وَلَقَدْ تَّرَكْنٰهَآ اٰيَةً فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
Wa laqat taraknāhā āyatan fahal mim muddakir(in).
Sungguh, Kami benar-benar telah menjadikan (kapal) itu sebagai tanda (pelajaran). Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Dan sungguh, kapal itu telah Kami awetkan dan Kami jadikan sebagai tanda dan pelajaran bagi kaum yang datang kemudian. Maka, adakah orang yang mau dan bersungguh-sungguh mengambil pelajaran dari peristiwa itu? Bila hal itu tidak menyadarkannya untuk menaati ajakan rasul,
Peristiwa bencana buat kaum Nuh dijadikan Allah sebagai pelajaran bagi manusia sepanjang masa. Sehingga mereka dapat membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan yang mendustakan terhadap rasul-rasul Allah. Bahtera tersebut mendarat di bukit “Judi.” (Nama Gunung di daerah Kurdistan)
وَقِيْلَ يٰٓاَرْضُ ابْلَعِيْ مَاۤءَكِ وَيٰسَمَاۤءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَاۤءُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ٤٤
Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, ”Binasalah orang-orang zalim.” (Hūd/11: 44)
Dalam ayat lain peristiwa itu dinyatakan:
اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاۤءُ حَمَلْنٰكُمْ فِى الْجَارِيَةِۙ ١١ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَّتَعِيَهَآ اُذُنٌ وَّاعِيَةٌ ١٢
Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal, agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (al-Ḥāqqah/69: 11-12)
Selanjutnya pada akhir ayat ini Allah bertanya, “masih adakah orang-orang yang mau mengingat dan merenungkan peristiwa itu untuk dijadikan pelajaran.” Artinya peristiwa itu perlu direnungkan dan diingat sepanjang masa untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
1. Bimā'in Munhamir بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ (al-Qamar/54: 11)
Bimā'in munhamir artinya air yang sangat deras, berasal dari kata al-hamru, artinya mencurahkan air, menuangkan air, atau mencucurkan air mata dengan sangat deras. Dari sini muncul kata inhamara, yang artinya air yang tercurah dengan deras. Dalam konteks ayat ini, Allah mengabulkan doa Nabi Nuh, untuk menghukum kaumnya yang mendustakan risalah yang disampaikannya dengan mencurahkan air yang sangat deras dari langit yang telah dibuka pintu-pintunya lebar-lebar.
2. Yassarnal-Qur'ān يَسَّرْنَا الْقُرْان (al-Qamar/54: 17)
Yassarnal-Qur'ān artinya “Kami memudahkan Al-Qur’an.” Akar kata yang terdiri dari (yā’-sīn-rā’) mengandung arti mudah, gampang. Sesuatu yang sedikit juga disebut yasīr, karena sesuatu yang sedikit mudah untuk didapatkan. Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah betul-betul memudahkan Al-Qur’an bagi mereka yang mau mengambil pelajaran. Dalam kenyataannya Al-Qur’an gampang untuk dibaca, dihapalkan, dan dipelajari. Sangat banyak anak-anak yang masih belum mengerti arti ayat-ayat Al-Qur’an, namun mereka telah bisa membacanya dengan baik dan fasih, sebagaimana pada Taman Kanak-kanak Al-Qur’an yang menjamur saat ini. Banyak juga anak-anak yang hafal Al-Qur’an dengan baik. Jumlah penghafal Al-Qur’an juga sangat banyak. Al-Qur’an juga gampang dipelajari artinya pada saat ini. Metode menerjemahkan Al-Qur’an juga sudah banyak diperkenalkan dan banyak yang mampu menerjemahkan Al-Qur’an. Semuanya menunjukkan tentang keistimewaan Al-Qur’an.














































