تَنْزِعُ النَّاسَۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ مُّنْقَعِرٍ
Tanzi‘un-nās(a), ka'annahum a‘jāzu nakhlim munqa‘ir(in).
yang membuat manusia bergelimpangan, seakan-akan mereka itu pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya.
Allah mengembuskan angin mahadahsyat yang membuat manusia durhaka itu bergelimpangan seakan-akan mereka bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya.
Pada ayat ini dinyatakan bahwa angin itu melemparkan mereka kemudian menghempaskan mereka ke bawah dengan kepala lebih dahulu karena begitu kerasnya kepala mereka terpenggal dan tubuh mereka bergelimpangan bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang berserakan karena tercabut oleh badai. Demikianlah dahsyatnya badai itu yang dapat menumbangkan tubuh mereka yang besar-besar sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَّاَثَارُوا الْاَرْضَ وَعَمَرُوْهَآ اَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوْهَا
Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. (ar-Rūm/30: 9)
1. Rīḥan Ṣarṣaran رِيْحًا صَرْصَرًا (al-Qamar/54:19)
Rīḥ ṣarṣar artinya angin yang sangat kencang, asal katanya aṣ-ṣarru, artinya kencang, kuat. Dari kata ini timbul kata al-iṣrar yang berarti tekad yang membaja dan kata ṣarṣar yang artinya sangat kencang. Dalam ayat ini Allah menghembuskan angin yang sangat kencang kepada kaum ‘Ād sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
2. Yaumi Naḥsin يَوْمِ نَحْسٍ (al-Qamar/54: 19)
Yaumi naḥsin artinya hari yang sial, berasal dari kata an-naḥsu yang berarti memerahnya ufuk, sehingga menjadi seperti api yang menyala tanpa asap. Kata ini kemudian digunakan dalam arti lawan kata dari kebahagiaan atau sial. Kata naḥs disebutkan dalam Al-Qur’an satu kali dalam bentuk tunggal (al-Qamar/54: 19) dan satu kali disebutkan dalam bentuk jama‘ (Fuṣṣilat/41: 16). Ayat ini tidak bisa dijadikan dalil untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an mengakui adanya hari sial. Kesialan pada ayat di atas khusus terjadi pada saat terjadinya angin yang bertiup terus menerus menimpa kaum ‘Ād yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Allah juga menyebutkan hari bahagia yang penuh berkah pada (ad-Dukhān /44:3) dan (al-Qadr/97:3).
3. Munqa‘ir مُنْقَعِر (al-Qamar/54 : 20)
Munqa‘ir artinya bagian yang terdalam dari satu lubang, seperti dasar sumur. Kata al-munqa‘ir dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa mereka benar-benar tewas tidak bisa bangkit lagi, seperti pohon kurma yang tumbang, tercabut mulai dari akarnya sehingga tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kata al-munqa‘ir hanya disebutkan satu kali dalam Al-Qur’an yaitu dalam ayat ini.
































