فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ
Fa huwa fī ‘īsyatir rāḍiyah(tin).
dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan.
maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan dan membahagiakan. Itulah surga yang penuh nikmat.
Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan tentang ganjaran bagi orang-orang yang banyak melakukan amal kebajikan, yaitu ketika amal mereka ditimbang dan timbangannya berat karena banyak mengerjakan amal-amal saleh. Ganjaran bagi orang-orang ini adalah kesenangan abadi di surga. Mereka hidup di dalamnya penuh dengan kebahagiaan, kenikmatan, dan kepuasan. Kita wajib mempercayai adanya mīzān (neraca/timbangan) yang tersebut pada ayat ini dan dalam firman-Nya:
وَنَضَع الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ
Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat. (al-Anbiyā’/21: 47)
Al-Qāri‘ah الْقَارِعَة (al-Qāri‘ah/101: 1)
Kata al-qāri‘ah terambil dari kata qara‘a-yaqra‘u-qar‘an, yang berarti mengetuk. Kata al-qāri‘ah juga diartikan sebagai suatu yang keras mengetuk sehingga memekakkan telinga. Hal ini terjadi pada awal terjadinya hari Kiamat, karena suara menggelegar yang diakibatkan oleh kehancuran alam raya sedemikian keras, sehingga bagaikan mengetuk lalu memekakkan telinga, bahkan hati dan pikiran manusia. Oleh sebab itu, nama hari Kiamat, salah satunya dinamai al-qāri‘ah dan sebagai salah satu nama surah dalam Al-Qur’an.
Kata al-qāri‘ah disebutkan 4 kali dalam Al-Qur’an dan 3 kali dari kata-kata tersebut terdapat pada Surah al-Qāri‘ah dan 1 kali dalam Surah al-Ḥāqqah ayat 4. Ada pula disebutkan dalam bentuk nakirah yaitu qāri‘ah (tanpa alif lām) disebutkan hanya 1 kali yaitu pada Surah ar-Ra‘d ayat 31.




































