Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 16 - Surat Al-Qaṣaṣ (Kisah-Kisah)
القصص
Ayat 16 / 88 •  Surat 28 / 114 •  Halaman 387 •  Quarter Hizb 39.5 •  Juz 20 •  Manzil 5 • Makkiyah

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Qāla rabbi innī ẓalamtu nafsī fagfir lī fagafara lah(ū), innahū huwal-gafūrur-raḥīm(u).

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Dia (Allah) lalu mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Makna Surat Al-Qasas Ayat 16
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah Musa menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya, kini dia memohon ampunan dengan berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri karena melakukan sesuatu yang mengakibatkan kematian seseorang, walau sebenarnya aku tidak sengaja melakukannya, dan aku sadar telah dipedaya oleh setan, maka ampunilah aku atas kesalahanku itu.” Maka Allah mengampuni kesalahannya. Sungguh, itu disebabkan karena Allah bukan selain-Nya, Dialah Yang Maha Pengampun bagi siapa pun yang memohon ampunan-Nya, dan Maha Penyayang terhadap semua mahluk-Nya, terutama orang-orang beriman.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini dijelaskan bahwa di saat menyadari kesalahannya, Musa memohon ampun kepada Tuhan, seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak boleh dibunuh. Maka ampunilah dosaku dan janganlah Engkau siksa aku karena perbuatan yang tidak kusengaja itu.” Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, mengampuni kesalahan Musa. Dengan pengampunan itu, hati Musa menjadi tenteram dan bebas dari kebimbangan dan kesusahan memikirkan nasibnya karena melakukan perbuatan dosa. Sesungguhnya pengampunan itu adalah rahmat dan karunia Allah. Di antara karunia Allah kepada Musa disebutkan dalam firman-Nya:

وَقَتَل تَ نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا ەۗ

Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat). (Ṭāhā/20: 40)

Musa berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi dan tidak akan menjadi penolong bagi orang yang melakukan kesalahan. Apalagi pertolongan itu akan menyebabkan penganiayaan atau pembunuhan dan mencelakakan diri sendiri.

Isi Kandungan Kosakata

1. Faqaḍā ‘Alaihi فَقَضَي عَلَيْهِ (al-Qaṣaṣ/28: 15)

Kata ini terdiri dari empat unsur, yaitu fa’ sebagai konjungsi dengan arti ‘maka’, qaḍā sebagai kata kerja dengan arti ‘melakukan’ atau ‘mematikan’, ‘alā sebagai preposisi (kata depan) dengan arti ‘atas’, dan hi sebagai kata ganti dengan arti ‘nya’. Ada dua alasan kata qaḍā dengan arti mematikan dipilih pada ayat ini, dan bukan kata qatala (membunuh). Pertama, Musa memang tidak berniat untuk membunuh ketika meninju orang tersebut. Ia hanya ingin membela orang teraniaya yang meminta pertolongan kepadanya, yang ternyata berasal dari kaumnya. Kedua, Musa dikenal sebagai pemuda yang gagah dan kuat tenaganya, di samping dikenal pula sebagai orang yang tegas dan keras sikapnya. Karena kuatnya tenaga yang dimiliki, maka tinjunya juga sangat keras, dan orang yang ditinju tidak kuat menahannya, hingga akhirnya mati, walaupun Musa tidak bermaksud untuk membunuhnya.

2. Lagawiyyun Mubīn لَغَوِيٌّ مُبِيْنٌ (al-Qaṣaṣ/28: 18)

Kata ini terdiri dari tiga unsur, yaitu la sebagai kata penguat, gawiyyun sebagai kata yang disifati, dan mubīn sebagai sifat. Gawiyyun berarti sesat. Yang dimaksud di sini adalah seseorang yang melakukan tindakan yang tidak benar, tidak memakai dasar pemikiran yang tepat sebagai alasan dari perbuatannya, dan tidak mempunyai pandangan jauh ke depan tentang apa akibat dari perbuatannya. Kata ini untuk mengkritik atau mencela orang yang telah ditolong Musa. Dikatakan demikian, karena orang itu berani bertengkar dan berkelahi dengan orang yang lebih kuat darinya, yang merupakan penduduk asli Mesir, memiliki banyak teman, dan pasti akan dibela Fir‘aun. Dengan makna inilah kata sesat yang dimaksud dalam ayat ini, dan bukannya dalam arti kedurhakaan atau dosa. Sebab bila maknanya dosa, maka Musa pasti tidak akan mau menolongnya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto