Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 3 - Surat Al-Mumtaḥanah (Wanita Yang Diuji)
الممتحنة
Ayat 3 / 13 •  Surat 60 / 114 •  Halaman 549 •  Quarter Hizb 55.5 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

لَنْ تَنْفَعَكُمْ اَرْحَامُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ ۛيَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۛيَفْصِلُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Lan tanfa‘akum arḥāmukum wa lā aulādukum yaumal-qiyāmati yafṣilu bainakum, wallāhu bimā ta‘malūna baṣīr(un).

Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Kelak Dia akan memisahkan antara kamu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Makna Surat Al-Mumtahanah Ayat 3
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kaum kerabat dan anak-anak kamu yang selama ini menjadi kebanggaan kamu tidak akan bermanfaat bagi kamu pada hari kiamat, karena kehidupan di akhirat bersifat individual, tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada tolong menolong. (al-Baqarah/2: 254); dan akhirat akan memisahkan hubungan di antara kamu, kecuali yang seiman akan dipertemukan di dalam surga. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan, kebaikan maupun keburukan yang disembunyikan maupun yang dinyatakan secara terbuka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada hari Kiamat setiap orang mempertanggungjawabkan diri mereka masing-masing kepada Allah. Karib-kerabat, teman setia, anak-anak, atau orang tua sekalipun tidak dapat menolong seseorang di hari Kiamat. Yang dapat menolong seseorang dari siksa Allah hanyalah iman dan amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia.

Karib-kerabat, teman setia, anak-anak dan orang tua tidak dapat dijadikan penolong di hari Kiamat karena masing-masing berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang akan menimpa, sehingga tidak sempat memikirkan kerabat atau temannya, sebagaimana firman Allah:

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ ٣٣ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧

Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, Dan dari ibu dan bapaknya, Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 33-37)

Pada akhir ayat ini, Allah memberi peringatan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan yang seadil-adilnya. Maka itu berhati-hatilah dan jagalah dirimu sebaik mungkin.

Isi Kandungan Kosakata

1. Marḍātī مَرْضَاتِى (al-Mumtaḥanah/60: 1)

Kata marḍātī adalah isim maṣdar yang berasal dari kata raḍiya-yarḍā yang berarti merasa rela, senang, puas, dan setuju. Raḍiyallāhu ‘anhu artinya semoga Allah meridainya dengan memberikan rahmat padanya. Raḍiya juga berarti memandang baik dan membenarkan sesuatu. Kata ini sudah menjadi bahasa Indonesia yaitu rida. Antonimnya adalah as-sakhaṭ yang berarti benci atau kemurkaan. Rida dari seorang hamba kepada Allah adalah dengan mendapatkan kepuasan terhadap ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, sedangkan rida Allah kepada hamba-Nya adalah hamba tersebut menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah akan rida jika melihat hamba-Nya taat dan patuh pada-Nya. Raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu (al-Mā’idah/5: 119) artinya Allah merasa rida dengan perbuatan-perbuatan mereka dan mereka pun merasa puas terhadap nikmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka.

Ayat ini menjelaskan larangan agar orang-orang beriman tidak menjadikan musuhnya dan musuh Allah sebagai teman akrab hanya karena rasa kasih dan sayang mereka terhadap saudara-saudaranya. Ayat ini diturunkan berkaitan dengan seorang sahabat di Medinah yang menulis surat kepada saudaranya yang kafir untuk memberitahukan perihal akan datangnya Rasulullah ke Mekah. Allah mengingatkan bahwa walaupun dalam hati seorang Mukmin ada rasa sayang terhadap saudaranya yang kafir, tetapi hal tersebut tidak menjadikannya sebagai teman setia (auliyā’). Karena orang-orang kafir sebenarnya telah berbuat ingkar kepada kebenaran yang dibawa Muhammad dengan mengusirnya beserta orang-orang beriman. Janganlah hal tersebut (menjadikan teman setia) dilakukan, jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Nya dan mencari keridaan-Nya.

2. Yaṡqafūkum يَثْقَفُوْكُمْ (al-Mumtaḥanah/60: 2)

Lafal Yaṡqafūkum adalah bentuk fi‘il muḍāri‘ (kata kerja yang menunjukkan masa kini dan masa mendatang) yang dihubungkan dengan kata ganti orang kedua (kum) yang berasal dari kata ṡaqifa-yaṡqafu yang berarti pintar dalam menangkap dan mengerjakan sesuatu. Rajul ṡaqif artinya seseorang yang pandai memahami sesuatu. Ṡaqiftu każā artinya aku mendapatkannya setelah merenungi. Ṡaqāfah artinya kebudayaan yang menunjukkan kepada kepintaran suatu kaum. Tetapi kemudian lafal ini digunakan pada idrāk (penemuan) walaupun tidak ada padanya kemahiran tersebut. Ṡaqafa disini berarti menangkap dan menemukannya. Waqtulūhum haiṡu ṡaqiftumūhum (dan bunuhlah mereka dimanapun kalian menemukannya). Aṡ-Ṡaqāf berarti besi atau kayu yang dibuat kampak atau tombak sebagai alat berperang.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang alasan jangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia yaitu bahwa perlakuan mereka tidak akan sama dengan perlakuan orang-orang beriman kepada mereka. Jika orang-orang kafir menangkap orang Mukmin, pasti mereka akan menjadikanmu sebagai musuh dan menyakitimu sampai kamu kembali ke dalam agama mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto