اِنَّ هٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِيْنِۚ
Inna hāżā lahuwal-ḥaqqul-yaqīn(i).
Sesungguhnya ini benar-benar merupakan hakulyakin.
95-96. Sungguh, semua yang disebutkan ini adalah suatu keyakinan yang benar. Maka, setelah kamu mengetahui dan memahami dengan benar, bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar lagi Mahaagung.
Ayat-ayat ini menerangkan, bahwa segala sesuatu yang telah diungkapkan dalam surah ini, baik yang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hari kebangkitan yang mereka dustakan maupun yang bertalian dengan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran adanya hal-hal yang akan terjadi setelah hari kebangkitan, yaitu yang berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang akan diterima oleh golongan (muqarrabīn) Aṣḥābul-yamīn dan siksaan Tuhan yang akan menimpa golongan Aṣḥābusy-syimāl, semua itu adalah berita yang meyakinkan, yang tidak mengandung sedikit pun hal-hal yang diragukan.
Berhubungan dengan itu, manusia diperintahkan oleh Allah supaya memperbanyak ibadah dan amal saleh, antara lain dengan membaca tasbih, untuk mengagungkan Allah, Tuhan Yang Mahaagung.
Dalam hubungan ayat ini terdapat hadis Nabi yang berbunyi:
وَلَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ، قَالَ اجْعَلُوْهَا فِى رُكُوْعِكُمْ، وَلَمَّا نَزَلَتْ ﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى﴾ قَالَ اجْعَلُوْهَا فِيْ سُجُوْدِكُمْ. (رواه أحمد وابو داود وابن ماجه عن عقبة بن عامر الجهني)
Tatkala turun ayat Fasabbih Bismirabbikal-‘Aẓīm, kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Jadikanlah bacaan Tasbih pada saat kamu ruku‘ (yaitu dengan membaca Subḥānarabbial-‘Aẓīm )”, dan tatkala turun ayat Sabbiḥismarabbikal A‘lā. Rasulullah bersabda, “Jadikanlah bacaan Tasbih ini ketika kamu sujud (yaitu dengan membaca Subḥanarabbial-A‘lā)” (Riwayat Aḥmad, Abū Dāwud, dan Ibnu Mājah dari ‘Uqbah bin ‘Āmir al-Juhani)
1. Al-Ḥulqūm الْحُلْقُوْم (al-Wāqi‘ah/56: 83)
Kata al-ḥulqūm artinya kerongkongan, jalan nafas di leher. Huruf qalqalah ialah huruf yang pengucapannya keluar dari kerongkongan seperti ḥā’, fā’ dan ‘ā. Pada ayat 83 Allah berfirman: falaulā iżā balagatil-ḥulqūm artinya: maka mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) yang telah sampai di kerongkongan? Gaya kalimat bertanya ini, dalam Ilmu Balāgah berarti lin-nafyi artinya untuk menafikan atau menunjukkan tidak mungkin terjadi. Jadi ayat 83 menjelaskan ketika nyawa seseorang sudah sampai di tenggorokan maka tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya, maksudnya tidak ada yang dapat menahan kematian seseorang. Pada saat seseorang sudah sampai pada kondisi atau keadaan sakratulmaut, nyawanya sudah sampai di kerongkongan, meskipun banyak saudara dan familinya duduk mengelilingi-nya, menyaksikan peristiwa sakratulmaut itu, tetapi tidak ada yang dapat menahan berpisahnya nyawa dari jasad orang tersebut, tidak ada yang dapat menghalang-halangi malaikat mencabut nyawanya.
2. Madīnīn مَدِيْنِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 86).
Kata madīnīn adalah isim maf‘ūl dari kata dāna-yadīnu-dainan yang memiliki akar makna menghutangi. Darinya diambil kata dain yang berarti hutang. Agama disebut dīn karena seseorang berkewajiban untuk menjalankan ajaran-ajarannya, sama seperti hutang yang harus dibayar. Hari Pembalasan juga disebut yaumuddīn karena pada hari itu setiap orang harus memperoleh balasan amalnya di dunia, sama seperti hutang. Kata dāna-yadīnu juga bisa berarti menundukkan dan merendahkan, dan makna ini identik dengan makna menghutangi, karena biasanya orang yang berhutang itu biasanya tunduk kepada orang yang menghutangi. Kalimat dāna asy-syai’a berarti ia memiliki sesuatu, karena memiliki itu juga identik dengan menundukkan. Kata madīnīn yang dimaksud di sini adalah terbentuk dari kata dāna-yadīnu dengan diberi balasan. Makna kebahasaan ini senada dengan makna yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, yaitu dihisab. Tafsiran serupa juga diriwayatkan dari Mujāhid, ‘Ikrimah, Ḥasan, Qatādah, aḍ-Ḍaḥḥāk, as-Suddi, dan Abu Hazrah. Bentuk kata ini juga disebut di ayat lain dengan arti yang sama, yaitu firman Allah, “Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?” (aṣ-Ṣāffāt/37: 53)
3. Farauḥun wa Raiḥān فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ (al-Wāqi‘ah/56: 86)
Kata rauḥ adalah kata jadian (isim maṣdar) dari kata rāḥa-yarūḥu-rauḥan yang memiliki akar makna berjalan di sore hari, atau berangin. Darinya diambil kata rīḥ yang berarti angin. Dan darinya diambil kata rawāḥ yang berarti pergi atau datang di sore hari, sebagaimana firman Allah, “Dan kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula).” (Saba’/34: 12) Dari kata tersebut diambil kata rauḥ yang berarti angin sepoi-sepoi, atau keadilan yang mele-gakan pengadunya, atau pertolongan, atau kegembiraan dan kesenangan. Meskipun berbeda-beda maknanya, tetapi seluruhnya memiliki satu kemiripan kondisi. Dan yang dimaksud dengan kata rauḥ di dalam ayat ini, adalah kegembiraan dan kesenangan. Makna kebahasaan ini, senada dengan beberapa riwayat tafsir. Menurut Mujāhid, kata rauḥ di sini berarti perasaan rileks. Menurut Abu Hazrah, ia berarti istirahat dari kepenatan di dunia. Menurut Sa‘īd bin Jubair dan as-Sudi, ia berarti kesenangan.
Sedangkan kata raiḥān mengikuti pola fa‘lān yang juga terambil dari kata ini. Secara harfiah, kata raiḥān berarti tumbuhan yang harum baunya, tetapi kata ini juga digunakan untuk arti penghidupan atau rezeki. Makna kebahasaan ini sama persis dengan penafsiran yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas, Mujāhid, dan Sa‘īd bin Jubair. Orang yang hidup dalam keadaan taqarrub kepada Allah, maka ia memperoleh rahmat, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kebaikan, dan rezeki yang baik. Malaikat menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka saat mati, sebagaimana diriwayatkan dari al-Barra' bahwa para malaikat berkata, “Wahai ruh yang baik di dalam jasad yang baik, engkau telah memakmurkannya. Maka, keluarlah menuju rauḥ, raiḥān, dan Tuhan yang tidak pemarah.”









































