Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 8 - Surat Al-Munāfiqūn (Orang-Orang Munafik)
المنٰفقون
Ayat 8 / 11 •  Surat 63 / 114 •  Halaman 555 •  Quarter Hizb 56.25 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

يَقُوْلُوْنَ لَىِٕنْ رَّجَعْنَآ اِلَى الْمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْاَعَزُّ مِنْهَا الْاَذَلَّ ۗوَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ࣖ

Yaqūlūna la'ir raja‘nā ilal-madīnati layukhrijannal-a‘azzu minhal-ażall(a), wa lillāhil-‘izzatu wa lirasūlihī wa lil-mu'minīna wa lākinnal-munāfiqīna lā ya‘lamūn(a).

Mereka berkata, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (dari perang Bani Mustaliq), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana,” padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui.

Makna Surat Al-Munafiqun Ayat 8
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mereka berkata kepada sesama orang munafik, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah seusai perang Bani Mustalik, yaitu perang yang diiikuti orang-orang munafik bersama kaum muslim, pastilah orang yang kuat, yaitu orang-orang munafik akan mengusir orang-orang yang lemah, yakni kaum muslim dari sana, Madinah.” Padahal kekuatan itu hakikatnya hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan milik orang-orang mukmin, selama mereka bersatu dan memiliki mental kejuangan, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui bahwa yang lemah itu mereka dan yang kuat itu Rasulullah bersama para sahabat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa ‘Abdullāh bin Ubay dan pengikut-pengikutnya merencanakan apabila kembali ke Medinah dari peperangan Bani Muṣṭaliq, mereka akan mengusir orang-orang mukmin dari Medinah. Mereka merasa dan menganggap bahwa merekalah yang kuat, perkasa, dan mulia, sedangkan orang-orang mukmin itu lemah dan hina. Mereka tidak menyadari bahwa kekuatan, keperkasaan, dan kemuliaan berada di tangan Allah dan rasul-Nya, serta orang-orang mukmin yang telah dimuliakan-Nya.

Diriwayatkan bahwa ‘Abdullāh putra ‘Abdullāh bin Ubay adalah orang yang benar-benar beriman. Ia pernah mencabut pedang mengancam ayahnya, ‘Abdullāh bin Ubay, ketika mereka sudah dekat di Medinah dan berkata, “Demi Allah, saya tidak akan memasukkan pedangku ini ke dalam sarungnya, sehingga engkau mengucapkan, ‘Bahwa Muhammad itulah yang mulia dan sayalah yang hina’.” ‘Abdullāh putra ‘Abdullāh bin Ubay tetap pada sikapnya, sehingga ayahnya mengucapkan pengakuan tersebut yaitu Muhammadlah yang mulia dan dia yang hina.

Orang-orang munafik tidak mengetahui bahwa sesungguhnya kemuliaan itu ada pada Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Kemenangan terakhir ada pada orang-orang yang bertakwa dan Allah akan memberi pertolongan kepada orang-orang yang menegakkan agama-Nya, sebagaimana diterangkan dalam ayat lain:

كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ٢١

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (al-Mujādalah/58: 21)

Isi Kandungan Kosakata

1. Lawwaw Ru’ūsahum لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ (al-Munāfiqūn/63: 5)

Lawwaw ru’ūsahum terdiri dari dua kata, yaitu lawwaw dan ru'ūsahum. Yang pertama, lawwaw, merupakan kata kerja untuk orang ketiga dalam jumlah banyak (mereka). Sedang bentuk tunggalnya adalah lawā, yang artinya mengalihkan atau memalingkan wajah dari mitra bicara. Sebagian ulama membaca kata ini dengan lawaw, tanpa memberi syiddah pada huruf wāw, tetapi mayoritas qurrā’ (ahli bacaan Al-Qur’an) membacanya dengan syiddah, yaitu lawwaw. Bacaan seperti ini mengandung arti bahwa pengalihan wajah atau arah ketika berbicara itu terjadi berulang-ulang. Yang kedua, ru’ūsahum dari kata ru’ūs, yang merupakan bentuk jamak dari ra’s, yang artinya kepala. Dengan demikian istilah yang terdapat pada ayat ini diartikan bahwa orang-orang munafik itu akan berupaya untuk memalingkan wajah atau mengalihkannya ketika diajak bicara. Perilaku demikian menunjukkan bahwa mereka menolak ajakan Rasulullah saw.

2. Yanfaḍḍū يَنْفَضُّوْا (al-Munāfiqūn/63: 7)

Yanfaḍḍū aslinya yanfaḍḍūna, merupakan kata kerja untuk orang ketiga jamak, yang bentuk tunggalnya adalah yanfaḍḍu, artinya adalah mereka berpencar. Pada ayat ini kata tersebut diartikan sebagai keterpencaran yang bernuansa keburukan, yaitu berpencar atau berpisah dalam keadaan menderita, karena kemiskinan dan penderitaan yang mereka alami. Inilah yang diinginkan orang-orang munafik terhadap para sahabat yang taat dan loyal kepada Rasulullah saw. Ketaatan mereka telah mengusik kaum munafik, sehingga bantuan tidak akan diberikan agar mereka tetap menderita.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto