تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ
Tilka āyātul-kitābil-mubīn(i).
Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.
Ini ayat-ayat Kitab Al-Qur'an yang amat mulia dan sangat tinggi kedudukannya, yang sangat jelas kebenarannya dari Allah, dan yang fungsinya menjelaskan segala macam persoalan manusia untuk mencapai kebahagiaannya.
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah ayat-ayat dari Al-Qur’an yang jelas dan mudah dipahami. Ayat-ayat itu memberikan keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama dan mengungkap kisah umat-umat terdahulu yang kebenaran beritanya tidak diketahui oleh manusia di masa itu. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan buatan Muhammad saw sebagaimana dituduhkan oleh orang-orang musyrik, karena Muhammad adalah seorang ummi yang tidak tahu menulis dan membaca. Beliau juga tidak pernah belajar kepada orang-orang pandai apalagi kepada pendeta-pendeta Ahli Kitab. Dari mana Nabi Muhammad dapat mengetahui kisah umat-umat yang hidup berabad-abad yang lalu kalau tidak dari wahyu yang telah diturunkan Allah kepadanya. Oleh karena itu, tidak dapat diragukan lagi bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hukum-hukum dan hal-hal yang berhubungan dengan agama serta kisah-kisah mengenai umat-umat dahulu kala, adalah benar-benar wahyu dari Allah.
1. ‘Alā عَلَا (al-Qaṣaṣ/28: 4)
Kata ‘alā adalah fi’il māḍī (kata kerja yang menunjukkan waktu yang lampau), yaitu ‘alā -ya’lū-’uluwwan , yang berarti meninggi. Yang dimaksud disini adalah merasa diri lebih tinggi daripada yang lain. Akan tetapi, perasaan itu bukan pada tempatnya karena ia tidak memiliki dasar bahkan bertentangan dengan tolok ukur yang benar, misalnya tolok ukur pertim-bangan akal atau agama. Seorang yang berpengaruh dalam ukuran agama dan akal lebih tinggi daripada orang yang bodoh.
Dalam ayat 4 Surah al-Qaṣaṣ disebutkan bahwa Fir‘aun berbuat sewenang-wenang di bumi karena merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lain.
2. Yastaḥyī يَسْتَحْيِ (al-Qaṣaṣ/28: 84)
Secara bahasa yastaḥyī berasal dari kata al-ḥayah yang artinya hidup. Kemudian, kata kerjanya mendapat imbuhan alif, sin, dan ta’, maka artinya menjadi membiarkan hidup. Penyebutan kata ini dengan makna khusus pada ayat ini dimaksudkan untuk memberikan isyarat bahwa kebijakan membiarkan hidup bagi para wanita Yahudi yang dilakukan oleh Fir‘aun dan pasukannya bukan karena kasih sayang mereka. Sikap mereka itu ditujukan untuk penyiksaan terhadap para wanita itu dengan menjadikannya sebagai budak dan sarana pemuas seksual.
Selain makna di atas, ada pula sebagian ulama yang memahami yastaḥyī merupakan kata yang berasal dari al-ḥayā’ yang artinya malu. Dengan arti ini, mereka ingin menunjukkan bahwa Fir‘aun dan tentaranya ingin mempermalukan para wanita Yahudi itu dengan cara pelecehan seksual, atau dengan memeriksa kemaluannya untuk diketahui apakah mereka hamil atau tidak. Namun pendapat ini sangat lemah dan dinilai tidak populer.















































