وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Wa asirrū qaulakum awijharū bih(ī), innahū ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i).
Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Gunjingan kaum musyrik yang ternyata diketahui oleh Rasulullah, menjadikan mereka saling merendahkan bahkan merahasiakan ucapan di antara mereka agar tidak didengar Tuhan Nabi Muhammad. Ayat ini turun untuk meresponss sikap tersebut. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati dan segala apa yang kamu rahasiakan.
Menurut riwayat Ibnu ‘Abbās, ia berkata, “Pada suatu ketika orang-orang musyrikin mempergunjingkan Nabi Muhammad dan menjelek-jelekkannya, maka Allah menurunkan kepada beliau semua yang dibicarakan mereka itu. Lalu sebahagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Rendahkanlah suaramu agar kata-katamu tidak didengar oleh Tuhan Muhammad.” Maka turunlah ayat ini yang antara lain menjelaskan bahwa tidak ada suatu apa pun yang luput dari pengetahuan Allah.
Pada ayat ini, Allah kembali menjelaskan bahwa Dia mengetahui segala yang dirahasiakan dan segala yang dilahirkan oleh hamba-hamba-Nya, baik berupa perkataan, perbuatan, dan segala yang dirasakan oleh hati dan panca indera. Semuanya itu tidak luput sedikit pun dari pengetahuan Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Dari ayat ini dapat pula diambil kesimpulan bahwa semua doa yang dipanjatkan kepada Allah, baik dengan suara keras, berbisik, lemah-lembut maupun dengan gerakan hati saja akan diketahui Allah.
1. Żalūlan ذَلُوْلًا (al-Mulk/67: 15)
Żalūl adalah maṣdar dari żalla-yażullu-żullan wa żalūlan. Dalam kaitan ayat ini, kata tersebut artinya “penurut” (sahlul-inqiyad) atau “mudah dan tidak membangkang” (mużallalah sahlah). Bumi diciptakan Allah dalam keadaan penurut dan gampang/mudah, artinya bumi diciptakan dalam keadaan mudah dan menyenangkan untuk dijelajahi permukaannya, tidak ada kesulitan untuk melaluinya. Meskipun sesungguhnya bentuknya bulat, tetapi bumi terasa datar dan indah menyenangkan. Kalau jalan yang dilalui menanjak, maka terasa agak melelahkan karena tenaga yang dikeluarkan lebih besar; tetapi kalau jalan menurun terasa lebih ringan. Secara umum, bumi terasa mudah untuk dilalui karena keadaan umumnya datar. Itulah arti aż-żalūl.
2. Manākib مَنَاكِبُ (al-Mulk/65: 15)
Manākib adalah jamak (plural) dari kata mankib yang artinya permukaan, daratan, atau pundak. Paling kurang untuk kata manākib ini terdapat tiga pendapat, yaitu: pertama, artinya adalah jalan-jalannya (ṭuruqātuhā); kedua, artinya “gunung-gunungnya” (jibāluhā), menurut pendapat az-Zajjāj, kalau telah memungkinkan kita berjalan di gunung-gunungnya, maka hal itu lebih mudah sebenarnya (ablag fit-tażlīl); ketiga, artinya lereng-lerengnya (jawānibuhā). Di antara tiga macam tersebut mana yang paling sesuai, wallahu a’lam. Yang pertama pendapat Mujāhid dari Ibnu ‘Abbās, yang kedua pendapat Qatādah juga dari Ibnu ‘Abbās, dan ketiga pendapat Muqātil, al-Farra’ dan Abū Ubaidah.









































