كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كُلِّهَا فَاَخَذْنٰهُمْ اَخْذَ عَزِيْزٍ مُّقْتَدِرٍ
Każżabū bi'āyātinā kullihā fa'akhażnāhum akhża ‘azīzim muqtadir(in).
Mereka mendustakan semua tanda-tanda (kebesaran) Kami. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab (Tuhan) Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.
Namun, mereka mendustakan mukjizat-mukjizat Kami semuanya yang ditunjukkan oleh Nabi Musa, maka Kami azab mereka dengan azab dari Allah Yang Mahaperkasa, lagi Mahakuasa.
Ayat-ayat ini menerangkan bahwa sungguh peringatan demi peringatan telah berkali-kali disampaikan kepada kaum Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya. Namun mereka tetap mendustakannya. Peringatan-peringatan itu adalah semua tanda-tanda kerasulan dan mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Musa sebagaimana diungkapkan dalam Surah al-A‘rāf/7: 133 dan al-Isrā'/17: 101. Karena itu Allah menurunkan azab kepada mereka. Azab datang dari Zat yang Mahakuat dan Mahakuasa, yang menunjukkan bahwa azab itu amat hebat. Berupa tenggelamnya Fir‘aun dan pengikutnya di laut merah.
Muqtadir مُقْتَدِر (al-Qamar/54: 42)
Muqtadir artinya Mahakuasa. Terambil dari kata “qāf-dāl-ra′”, yang maknanya adalah batas terakhir dari sesuatu. Sedangkan al-Qudrah jika dinisbahkan kepada manusia berarti kemampuan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan jika dinisbahkan kepada Allah, berarti menafikan kelemahan bagi Allah dan itu mustahil. Oleh sebab itu tidak ada yang boleh disifati dengan al-Qudrah. Kata muqtadir ditemukan sebanyak tiga kali dalam bentuk jama‘ dan satu kali dalam bentuk tunggal, semuanya menunjuk pada Allah swt. Konteksnya dalam ayat ini berkaitan dengan kekuasaan Allah menjatuhkan sanksi terhadap para pembangkang. Hanya satu kali muqtadir ditemukan dalam konteks orang-orang bertakwa, tetapi dalam kehidupan ukhrawi nanti, dan ditujukan kepada orang-orang yang tertindas di dunia. Al-Qādir dan al-Muqtadir adalah dua sifat Allah yang berarti Mahakuasa, tetapi kodrat dan kekuasaan yang ditunjuk oleh sifat ini lebih banyak ditujukan kepada para pembangkang sebagai ancaman atau azab kepada mereka. Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu dan dianugrahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

















































