وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).
Mereka berkata, “Kapankah (datangnya) janji (azab) ini jika kamu orang-orang benar?”
Penegasan Allah bahwa semua manusia akan dibangkitkan dan dikumpulkan seperti ditegaskan pada ayat di atas, direspons oleh kaum musyrik, seperti yang terekam dalam ayat ini. Dan kaum musyrik itu berkata sambil berolok-olok, “Kapan datangnya janji ancaman tentang hari kebangkitan itu jika kamu, wahai Nabi Muhammad, adalah orang yang benar?” Tentu kamu mengetahui dan dapat memberitahukan kepada kami.”
Orang-orang kafir itu bertanya kepada Rasulullah saw dengan maksud mengejek dan menentang tentang kapan waktunya ditimpakan kepada mereka runtuhan tanah yang mengimpit, angin kencang yang bercampur batu yang mengembus dan melemparkan mereka, sebagai azab yang sering disebut-sebut akan menimpa orang kafir? Kapan pula datangnya hari Kiamat yang pada hari itu seluruh perbuatan manusia selama hidup di dunia akan dipertanggungjawabkan, dan mereka sebagai orang yang durhaka akan masuk ke dalam neraka? Mereka minta dijelaskan semuanya, jika Nabi termasuk orang yang dapat dipercaya perkataannya.
Dari pertanyaan orang-orang kafir ini dipahami bahwa mereka menantang kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw, karena menurut mereka yang diancam itu tidak mungkin terjadi. Menurut mereka, mestinya Muhammad saw dan pengikut-pengikutnya yang akan diazab, dan kenyataannya mereka telah diazab Allah di dunia, berupa kesengsaraan dan siksaan yang ditimpakan kepada mereka seperti kemiskinan, kemelaratan, dan hukuman yang diberikan oleh orang-orang kafir Mekah kepada mereka. Orang-orang kafir itu mengatakan bahwa yang akan diterima Muhammad dan pengikut-pengikutnya di akhirat nanti lebih berat dari siksaan yang mereka terima di dunia.
Kosakata : Ma‘īn مَعِيْنٌ (al-Mulk/67: 30)
Kata ma‘īn dalam ayat ini adalah kata terakhir dari kata yang sama dari empat kali yang disebutkan Al-Qur’an. Pertama, disebutkan dalam Surah al-Mu’minūn/23: 50; kedua, dalam Surah aṣ-Ṣaffāt/37: 45, ketiga, dalam Surah al-Wāqi‘ah/56: 18, dan keempat, dalam ayat ini, Surah al-Mulk/67. Surah pertama tersebut berbicara tentang kata wa ma‘īn yang artinya “dan mata air mengalir”. Surah kedua dan ketiga berbicara tentang gelas yang berisi air dari mata air di surga. Demikian pula dalam Surah al-Mulk ini, kata ma‘īn muncul sebagai kata sifat dari air (mā’) yang disebut sebelumnya, yang artinya air “yang berasal dari sumber yang mengalir”. Menurut Ibnu al-Jauzī, ma‘īn artinya adalah air yang jelas dapat dilihat mata kepala: mā’ ẓahīr tarāhu al-‘uyūn. Jadi, kata ma‘īn dalam Al-Qur’an umumnya disebutkan dalam rangka menerangkan air minum penghuni surga yang berasal dari mata air yang mengalir, yang sudah tentu sehat dan nikmat serta menyenangkan.














































