Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 63 - Surat Al-Wāqi‘ah (Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi)
الواقعة
Ayat 63 / 96 •  Surat 56 / 114 •  Halaman 536 •  Quarter Hizb 54.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ

Afara'aitum mā taḥruṡūn(a).

Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam?

Makna Surat Al-Waqi‘ah Ayat 63
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

63-64. Maka terangkanlah kepadaku, wahai pengingkar, tentang benih yang kamu tanam di ladang. Kamukah yang menumbuhkannya hingga menjadi tanaman atau Kamikah yang menumbuhkannya hingga menjadi besar dan berbuah?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dengan cara mengemukakan pertanyaan, Allah mengungkapkan kepada manusia bahwa sebagian besar dari mereka lupa akan keagungan nikmat yang diungkapkan tersebut, walaupun mereka merasakan kelezatan nikmat-nikmat tersebut sepanjang masa.

Allah menyampaikan pertanyaan kepada manusia, untuk dipikirkan dan direnungkan mengenai berbagai tanaman yang ditanam oleh manusia, baik tanaman yang di sawah, ladang, maupun bibit pohon-pohonan yang ditanam di perkebunan. Diungkapkan bahwa bagi semua tanaman tersebut di atas, kedudukan manusia hanya sekadar sebagai penanamnya, memupuk dan meme-liharanya dari berbagai gangguan yang membawa kerugian. Tetapi kebanyakan manusia lupa terhadap siapakah yang menumbuhkan tanaman tersebut. Siapakah yang menambah panjang akarnya menembus ke dalam tanah, sehingga pohon tersebut dapat berdiri tegak? Siapakah yang menumbuhkan daun dan dahannya? Siapa pula yang menumbuhkan bunga dan buahnya?

Pertanyaan-pertany aan yang dikumpulkan dalam ayat ini adalah soal-soal penting yang sering diabaikan oleh manusia. Bukankah manusia sekedar mencangkul dan menggemburkan tanahnya? Bukankah manusia sekedar menanamkan bibit yang telah dipilihnya sebagai bibit yang terbaik? Dan bukan-kah manusia sekedar menyiram, mengairinya, dan membersihkannya dari berbagai rumput dan hama yang mengganggu pertumbuhannya dan bukankah manusia sekedar memupuknya?

Tetapi yang terang dan jelas serta tidak ragu-ragu lagi adalah bahwa Allah menumbuhkan tanaman tersebut, menumbuhkan tunas membesarkan pohon-pohonnya, menambah dahan dan ranting serta memekarkan bunga sampai menjadi buah yang bisa dinikmati manusia.

Isi Kandungan Kosakata

1. Tafakkahūn تَفَكَّهُوْنَ (al-Wāqi‘ah/56:65)

Tafak kahūn berasal dari fi‘il tafakkahā-yatafakkahu-tafak kuhan yang mempunyai banyak arti, antara lain yaitu: makan buah-buahan, merasa lezat, nikmat, takjub dan sangat heran. Pada ayat 65 tafakkahūn arti sangat tercengang dan terheran-heran dalam arti negatif, karena tanaman yang semula kelihatan sangat baik pertumbuhannya dan memberikan harapan keuntungan yang berlimpah, tetapi jika Allah menghendaki dapat saja berubah dengan tiba-tiba menjadi kering terserang bermacam hama dan penyakit, sehingga menjadi kurus, hampa atau tidak berubah sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah Mahakuasa untuk menghidupkan dan mematikan, menumbuhkan dan menghentikan pertumbuhan semua tanaman. Meskipun manusia yang menanam tumbuh-tumbuhan tetapi Allah yang menumbuhkannya. Jika Allah menghendaki tanam-tanaman itu dapat tumbuh subur, tetapi dapat pula mati tiba-tiba.

2. Al-Munsyi'ūn الْمُنْشِئُوْن َ (al-Wāqi‘ah/56:72)

Al-Mu nsyi'ūn orang-orang yang mengadakan. Berasal dari fi‘il ansya'a- yansyi'u -insyā'an artinya: mengadakan, menjadikan, menciptakan. Pada ayat 72 Allah berfirman a'antum ansya'tum syajaratahā am naḥnul munsyi'ūn artinya: apakah kamu yang menjadikan kayu pada pembuatan api itu ataukah Kami yang menjadikannya. Kata dalam bentuk jamak ini mengandung arti lit-ta‘ẓīm, yaitu untuk menunjukkan kebesaran atau keagungan Allah, juga mengandung arti dalam proses terjadinya kayu dan api itu melibatkan beberapa pihak seperti tanah, air, sinar matahari, angin dan lain-lain. Hal ini tidak berarti bahwa Allah sendiri tidak dapat menciptakan kayu dan api itu, Allah Mahakuasa tetapi Allah juga Maha Bijaksana, maka Allah memberikan contoh pendidikan dalam proses pembuatan segala sesuatu perlu waktu dan perlu melibatkan pihak-pihak lain. Bentuk pertanyaan dalam ayat ini dalam Ilmu Balāgah menunjukkan lit-takhyīr artinya untuk memberikan dan menentukan pilihan, atau lit-taḥqīr artinya untuk menghinakannya.

3. Lilmuqw n لِلْمُقْوِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 73)

Lilmuqwīn artinya bagi para musafir. Berasal dari fi‘il aqwā-yuqwī-iqwāa’ yang mempunyai banyak arti, antara lain yaitu menjadi miskin, habis bekal, tidak berpenghuni, berhenti di tempat yang gersang dan tidak berpenghuni, sangat lapar, dan mempunyai bintang yang kuat. Bentuk isim fā‘il dari fi‘il ini ialah taqwī dan jamaknya dengan membuang huruf yā' karena dua sukun bertemu al-iltiqāu'ssakinain sehingga menjadi muqwīn artinya beberapa musafir. Pada ayat 73 Allah berfirman: naḥnu ja‘alnāhā tażkirah wa matā‘an lilmuqwīn artinya: Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi para musafir. Terutama para musafir di padang pasir, atau di tempat-tempat yang jauh dari penduduk, di tempat yang sepi tidak berpenghuni, para musafir ini sangat memerlukan api, baik untuk penerangan di malam hari, untuk menghangatkan badan, maupun untuk memasak dan memanaskan makanan mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto