perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Akan tetapi, berbicaralah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

Makna Surat Al-Mujadalah Ayat 9
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Allah lalu mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengikuti kebiasaan Yahudi mengadakan pembicaraan rahasia kecuali untuk kebaikan. Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu terpaksa mengadakan atau terlibat dalam pembicaraan rahasia, maka perhatikanlah, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, perencanaan, cara maupun strategi; dan jangan pula membahas permusuhan, kebencian, dan fitnah; dan jangan pula membicarakan perbuatan yang tergolong durhaka kepada Rasul, namun, jika terpaksa mengadakan atau terlibat dalam pembicaraan rahasia, maka bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan meliputi perdamaian, dan kerukunan hidup beragama, dan penguatan takwa kepada Allah. Dan bertakwalah kepada Allah, wahai seluruh umat dengan menjaga kesinambungan iman dan ibadah, serta amal saleh, yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali pada hari Kiamat untuk mempertanggung jawabkan hidup di hadapan Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah menghadapkan perintahnya kepada orang-orang yang beriman agar jangan sekali-kali mengadakan perundingan rahasia di antara mereka dengan tujuan berbuat dosa, mengadakan permusuhan, dan mendurhakai Allah dan rasul.

Jika mereka mengadakan perundingan rahasia juga, hal itu diperbolehkan, tetapi yang dibicarakan di dalam perundingan itu hanyalah kebajikan, membahas cara-cara yang baik, mengerjakan perbuatan-perbuatan takwa, dan menghindarkan diri dari perbuatan mungkar. Perlu diketahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, betapa pun rahasianya perundingan yang dilakukan, pasti diketahui-Nya.

وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَاۖ وَلَهٗ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ࣖ ١٤

Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisā'/4: 14)

Dalam satu hadis diterangkan sebagai berikut:

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُوْنَ اْﻵخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوْا باِلنَّاسِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْزِنَهُ. (رواه البخاري ومسلم)

Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu itu berbisik-bisik tanpa mengajak yang ketiga sehingga kamu bergabung dengan orang lain, karena sikap itu menyedihkan perasaannya. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Iṡm اْلاِثْمُ (al-Mujādalah/58: 8)

Kata ini dalam Al-Qur’an disebut tidak kurang dari 49 kali dengan berbagai bentuknya, yang artinya “dosa” atau “bahaya.” Di luar konteks ayat ini, al-iṡmu diartikan sebagai sesuatu yang terbesit di hati seseorang dan dia merasa tidak enak kalau orang lain mengetahuinya. Yang dilarang dipercakapkan dengan rahasia di sini, tidak hanya hal-hal yang dapat membawa al-iṡm (dosa), tetapi juga permusuhan (al-‘udwān) dan durhaka kepada rasul. Termasuk dalam pengertian yang dilarang itu adalah perbincangan yang menjelek-jelekkan kaum Muslimin, dan bisik-bisik dalam rangka durhaka kepada Rasulullah.

2. Al-‘Udwān الْعُدْوَانُ (al-Mujādalah/58: 8)

Al-‘Udwān adalah maṣdar, wazan fu‘lān. Artinya “permusuhan.” Termasuk dalam arti permusuhan jika seseorang memandang pihak lain dengan rasa benci, pihak lain sebagai berbahaya, harus diwaspadai, atau harus disingkirkan. Sikap-sikap serupa itu tentu sangat mengganggu kehidupan bermasyarakat. Pergaulan hidup masyarakat yang harmonis sangat sulit dapat terwujud, karena yang satu memandang yang lain sebagai musuh (al-‘aduww). Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa setanlah musuh manusia, yang harus diwaspadai segala bujuk-rayunya. Akan tetapi, karena keburukan jiwa orang munafik dan orang Yahudi, mereka terbiasa memandang kaum Muslimin dengan “sikap permusuhan.” Karena mereka bersikap seperti itu, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto