فَشٰرِبُوْنَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيْمِۚ
Fasyāribūna ‘alaihi minal-ḥamīm(i).
Setelah itu, untuk penawarnya (zaqum) kamu akan meminum air yang sangat panas.
54-56. Wahai orang yang sesat, sesudah memenuhi perut dengan buah zaqqum yang sangat tidak enak itu, kamu akan meminum air yang sangat panas dan membakar lidah. Meski demikian, karena dahaga yang sangat mencekik maka kamu minum air panas itu seperti unta yang sangat haus minum. Itulah beragam hidangan menyakitkan yang Kami sediakan untuk mereka yang selalu ingkar dan berbuat maksiat, pada hari pembalasan”.
Kemudian Allah menjelaskan kepada mereka yang sesat, yang senantiasa mengerjakan dosa besar dengan mendustakan para rasul dan mengingkari hari kebangkitan dan hari pembalasan, bahwa mereka benar-benar akan memakan buah pohon zaqqum, dan karena perasaan lapar yang tak terhingga, bukan satu dua buah zaqqum yang dimakannya, melainkan mereka memakan sepenuh perutnya; dan karena perasaan haus dan dahaga yang tidak tertahankan lagi, maka mereka kembali minum air yang sangat panas bagaikan cairan timah dan tembaga yang mendidih, namun mereka tetap minum terus bagaikan minumnya unta yang sangat haus dan sangat dahaga.
1. Aṣḥābusy-Syimāl أَصْحَابُ الشِّمَال (al-Wāqi‘ah/56: 41)
Aṣḥābusy-syimāl artinya orang-orang golongan kiri. Aṣḥāb adalah bentuk jamak dari ṣāḥib pemilik atau yang memiliki Aṣḥābusy-syimāl artinya orang yang memiliki golongan kiri, atau berada pada kelompok kiri. Seperti ṣāḥibul-bait artinya pemilik rumah, dan ṣāḥibul-ḥājat orang yang mempunyai atau menyelenggarakan hajat (perhelatan). Jika aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang kelompok kanan yaitu orang-orang yang akan menjadi penghuni surga, maka aṣḥābusy-syimāl pada ayat 41 adalah orang-orang kelompok kiri yaitu yang akan menjadi penghuni neraka. Mereka akan menghadapi berbagai azab yang pedih dan menghinakan, sebagai akibat dari sikap dan perbuatan mereka di dunia yang mengingkari kebenaran agama dan melakukan banyak perbuatan dosa yang dilarang agama.
2. Samūm سَمُوْم (al-Wāqi‘ah/56: 42)
Samūm adalah bentuk ṣīgah mubālagah artinya bentuk kata sifat yang sangat berlebih-lebihan, berasal dari fi‘il samma-yasummu-samman artinya meracun, membakar, menghanguskan. Ar-rīḥu sammat artinya angin itu menghanguskan, asy-syajaru sammat artinya pohon-pohon itu terbakar. Fī samūmi pada ayat 42 berarti dalam siksaan angin yang sangat panas, angin yang membakar dan menghanguskan segala yang disentuhnya. Begitulah yang ditemui oleh orang-orang aṣḥābusy-syimāl yaitu golongan kiri, pertama-tama mereka menghadapi siksaan angin yang panas sekali dan menghanguskan tubuh orang-orang yang di dunia menolak kebenaran agama dan banyak melakukan kerusakan dan dosa yang dilarang agama. Selanjutnya berbagai siksa akan dihadapi di akhirat yang sangat pedih sebagai balasan atas perbuatan jahatnya di dunia.














































