اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ يَرْزُقُكُمْ اِنْ اَمْسَكَ رِزْقَهٗ ۚ بَلْ لَّجُّوْا فِيْ عُتُوٍّ وَّنُفُوْرٍ
Am man hāżal-lażī yarzuqukum in amsaka rizqah(ū), bal lajjū fī ‘utuwwiw wa nufūr(in).
Atau, siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Sebaliknya, mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).
Setelah menampik adanya sumber pembelaan selain Allah, kini diteruskan dengan menampik adanya sumber pemberi rezeki. Atau siapakah yang dapat memberimu rezeki secara terus menerus, jika Dia Yang Maha Pengasih, menahan rezeki-Nya? Pastilah tidak ada. Meskipun bukti sudah sangat jelas, kaum musyrik itu tetap durhaka, bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri dari kebenaran.
Kepada orang-orang kafir yang mengingkari rezeki Allah, disampaikan pernyataan dalam bentuk pertanyaan bahwa tak seorang pun dapat memberi rezeki, bila Allah menahan untuk tidak memberikan rezeki itu kepada mereka. Mereka diminta merenungkan seandainya Allah tidak lagi menurunkan hujan, mematikan segenap tumbuh-tumbuhan sehingga seluruh permukaan bumi kering dan tandus, mematikan semua hewan ternak yang dapat dimakan, menjadikan matahari berhenti terbit di ufuk timur dan menjadikan hari terus menerus terang-benderang tanpa berganti dengan gelap, bagaimana dan dari manakah mereka akan beroleh rezeki?
Kemudian diterangkan bahwa sebenarnya orang-orang kafir itu percaya akan keesaan dan kekuasaan Allah. Mereka mempersekutukan Allah hanya didorong oleh kesombongan serta keengganan mereka menerima kebenaran karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruh di dalam masyarakatnya. Kesombongan dan keingkaran itu timbul dan disuburkan oleh tipu daya serta godaan setan yang selalu menumbuhkan perasaan dalam pikiran dan angan-angan mereka bahwa perbuatan mereka yang buruk itu adalah perbuatan baik dan terpuji. Memang demikianlah tujuan setan hidup di dunia ini.
Allah berfirman:
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ ١٣ قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ ١٤ قَالَ اِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْن َ ١٥
(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (al-A‘rāf/7: 13-15)
1. Lajjū لَجُّوْا (al-Mulk/67: 21)
Lajjū adalah fi’il maḍi (kata kerja lampau) dalam bentuk jamak (plural), dari lajja-yalujju-lajajan, artinya “tetap keras kepala,” atau “berketetapan hati,” atau “berkeras hati tak mau mundur.” Kata ini diucapkan untuk keadaan seseorang yang berketetapan hati atau sikap yang tetap dan teguh tidak mau berubah. Sikap demikian adalah sikap keras hati orang kafir, atau sikap keras kepala mereka. Walau mereka ditanyai dengan berbagai pertanyaan untuk menyadarkan, mereka tetap keras kepala dan berkeras hati dalam keangkuhan, kekafiran, dan kebencian. Mereka itu apakah diberi peringatan atau tidak, tetap saja angkuh dan tidak beriman (al-Baqarah/2: 6).
2. Mukibban مُكِبًّا (al-Mulk/67: 22)
Kata mukibb disebutkan hanya sekali dalam Al-Qur’an, berkedudukan sebagai ḥāl (penjelas keadaan). Ia berasal dari kabba-yakubbu-kabban, artinya: “terbalik,” tertelungkup,” atau “terbanting.” Ungkapan kata akabba fulan ‘alā wajhih” artinya: Fulan membanting atau menelungkupkan wajahnya. Maka, ayat ini mengandung pertanyaan Allah, apakah orang yang berjalan dalam keadaan terbanting-banting atau tertelungkup wajahnya dipandang lebih mendapatkan petunjuk (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan dengan tegap di atas jalan yang licin dan mulus? Jawabannya tentulah, orang yang disebutkan kedualah yang paling mendapatkan petunjuk (hidayah), bukan orang yang secara tamsil digambarkan berjalan secara terbalik dengan keadaan wajah terbanting-banting atau tertelungkup.

