وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ
Wa ẓillim miy yaḥmūm(in).
dan naungan asap hitam
Demikian pedih azab bagi golongan kiri itu, dan mereka selalu dalam naungan asap yang hitam dari api neraka.
Pada ayat-ayat ini Allah menyebut aṣḥābusy-syimāl, kemudian diulang kata-kata itu dalam bentuk pertanyaan dengan maksud mencela. Kemudian diterangkan azab yang akan menimpa mereka yaitu:
1. Angin panas yang bertiup dengan membawa udara yang sangat panas dan menyengat seluruh tubuh. Mereka lari mencari naungan dari asap jahanam.
2. Air yang disediakan untuk minuman mereka bukan air yang sejuk, tetapi air mendidih yang panasnya tidak terhingga.
3. Awan yang ada di atas mereka berupa gumpalan awan, dari asap api neraka yang sangat hitam yang tidak menyejukkan dan tidak menyenangkan. Hal itu sesuai dengan firman Allah:
اِنْطَلِقُ وْٓا اِلٰى مَا كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۚ ٢٩ اِنْطَلِقُوْٓا اِلٰى ظِلٍّ ذِيْ ثَلٰثِ شُعَبٍ ٣٠ لَا ظَلِيْلٍ وَّلَا يُغْنِيْ مِنَ اللّٰهَبِۗ ٣١ اِنَّهَا تَرْمِيْ بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِۚ ٣٢ كَاَنَّهٗ جِمٰلَتٌ صُفْرٌۗ ٣٣ وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِ يْنَ ٣٤
(Akan dikatakan), “Pergilah kamu mendapatkan apa (azab) yang dahulu kamu dustakan. Pergilah kamu mendapatkan naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiga cabang yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.” Sungguh, (neraka) itu menyemburkan bunga api (sebesar dan setinggi) istana, seakan-akan iring-iringan unta yang kuning. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). (al-Mursālat/77: 29-34)
Angin samum yang panas luar biasa dan awan hitam yang juga menambah suasana panas yang sangat luar biasa itulah yang menyebabkan mereka merasa haus dan dahaga yang tidak ada bandingannya dan yang sudah tidak tertahankan lagi, yang memaksa mereka untuk minum sebanyak-banyaknya walaupun air yang diminum itu adalah air yang panas dan mendidih bagaikan lumeran timah dan tembaga. Dengan demikian, semakin bertubi-tubilah penderitaan siksa dan azab yang mereka rasakan.
1. Aṣḥābusy-Syimāl أَصْحَابُ الشِّمَال (al-Wāqi‘ah/56: 41)
Aṣḥābusy-syimāl artinya orang-orang golongan kiri. Aṣḥāb adalah bentuk jamak dari ṣāḥib pemilik atau yang memiliki Aṣḥābusy-syimāl artinya orang yang memiliki golongan kiri, atau berada pada kelompok kiri. Seperti ṣāḥibul-bait artinya pemilik rumah, dan ṣāḥibul-ḥājat orang yang mempunyai atau menyelenggarakan hajat (perhelatan). Jika aṣḥābul-yamīn adalah orang-orang kelompok kanan yaitu orang-orang yang akan menjadi penghuni surga, maka aṣḥābusy-syimāl pada ayat 41 adalah orang-orang kelompok kiri yaitu yang akan menjadi penghuni neraka. Mereka akan menghadapi berbagai azab yang pedih dan menghinakan, sebagai akibat dari sikap dan perbuatan mereka di dunia yang mengingkari kebenaran agama dan melakukan banyak perbuatan dosa yang dilarang agama.
2. Samūm سَمُوْم (al-Wāqi‘ah/56: 42)
Samūm adalah bentuk ṣīgah mubālagah artinya bentuk kata sifat yang sangat berlebih-lebihan, berasal dari fi‘il samma-yasummu-samman artinya meracun, membakar, menghanguskan. Ar-rīḥu sammat artinya angin itu menghanguskan, asy-syajaru sammat artinya pohon-pohon itu terbakar. Fī samūmi pada ayat 42 berarti dalam siksaan angin yang sangat panas, angin yang membakar dan menghanguskan segala yang disentuhnya. Begitulah yang ditemui oleh orang-orang aṣḥābusy-syimāl yaitu golongan kiri, pertama-tama mereka menghadapi siksaan angin yang panas sekali dan menghanguskan tubuh orang-orang yang di dunia menolak kebenaran agama dan banyak melakukan kerusakan dan dosa yang dilarang agama. Selanjutnya berbagai siksa akan dihadapi di akhirat yang sangat pedih sebagai balasan atas perbuatan jahatnya di dunia.















































