Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 88 - Surat Al-Wāqi‘ah (Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi)
الواقعة
Ayat 88 / 96 •  Surat 56 / 114 •  Halaman 537 •  Quarter Hizb 54.5 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ

Fa ammā in kāna minal-muqarrabīn(a).

Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),

Makna Surat Al-Waqi‘ah Ayat 88
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

88-89. Adapun jika dia yang mati itu termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah karena ketaatan dan amal baiknya, maka dia pasti akan memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga yang penuh kenikmatan sebagai balasan atas semua yang telah mereka perbuat di dunia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini dijelaskan keadaan manusia setelah meninggal dunia. Mereka itu terbagi atas 3 golongan yaitu:

1. Golongan orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah (al-muqarrabīn) dengan mengerjakan berbagai macam ibadah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Mereka ini akan mendapat kemenangan dan kegembiraan serta memperoleh rezeki yang luas dan macam-macam nikmat, tempat kediaman mereka di surga, di mana mereka akan menikmati di dalamnya segala sesuatu yang belum pernah dipandang oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas di hati.

2. Golongan kanan yakni (al-Abrār atau Aṣḥābul-yamīn) yang akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya. Mereka itu akan disambut dengan gembira oleh para malaikat sambil menyampaikan salam dari teman-teman mereka dari kalangan Aṣḥābul-yamīn.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَة ُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠ نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُ مْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ ۚوَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ ٣١ نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ ࣖ ٣٢

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemu-dian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Fuṣṣilat/41: 30-32).

3. Golongan orang-orang kafir (Aṣḥābusy-syimāl) ialah yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, sehingga mereka tersesat dari jalan yang lurus dan akan menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya. Mereka akan ditempatkan dalam api neraka yang berkobar-kobar nyalanya, diberi minum air yang sangat panas, dan makan buah zaqqūm sehingga menghancurkan isi perut dan seluruh kulit badan mereka.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Ḥulqūm الْحُلْقُوْم (al-Wāqi‘ah/56: 83)

Kata al-ḥulqūm artinya kerongkongan, jalan nafas di leher. Huruf qalqalah ialah huruf yang pengucapannya keluar dari kerongkongan seperti ḥā’, fā’ dan ‘ā. Pada ayat 83 Allah berfirman: falaulā iżā balagatil-ḥulqūm artinya: maka mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) yang telah sampai di kerongkongan? Gaya kalimat bertanya ini, dalam Ilmu Balāgah berarti lin-nafyi artinya untuk menafikan atau menunjukkan tidak mungkin terjadi. Jadi ayat 83 menjelaskan ketika nyawa seseorang sudah sampai di tenggorokan maka tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya, maksudnya tidak ada yang dapat menahan kematian seseorang. Pada saat seseorang sudah sampai pada kondisi atau keadaan sakratulmaut, nyawanya sudah sampai di kerongkongan, meskipun banyak saudara dan familinya duduk mengelilingi-nya, menyaksikan peristiwa sakratulmaut itu, tetapi tidak ada yang dapat menahan berpisahnya nyawa dari jasad orang tersebut, tidak ada yang dapat menghalang-halangi malaikat mencabut nyawanya.

2. Madīnīn مَدِيْنِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 86).

Kata madīnīn adalah isim maf‘ūl dari kata dāna-yadīnu-dainan yang memiliki akar makna menghutangi. Darinya diambil kata dain yang berarti hutang. Agama disebut dīn karena seseorang berkewajiban untuk menjalankan ajaran-ajarannya, sama seperti hutang yang harus dibayar. Hari Pembalasan juga disebut yaumuddīn karena pada hari itu setiap orang harus memperoleh balasan amalnya di dunia, sama seperti hutang. Kata dāna-yadīnu juga bisa berarti menundukkan dan merendahkan, dan makna ini identik dengan makna menghutangi, karena biasanya orang yang berhutang itu biasanya tunduk kepada orang yang menghutangi. Kalimat dāna asy-syai’a berarti ia memiliki sesuatu, karena memiliki itu juga identik dengan menundukkan. Kata madīnīn yang dimaksud di sini adalah terbentuk dari kata dāna-yadīnu dengan diberi balasan. Makna kebahasaan ini senada dengan makna yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, yaitu dihisab. Tafsiran serupa juga diriwayatkan dari Mujāhid, ‘Ikrimah, Ḥasan, Qatādah, aḍ-Ḍaḥḥāk, as-Suddi, dan Abu Hazrah. Bentuk kata ini juga disebut di ayat lain dengan arti yang sama, yaitu firman Allah, “Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?” (aṣ-Ṣāffāt/37: 53)

3. Farauḥun wa Raiḥān فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ (al-Wāqi‘ah/56: 86)

Kata rauḥ adalah kata jadian (isim maṣdar) dari kata rāḥa-yarūḥu-rauḥan yang memiliki akar makna berjalan di sore hari, atau berangin. Darinya diambil kata rīḥ yang berarti angin. Dan darinya diambil kata rawāḥ yang berarti pergi atau datang di sore hari, sebagaimana firman Allah, “Dan kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula).” (Saba’/34: 12) Dari kata tersebut diambil kata rauḥ yang berarti angin sepoi-sepoi, atau keadilan yang mele-gakan pengadunya, atau pertolongan, atau kegembiraan dan kesenangan. Meskipun berbeda-beda maknanya, tetapi seluruhnya memiliki satu kemiripan kondisi. Dan yang dimaksud dengan kata rauḥ di dalam ayat ini, adalah kegembiraan dan kesenangan. Makna kebahasaan ini, senada dengan beberapa riwayat tafsir. Menurut Mujāhid, kata rauḥ di sini berarti perasaan rileks. Menurut Abu Hazrah, ia berarti istirahat dari kepenatan di dunia. Menurut Sa‘īd bin Jubair dan as-Sudi, ia berarti kesenangan.

Sedangkan kata raiḥān mengikuti pola fa‘lān yang juga terambil dari kata ini. Secara harfiah, kata raiḥān berarti tumbuhan yang harum baunya, tetapi kata ini juga digunakan untuk arti penghidupan atau rezeki. Makna kebahasaan ini sama persis dengan penafsiran yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas, Mujāhid, dan Sa‘īd bin Jubair. Orang yang hidup dalam keadaan taqarrub kepada Allah, maka ia memperoleh rahmat, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kebaikan, dan rezeki yang baik. Malaikat menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka saat mati, sebagaimana diriwayatkan dari al-Barra' bahwa para malaikat berkata, “Wahai ruh yang baik di dalam jasad yang baik, engkau telah memakmurkannya. Maka, keluarlah menuju rauḥ, raiḥān, dan Tuhan yang tidak pemarah.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto