وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ
Wa innahū laqasamul lau ta‘lamūna ‘aẓīm(un).
Sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang sangat besar seandainya kamu mengetahui.
75-76. Usai menjelaskan tanda-tanda kekuasan-Nya, Allah beralih menguraikan kemuliaan Al-Qur’an. Kemudian Aku bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Ku, yaitu tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya, bila manusia mau memikirkan betapa teraturnya bintang-bintang yang beredar pada posisinya itu, mereka akan tahu bahwa sumpah ini benar-benar sumpah yang besar, kalau kamu mengetahui.”
Sebagian ahli tafsir menjelaskan ayat ini, bahwa Allah bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an guna menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut.
Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauḥ Maḥfūẓ ke langit paling dekat pada malam Lailatul Qadar (malam yang sangat mulia). Kemudian, diturunkan lagi secara berangsur-angsur menurut keperluannya dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw hingga selesai seluruhnya dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an tersebut mengandung arti penting, kebijaksanaan turunnya sebagian-sebagian yaitu tiap surah atau tiap ayat antara lain ialah agar tiap surah atau ayat itu dapat dimengerti secara lebih luas dan lebih mendalam.
Allah menegaskan bahwa sumpah dalam bagian-bagian Al-Qur’an tersebut sangat besar artinya, karena hal itu mengandung isyarat terhadap agungnya kekuasaan Allah dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya dan tidak menyia-nyiakan hamba-Nya.
Dalam ayat 75, Allah bersumpah untuk meyakinkan terhadap hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang menggambarkan kemahakuasaan-Nya terhadap alam jagat raya ini, yakni suatu “tempat beredarnya bintang-bintang.”
Andaika n ketika manusia mampu melihat, bagaimana teraturnya bintang-bintang yang selalu bergerak pada orbitnya masing-masing dengan aman dan serasi, tentulah mereka akan berpendapat lain.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, barulah diketahui betapa banyaknya kumpulan bintang-bintang di angkasa raya yang tidak terhitung jumlahnya. Para pakar astrofisika dan astronomi menjelaskan bahwa mata telanjang tidak akan mungkin mampu melihat isi jagat yang luas tidak berbatas.
Sistem Tata Surya yang terdiri dari jutaan bintang bahkan mungkin lebih (termasuk di dalamnya bumi kita ini) hanyalah menjadi bagian kecil dari Galaksi Bima Sakti yang memuat lebih dari 100 milyar bintang. Bima Sakti pun itu hanyalah satu dari 500 milyar lebih galaksi dalam jagat raya yang diketahui, subḥānallah!
Semua bintang-bintang itu beredar pada orbitnya, termasuk matahari kita. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
وَالشَّمْس ُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ ٣٨
Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui. (Yāsīn/36: 38)
Berdasarkan pengamatan para pakar, matahari bergerak dalam kecepatan yang tinggi kira-kira 720, 000 km per jam mengarah ke bintang Vega dalam satu orbit tertentu dalam sistem Solar Apex. Bersama-sama dengan matahari, dan semua planet dan satelit yang berada dalam lingkungan sistem Tata Surya (sistem solar) juga turut bergerak pada jarak yang sama.
Semua benda-benda langit ini bergerak menempati orbit-orbit yang telah dihisab (diperhitungkan). Untuk berapa juta tahun, semuanya 'berenang' melintasi orbit masing-masing dalam keseimbangan dan susunan yang sempurna bersama-sama dengan yang lain.
Orbit-orbit dalam alam semesta juga dimiliki oleh galaksi-galaksi yang bergerak pada kecepatan yang besar dalam orbit-orbit yang telah ditetapkan. Ketika bergerak, tidak ada satupun benda-benda langit ini yang memotong orbit atau bertabrakan dengan benda langit lainnya.
Bagaimanapun, hal ini secara jelas diterangkan kepada manusia dalam Al-Qur’an yang diwahyukan ketika itu, karena Al-Qur’an sebenarnya adalah kalam dari Sang Penguasa, Yang Maha Menjaga dan Memelihara Kestabilan Alam Semesta ini.
1. Al-Muṭahharūn الْمُطَهَّرُوْ نَ (al-Wāqi‘ah/56: 79)
Al-Muṭahharūn artinya orang-orang yang disucikan. Berasal dari fi‘il ṭahhara-yuṭahhiru-taṭh īran artinya mensucikan, membersihkan. Pada ayat 79 Allah berfirman lā yamassuhū illal-muṭahharūna artinya: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali hamba-hamba yang disucikan. Hamba-hamba yang disucikan pada ayat ini dapat berarti manusia-manusia yang disucikan yaitu telah berwudu sehingga tidak dalam keadaan ḥadaṡ kecil ataupun ḥadaṡ besar, dapat pula berarti para malaikat yang suci. Jika dipergunakan arti yang pertama hal ini menunjukkan pada mushaf Al-Qur’an yang tidak boleh dipegang oleh orang yang tidak berwudu, untuk memegang Al-Qur’an harus suci dari ḥadaṡ kecil dan suci dari ḥadaṡ besar. Sedangkan jika dipergunakan arti kedua hal ini berarti Al-Qur’an di Lauḥ Maḥfūẓ yang hanya dapat disentuh oleh malaikat yang suci.
2. Mudhinūn مُدْهِنُوْنَ(al- Wāqi‘ah/56: 81)
Mudhinūn artinya orang-orang menganggap remeh. Berasal dari kata kerja atau fi‘il adhana-yudhinu-idhānan artinya meremehkan, menganggap remeh, memandang rendah, hina, tidak penting. Mudhinūn artinya orang yang menganggap remeh, dan bentuk jamaknya ialah Mudhinūna atau Mudhinīn. Pada ayat 81 Allah bertanya kepada manusia, “Apakah manusia menganggap remeh, menganggap tidak penting pada informasi atau pemberitaan dalam Al-Qur’an?” Suatu kalimat bentuk pertanyaan yang arti dan maksudnya menurut Ilmu Balāgah ialah lil inkār yaitu untuk mengingkari atau menolak pandangan tersebut. Ayat 81 ini ingin menegaskan bahwa manusia tidak dapat menganggap remeh terhadap adanya pemberitaan dan informasi yang penting dari Al-Qur’an, dari sumber yang benar karena Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha Mengetahui, dan Al-Qur’an terpelihara dari berbagai penyelewengan dan pemalsuan. Sehingga sangat tidak pantas, jika manusia masih menganggap remeh dan tidak penting informasi dari Al-Qur’an ini.

















































