اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Inna rabbaka huwa a‘lamu biman ḍalla ‘an sabīlih(ī), wa huwa a‘lamu bil-muhtadīn(a).
Sesungguhnya Tuhanmulah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk.
Sungguh, Tuhan yang memelihara dan membimbing-mu, wahai Nabi Muhammad, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila. dan Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk serta mengamalkan dengan mantap dan istikamah petunjuk tersebut.
Pada ayat ini, Allah menegaskan lagi pernyataan-Nya pada ayat dahulu dengan mengatakan kepada Nabi Muhammad saw bahwa orang-orang musyrik itu pasti mengetahui perbuatan-perbuatan nyata yang telah dilaksanakannya. Allah dan Nabi Muhammad lebih mengetahui siapa yang menyimpang dari jalan yang benar yang telah dibentangkan untuknya sehingga mereka memperoleh kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui pula siapa yang mengikuti jalan yang benar sehingga memperoleh segala yang mereka inginkan yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, tindakan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar, karena itu mereka akan merasakan kesengsaraan di dunia, seperti kekalahan dalam peperangan dan kehancuran kepercayaan mereka dan di akhirat mereka mendapat azab yang pedih.
1. Al-Qalam الْقَلَمُ (al-Qalam/68: 1)
Al-Qalam bisa berarti pena tertentu atau alat tulis apa pun termasuk komputer. Ada yang berpendapat bahwa al-qalam bermakna pena tertentu seperti pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk manusia serta segala kejadian yang tercatat dalam Lauḥ Maḥfūz atau pena yang digunakan oleh para sahabat untuk menuliskan Al-Qur’an dan pena yang digunakan untuk menuliskan amal baik dan buruknya manusia. Namun pendapat ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pena adalah alat tulis apa pun termasuk komputer adalah pendapat yang lebih tepat karena sejalan dengan kata perintah iqra‘ (bacalah). Allah seakan bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang diperoleh dari tulisan. Hal ini mengisyaratkan anjuran untuk membaca karena banyak manfaat yang diperoleh dengan membaca dengan syarat membacanya disertai dengan bismirabbik (dengan nama Tuhanmu) dan mencapai keridaan Allah.
2. Gaira Mamnūn غَيْرَ مَمْنُوْنٍ (al-Qalam/68: 3)
Gaira mamnūn artinya tidak pernah terputus. Asal katanya al-mann, yang berarti putus atau menyebut-nyebut pemberian sehingga menyinggung perasaan orang yang diberi. Jika al-mann dimaknai dengan kata putus, maka pemberian ganjaran Allah akan berlangsung terus menerus tanpa henti. Jika al-mann dimaknai dengan makna kedua (menyebut-nyebut pemberian sehingga menyinggung perasaan orang yang diberi), maka kata ini hanya tertuju kepada Nabi, kendati sangat banyak anugerah Allah kepada beliau, tetapi tidak disebut-sebut dalam bentuk merendahkan posisi Nabi atau menyakiti hati beliau.














































