Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 22 - Surat Al-Mulk (Kerajaan)
المُلك
Ayat 22 / 30 •  Surat 67 / 114 •  Halaman 563 •  Quarter Hizb 57 •  Juz 29 •  Manzil 7 • Makkiyah

اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖٓ اَهْدٰىٓ اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Afamay yamsyī mukibban ‘alā wajhihī ahdā ammay yamsyī sawiyyan ‘alā ṣirāṭim mustaqīm(in).

Apakah orang yang berjalan dengan wajah tertelungkup itu lebih mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Makna Surat Al-Mulk Ayat 22
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kaum musyrik yang durhaka itu dilukiskan pada ayat ini dan dibandingkan dengan kaum yang selalu taat kepada Allah dengan ungkapan yang tegas. Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup sehingga terjungkal jatuh, yang lebih terpimpin dalam kebenaran ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang luas lagi lurus? Tentu saja keduanya tidak sama. Hanya orang yang bodoh yang menilainya sama.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah memberikan perbandingan kepada manusia antara perjalanan hidup yang ditempuh oleh orang-orang kafir dengan yang ditempuh oleh orang-orang yang beriman. Perbandingan ini diberikan dalam bentuk pertanyaan yang menyatakan bahwa orang yang selalu terjerembab atau tersungkur ketika berjalan dan kakinya selalu tersandung karena melalui jalan yang berbatu-batu dan berlubang-lubang, tidak mungkin akan selamat dan berjalan lebih cepat mencapai tujuan dibandingkan dengan orang yang berjalan dalam suasana yang baik dan aman, di atas jalan yang datar dan mulus, serta dalam cuaca yang baik pula.

Perbandingan dalam ayat di atas dikemukakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Kalimat pertanyaan dalam ayat ini bukanlah maksudnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak diketahui, tetapi untuk menyatakan suatu maksud yaitu bahwa perbuatan orang-orang kafir itu adalah perbuatan yang tidak benar. Dinyatakan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat. Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa tentu orang yang berjalan tertelungkup dengan muka menyapu tanah akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera hidup di dunia yang fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sedangkan orang yang berjalan dengan cara yang baik, menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai kepada tujuan yang diinginkannya dan diridai Allah. Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka yang bertakwa.

Selanjutnya dapat pula diambil pengertian dari ayat ini bahwa manusia dalam menjalankan usahanya, melaksanakan pekerjaan, dan menunaikan kewajibannya haruslah berdasarkan kepada ketentuan agama Islam, petunjuk ilmu pengetahuan, akal pikiran yang sehat dan pengalaman, serta hasil penelitian para ahli sebelumnya. Ini bertujuan agar usaha dan pekerjaannya membuahkan hasil yang baik. Janganlah ia membabi-buta atau bekerja dengan semaunya saja, karena yang demikian itu hanyalah akan mengundang kegagalan dan bencana, baik untuk dirinya maupun orang lain.

Isi Kandungan Kosakata

1. Lajjū لَجُّوْا (al-Mulk/67: 21)

Lajjū adalah fi’il maḍi (kata kerja lampau) dalam bentuk jamak (plural), dari lajja-yalujju-lajajan, artinya “tetap keras kepala,” atau “berketetapan hati,” atau “berkeras hati tak mau mundur.” Kata ini diucapkan untuk keadaan seseorang yang berketetapan hati atau sikap yang tetap dan teguh tidak mau berubah. Sikap demikian adalah sikap keras hati orang kafir, atau sikap keras kepala mereka. Walau mereka ditanyai dengan berbagai pertanyaan untuk menyadarkan, mereka tetap keras kepala dan berkeras hati dalam keangkuhan, kekafiran, dan kebencian. Mereka itu apakah diberi peringatan atau tidak, tetap saja angkuh dan tidak beriman (al-Baqarah/2: 6).

2. Mukibban مُكِبًّا (al-Mulk/67: 22)

Kata mukibb disebutkan hanya sekali dalam Al-Qur’an, berkedudukan sebagai ḥāl (penjelas keadaan). Ia berasal dari kabba-yakubbu-kabban, artinya: “terbalik,” tertelungkup,” atau “terbanting.” Ungkapan kata akabba fulan ‘alā wajhih” artinya: Fulan membanting atau menelungkupkan wajahnya. Maka, ayat ini mengandung pertanyaan Allah, apakah orang yang berjalan dalam keadaan terbanting-banting atau tertelungkup wajahnya dipandang lebih mendapatkan petunjuk (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan dengan tegap di atas jalan yang licin dan mulus? Jawabannya tentulah, orang yang disebutkan kedualah yang paling mendapatkan petunjuk (hidayah), bukan orang yang secara tamsil digambarkan berjalan secara terbalik dengan keadaan wajah terbanting-banting atau tertelungkup.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto