خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
Khāfiḍatur rāfi‘ah(tun).
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
Peristiwa itu akan merendahkan golongan yang ingkar kepada Allah dan meninggikan golongan lain yang beriman, melaksanakan perintah Allah, dan meninggalkan larangan-Nya.
Ayat ini menjelaskan bahwa kejadian hari Kiamat akan merendahkan satu golongan dan meninggikan golongan yang lain, demikian kata Ibnu ‘Abbās. Karena kejadian yang besar pengaruhnya membawa perubahan yang besar pula. Kemudian diterangkan bahwa hari Kiamat itu menurunkan derajat golongan yang satu dan meninggikan golongan yang lain. Tatkala itu, ada gempa yang menghancurkan semua yang ada di atas, gunung-gunung dan bangunan-bangunan hancur-lebur seperti debu yang beterbangan di udara. Manusia ketika itu terbagi atas tiga golongan yaitu golongan kanan (Aṣḥābul-yamīn), golongan kiri (Aṣḥābusy-syimāl), dan golongan orang terdahulu beriman (As-sābiqūn).
1. Al-Wāqi‘ah الْوَاقِعَة (al-Wāqi‘ah/56: 1)
Kata al-wāqi‘ah terambil dari kata wāqi‘ (isim fā‘il) dari kata kerja waqa‘a-yaqa‘u, yang artinya terjadi. Dengan demikian wāqi‘ artinya yang terjadi atau peristiwa. Kata ini mendapat imbuhan al (alif lām lit-ta‘rīf) pada awalnya, yang fungsinya untuk menjadikannya sebagai sesuatu yang telah diketahui, dan tā' marbuṭah pada akhirnya yang berfungsi untuk menyatakan mengisyaratkan betapa hebat dan sempurnanya peristiwa itu. Kata al-wāqi‘ah, karenanya, mesti diartikan sebagai suatu peristiwa hebat yang sempurna. Tidak ada satu peristiwa lain yang menyamainya. Kata ini disebutkan sebagai ma‘rifah pada awal ayat (peristiwa yang diketahui), yang tentunya tidak disebut sebelumnya. Penyebutan yang demikian untuk mengisyaratkan bahwa peristiwa itu sudah sangat jelas dan pasti akan terjadinya, sehingga walaupun tidak dijelaskan peristiwa apa itu, mestinya semua manusia telah mengetahuinya, dan yakin bahwa bila telah tiba saatnya, peristiwa ini pasti akan terjadi.
2. Al-Muqarrabūn الْمُقَرَّبُوْ ن (al-Wāqi‘ah/56: 11)
Kata al-muqarrabūn berasal dari kata qaruba-yaqrubu-qurb, artinya dekat. Muqarrabūn sendiri merupakan bentuk jamak dari muqarrab, yaitu ism maf‘ūl dari qarraba-yuqarribu. Dengan demikian muqarrabūn artinya adalah orang-orang yang didekatkan. Pada ayat ini tidak dijelaskan siapa yang mendekatkan mereka dan kapan serta dimana hal itu terjadi. Tampaknya makna dan pengertiannya dari konteks ayat sudah jelas, sehingga tidak perlu disebut lagi, yaitu mereka didekatkan Allah ke sisi-Nya pada setiap saat dan tempat, baik di dunia maupun di akhirat. Hal yang sedemikian ini, karena mereka selalu beribadah dan melakukan kegiatan hanya didasari motivasi untuk mendapatkan rida Allah. Seseorang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan seluruh kewajibannya dan menyempurnakan dengan perbuatan-perbuatan sunah, baik ibadah sunah kepada Allah atau kepada sesama makhluk, akan dicintai Allah sehingga didekatkan ke sisi-Nya. Bila Allah telah mencintai seorang manusia, maka jadilah pendengaran-Nya yang dia pergunakan untuk mendengar, begitu pula penglihatan, tangan, kaki-Nya. Demikian informasi Rasulullah saw dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam al-Bukhārī.

















































