Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 20 - Surat Al-Mulk (Kerajaan)
المُلك
Ayat 20 / 30 •  Surat 67 / 114 •  Halaman 563 •  Quarter Hizb 57 •  Juz 29 •  Manzil 7 • Makkiyah

اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ جُنْدٌ لَّكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِۗ اِنِ الْكٰفِرُوْنَ اِلَّا فِيْ غُرُوْرٍۚ

Am man hāżal-lażī huwa jundul lakum yanṣurukum min dūnir-raḥmān(i), inil-kāfirūna illā fī gurūr(in).

Atau, siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat menolongmu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.

Makna Surat Al-Mulk Ayat 20
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kaum musyrik Mekah sering kali mengandalkan kekuatan material atau berhala-berhala yang mereka sembah sebagai pembela mereka. Ayat ini menampik klaim tersebut Atau siapakah yang akan kamu andalkan untuk menjadi bala tentara dan pembela bagimu yang dapat membelamu selain Allah Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu hanyalah dalam keadaan tertipu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah mencela orang-orang kafir yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah dengan bentuk pertanyaan yang menyatakan tak ada orang yang akan datang menolong mereka serta melepaskannya dari siksa Allah. Mereka telah tertipu oleh bisikan-bisikan setan yang menanamkan kepercayaan dalam hati mereka bahwa berhala-berhala itu dapat menolong dan mengabulkan permintaan mereka. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Berhala-berhala itu sendiri tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali, malah sebaliknya manusialah yang menentukan segala sesuatu bagi dirinya. Orang-orang kafir itu tertipu oleh bisikan setan. Oleh karena itu, Allah berfirman:

وَيَعْبُ دُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْۗ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلٰى رَبِّهٖ ظَهِيْرًا ٥٥

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan bencana kepada mereka. Orang-orang kafir adalah penolong (setan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (al-Furqān/25: 55)

Perkataan “min dūnir-raḥmān” (selain dari Allah Yang Maha Pemurah) mengandung pengertian bahwa rahmat Allah itu dilimpahkan kepada seluruh makhluk yang ada di alam ini, baik yang beriman kepada Allah maupun yang kafir. Demikian pula kepada hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya, sehingga semuanya dapat hidup dan berkembang. Akan tetapi, di akhirat nanti rahmat itu hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman saja. Allah berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ٣٢

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. (al-A‘rāf/7: 32)

Isi Kandungan Kosakata

1. Lajjū لَجُّوْا (al-Mulk/67: 21)

Lajjū adalah fi’il maḍi (kata kerja lampau) dalam bentuk jamak (plural), dari lajja-yalujju-lajajan, artinya “tetap keras kepala,” atau “berketetapan hati,” atau “berkeras hati tak mau mundur.” Kata ini diucapkan untuk keadaan seseorang yang berketetapan hati atau sikap yang tetap dan teguh tidak mau berubah. Sikap demikian adalah sikap keras hati orang kafir, atau sikap keras kepala mereka. Walau mereka ditanyai dengan berbagai pertanyaan untuk menyadarkan, mereka tetap keras kepala dan berkeras hati dalam keangkuhan, kekafiran, dan kebencian. Mereka itu apakah diberi peringatan atau tidak, tetap saja angkuh dan tidak beriman (al-Baqarah/2: 6).

2. Mukibban مُكِبًّا (al-Mulk/67: 22)

Kata mukibb disebutkan hanya sekali dalam Al-Qur’an, berkedudukan sebagai ḥāl (penjelas keadaan). Ia berasal dari kabba-yakubbu-kabban, artinya: “terbalik,” tertelungkup,” atau “terbanting.” Ungkapan kata akabba fulan ‘alā wajhih” artinya: Fulan membanting atau menelungkupkan wajahnya. Maka, ayat ini mengandung pertanyaan Allah, apakah orang yang berjalan dalam keadaan terbanting-banting atau tertelungkup wajahnya dipandang lebih mendapatkan petunjuk (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan dengan tegap di atas jalan yang licin dan mulus? Jawabannya tentulah, orang yang disebutkan kedualah yang paling mendapatkan petunjuk (hidayah), bukan orang yang secara tamsil digambarkan berjalan secara terbalik dengan keadaan wajah terbanting-banting atau tertelungkup.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto