سَيَعْلَمُوْنَ غَدًا مَّنِ الْكَذَّابُ الْاَشِرُ
Saya‘lamūna gadam manil-każżābul-asyir(u).
Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta lagi sombong itu.
Allah membantah, “Kelak, saat bukti-bukti yang menguatkan kenabiannya ditampakkan, mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya layak disebut sangat pendusta dan sombong itu.”
Allah membantah dengan keras pandangan mereka dengan menyatakan bahwa dalam waktu dekat mereka akan mengetahui siapa sebenarnya yang bohong dan sombong.
1. Asyir اَشِرٌ (al-Qamar/54: 25)
Asyir artinya sombong. Ibnu Fāris mengartikannya sebagai keras kepala, suka tergesa-gesa, dan mengingkari kenikmatan. Sedangkan menurut al-Aṣfahānī, asyir bermakna lebih dari hanya sekadar mengingkari nikmat Allah. Ayat ini menggambarkan sikap Kaum Ṡamūd yang menolak mengikuti risalah Nabi Saleh, karena menganggap Nabi Saleh tidak memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan dengan mereka bahkan mereka menganggap Nabi Saleh itu sombong.
2. Al-Muḥtaẓir الْمُحْتَظِر (al-Qamar/54: 31)
Al-Muḥtaẓir artinya kandang ternak. Berasal dari kata al-ḥaẓru, artinya mencegah dan melarang. Wal-ḥiẓar artinya kandang ternak, sedangkan al-muḥtaẓir adalah orang yang bekerja di kandang ternak atau pemilik kandang ternak itu sendiri. Ayat ini menjelaskan bagaimana azab Allah berupa suara yang dahsyat yang menggelegar dan menghantam kaum Ṡamūd sehingga mereka binasa bagaikan rumput kering yang dikumpulkan oleh pemilik kandang ternak.















































