وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ
Wa ḥūrun ‘īn(un).
Ada bidadari yang bermata indah
Orang-orang yang beriman itu mendapat karunia dan nikmat saat di surga, dan di sekeliling mereka ada bidadari-bidadari yang cantik jelita dan bermata jeli.
Ayat ini mengungkapkan, di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik. Bidadari bagaikan mutiara yang belum tersentuh tangan dan bersih dari debu sangat cantik dan memesona. Pada umumnya para mufasir menafsirkan ayat ini bahwa yang dimaksud dengan ḥawariyyūn adalah perempuan yang putih, matanya sangat jelas warna putih dan hitamnya. Firman Allah:
حُوْرٌ مَّقْصُوْرٰتٌ فِى الْخِيَامِۚ ٧٢ فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ ٧٣ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ ٧٤
Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin sebelumnya. (ar-Raḥmān/55: 72-74)
Firman Allah dalam ayat lain:
مُتَّكِـِٕيْن َ عَلٰى سُرُرٍ مَّصْفُوْفَةٍۚ وَزَوَّجْنٰهُم ْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ ٢٠
Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. (aṭ-Ṭur/52: 20)
Ṡullatun ثُلَّةٌ (al-Wāqi‘ah/56: 13)
Kata ṡullatun diartikan sebagai sekelompok orang, baik yang jumlahnya banyak atau sedikit. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kata ini untuk menunjuk kelompok manusia dalam jumlah banyak. Pada ayat ini, kata tersebut digunakan untuk mengisyaratkan bahwa yang akan masuk surga di akhirat kelak adalah kelompok dalam jumlah banyak, yaitu umat terdahulu yang bersama nabi mereka masing-masing. Selain itu, pada ayat berikutnya, ada pula kelompok kecil yang datang kemudian, yaitu umat Nabi Muhammad.












































