اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Iqtarabatis-sā‘atu wansyaqqal-qamar(u).
Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah.
Terdapat keterkaitan erat antara Surah an-Najm dengan Surah al-Qamar. Bila Surah an-Najm ditutup dengan ancaman terhadap orang kafir tentang hari kiamat yang makin dekat, Surah al-Qamar diawali dengan penegasan bahwa kiamat itu benar-benar telah dekat. Allah juga menunjukkan kuasa-Nya terhadap bulan. Saat kedatangan hari kiamat yang telah ditetapkan semakin dekat, bulan pun terbelah.
Allah menyatakan bahwa hari Kiamat hampir datang, pada waktu kehidupan dunia akan berakhir. Dalam ayat lain yang sama maksudnya, Allah berfirman:
اَتٰىٓ اَمْرُ اللّٰهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْ هُ
Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. (an-Naḥl/16: 1)
Allah berfirman:
اِقْتَرَ بَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ ١
Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). (al- Anbiyā'/21: 1)
Pada waktu itu bulan akan pecah bercerai-berai akibat penyimpangan dari peredarannya, sebagaimana diutarakan dalam ayat lain yang sama maksudnya:
اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ ١
Apabila langit terbelah. (al-Insyiqāq/84: 1)
Dan firman-Nya:
اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ ١ وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ ٢
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (at-Takwīr/81: 1-2)
Banyak lagi ayat lain yang menunjukkan kejadian yang sangat dahsyat yang akan terjadi ketika hancurnya alam ini dengan tibanya hari Kiamat.
Kebanyakan mufasir berpendapat bahwa kejadian tersebut pada ayat pertama telah terjadi dan bulan telah terbelah dua pada masa Nabi Muhammad saw, lima tahun sebelum beliau hijrah. Menurut hadis yang diriwayatkan al-Bukhārī, Muslim dan Ibnu Jarīr dari Anas bin Mālik bahwa penduduk Mekah meminta kepada Nabi Muhammad saw, agar mengemukakan suatu mukjizat sebagai bukti kerasulannya, maka Allah memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah dua, sehingga mereka melihat “Jabal Nur” berada di antara dua belahan bulan tersebut. Diriwayatkan pula dari Sahih al-Bukhāri, Muslim dan para perawi-perawi hadis lainnya dari Ibnu Mas‘ūd bahwa: “Bulan telah terbelah pada masa Nabi Muhammad saw, menjadi dua belah, sebelah berada di atas bukit dan yang lain berada di bawahnya, seraya Nabi Muhammad saw berseru, “Saksikanlah!”
Abū Dāwud meriwayatkan pula bahwa, “Telah terjadi pembelahan bulan pada masa Nabi Muhammad saw, maka orang-orang Quraisy berkata, “Ini adalah sihir anak Abū Kabsyah.” Lalu seorang dari mereka berkata, “Tunggulah dahulu berita yang dibawa oleh para musafir yang tiba, karena Muhammad saw tak sanggup mensihirkan semua manusia.” Lalu tibalah para musafir membawa berita kejadian tersebut. Lalu dalam riwayat Baihaqī terdapat tambahan, “Lalu mereka bertanya kepada para musafir yang berdatangan dari semua penjuru, jawaban mereka, “Sungguh kami telah melihatnya,” lalu Allah menurunkan ayat ini, “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.”
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang terbelahnya bulan. Sebagian berpendapat bahwa bulan itu memang telah terbelah pada masa Nabi sebagai bagian dari mukjizatnya. Tetapi sebagian mufasir berpendapat bulan pasti terbelah bukan terjadi pada masa nabi, tetapi akan terjadi nanti pada saat hari Kiamat. Hal ini disebabkan karena hilangnya keseimbangan daya tarik menarik antar planet.
1. Muzdajar مُزْدَجَر (al-Qamar/54: 4)
Muzdajar terambil dari kata zajara-az-zajra artinya “membentak” “menghardik” untuk mencegah terjadinya sesuatu. Muzdajar adalah tempat terjadinya hardikan sehingga terjadi pencegahan. Maksudnya adalah bahwa Allah telah menyampaikan peristiwa-peristiwa masa lalu, yaitu kehancuran sebagian umat terdahulu karena pembangkangan mereka. Peristiwa itu hendaknya dijadikan sebagai hardikan (peringatan) untuk mencegah manusia dari melakukan dosa yang sama. Dari kata itu terdapat kata az-zājirāti yaitu malaikat yang menghardik awan sehingga ia berarak dan menurunkan hujan, atau malaikat-malaikat yang membentak manusia dalam lubuk hatinya sehingga tidak jadi mengerjakan kejahatan yang ditiupkan setan. Uzdujir artinya “dibentak”, yaitu Nabi Nuh dibentak atau diancam kaumnya supaya tidak meneruskan dakwahnya kepada mereka.
2. Ḥikmatun Bāligah حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ (al-Qamar/54:5)
Ḥikmah adalah kebenaran sejati yang diperoleh melalui ilmu dan akal. Bāligah dari balaga yaitu sampai ke puncaknya. Ḥikmatun-bāligah berarti kebenaran yang sudah sampai ke puncaknya, kebenaran yang tak ada cacatnya. Maksudnya adalah ayat-ayat Al-Qur’an.














































