اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ ࣖ
Alā ya‘lamu man khalaq(a), wa huwal-laṭīful-khabīr(u).
Apakah (pantas) Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia (juga) Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
Ayat ini masih kelanjutan sanggahan Allah terhadap sikap kaum musyrik: Apakah pantas Allah yang menciptakan semua makhluk termasuk kamu, wahai manusia, itu tidak mengetahui apa yang kamu lahirkan dan rahasiakan? Padahal Dia Mahahalus, Maha Mengetahui. Sungguh Dia pasti Maha Mengetahui segalanya.
Ayat ini seakan-akan memperingatkan orang-orang musyrik yang tidak percaya akan luas dan detilnya pengetahuan Allah, bahwa Tuhan Maha Mengetahui segala isi langit dan bumi betapa pun kecilnya, betapa pun jauh disembunyikan, serta mengetahui perkataan-perkataan yang dirahasiakan. Sesungguhnya pengetahuan Allah dapat menembus dinding yang sangat tebal dan kokoh dan sesuatu yang paling tersembunyi letaknya sekalipun.
Seandainya orang-orang kafir mau menggunakan akalnya, tentu ia akan berpendapat bahwa yang menciptakan seluruh alam ini, termasuk di dalamnya bumi dengan segala isinya, adalah Allah. Pencipta itu pasti mengetahui keadaan dan sifat-sifat dari ciptaan-Nya, baik yang kecil maupun yang besar. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi pada ciptaan-Nya, Allah mengetahuinya dengan rinci.
1. Żalūlan ذَلُوْلًا (al-Mulk/67: 15)
Żalūl adalah maṣdar dari żalla-yażullu-żullan wa żalūlan. Dalam kaitan ayat ini, kata tersebut artinya “penurut” (sahlul-inqiyad) atau “mudah dan tidak membangkang” (mużallalah sahlah). Bumi diciptakan Allah dalam keadaan penurut dan gampang/mudah, artinya bumi diciptakan dalam keadaan mudah dan menyenangkan untuk dijelajahi permukaannya, tidak ada kesulitan untuk melaluinya. Meskipun sesungguhnya bentuknya bulat, tetapi bumi terasa datar dan indah menyenangkan. Kalau jalan yang dilalui menanjak, maka terasa agak melelahkan karena tenaga yang dikeluarkan lebih besar; tetapi kalau jalan menurun terasa lebih ringan. Secara umum, bumi terasa mudah untuk dilalui karena keadaan umumnya datar. Itulah arti aż-żalūl.
2. Manākib مَنَاكِبُ (al-Mulk/65: 15)
Manākib adalah jamak (plural) dari kata mankib yang artinya permukaan, daratan, atau pundak. Paling kurang untuk kata manākib ini terdapat tiga pendapat, yaitu: pertama, artinya adalah jalan-jalannya (ṭuruqātuhā); kedua, artinya “gunung-gunungnya” (jibāluhā), menurut pendapat az-Zajjāj, kalau telah memungkinkan kita berjalan di gunung-gunungnya, maka hal itu lebih mudah sebenarnya (ablag fit-tażlīl); ketiga, artinya lereng-lerengnya (jawānibuhā). Di antara tiga macam tersebut mana yang paling sesuai, wallahu a’lam. Yang pertama pendapat Mujāhid dari Ibnu ‘Abbās, yang kedua pendapat Qatādah juga dari Ibnu ‘Abbās, dan ketiga pendapat Muqātil, al-Farra’ dan Abū Ubaidah.









































