نَحْنُ خَلَقْنٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ
Naḥnu khalaqnākum falau lā tuṣaddiqūn(a).
Kami telah menciptakanmu. Mengapa kamu tidak membenarkan (hari Kebangkitan)?
Setelah menjelaskan azab bagi orang yang mengingkari hari kebangkitan, pada ayat-ayat ini Allah menguraikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terkait kiamat tersebut. Wahai manusia, Kami Yang Mahakuasa telah menciptakan kamu, maka saat kamu mengetahui hal itu, mengapa kamu tidak membenarkan adanya penciptaan dan kebangkitan?
Dalam ayat ini, Allah menciptakan manusia dari tidak ada sama sekali. Bukankah hal tersebut suatu dalil yang tidak dapat dibantah lagi tentang kekuasaan Allah? Dan hal tersebut bukankah suatu dalil yang kuat bahwa Allah Mahakuasa untuk menghidupkan kembali manusia dari kuburnya setelah ia mati, dan hancur tulang-belulangnya?
Hal tersebut adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi tentang adanya hari Kiamat, hari kebangkitan manusia dari dalam kuburnya; dan hal tersebut adalah merupakan penolakan atas anggapan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari Kiamat, yang ucapan mereka digambarkan pada ayat lain:
اَىِٕذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْ نَ
Dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? (al-Wāqi‘ah/56: 47)
1. Tafakkahūn تَفَكَّهُوْنَ (al-Wāqi‘ah/56:65)
Tafak kahūn berasal dari fi‘il tafakkahā-yatafakkahu-tafak kuhan yang mempunyai banyak arti, antara lain yaitu: makan buah-buahan, merasa lezat, nikmat, takjub dan sangat heran. Pada ayat 65 tafakkahūn arti sangat tercengang dan terheran-heran dalam arti negatif, karena tanaman yang semula kelihatan sangat baik pertumbuhannya dan memberikan harapan keuntungan yang berlimpah, tetapi jika Allah menghendaki dapat saja berubah dengan tiba-tiba menjadi kering terserang bermacam hama dan penyakit, sehingga menjadi kurus, hampa atau tidak berubah sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah Mahakuasa untuk menghidupkan dan mematikan, menumbuhkan dan menghentikan pertumbuhan semua tanaman. Meskipun manusia yang menanam tumbuh-tumbuhan tetapi Allah yang menumbuhkannya. Jika Allah menghendaki tanam-tanaman itu dapat tumbuh subur, tetapi dapat pula mati tiba-tiba.
2. Al-Munsyi'ūn الْمُنْشِئُوْن َ (al-Wāqi‘ah/56:72)
Al-Mu nsyi'ūn orang-orang yang mengadakan. Berasal dari fi‘il ansya'a- yansyi'u -insyā'an artinya: mengadakan, menjadikan, menciptakan. Pada ayat 72 Allah berfirman a'antum ansya'tum syajaratahā am naḥnul munsyi'ūn artinya: apakah kamu yang menjadikan kayu pada pembuatan api itu ataukah Kami yang menjadikannya. Kata dalam bentuk jamak ini mengandung arti lit-ta‘ẓīm, yaitu untuk menunjukkan kebesaran atau keagungan Allah, juga mengandung arti dalam proses terjadinya kayu dan api itu melibatkan beberapa pihak seperti tanah, air, sinar matahari, angin dan lain-lain. Hal ini tidak berarti bahwa Allah sendiri tidak dapat menciptakan kayu dan api itu, Allah Mahakuasa tetapi Allah juga Maha Bijaksana, maka Allah memberikan contoh pendidikan dalam proses pembuatan segala sesuatu perlu waktu dan perlu melibatkan pihak-pihak lain. Bentuk pertanyaan dalam ayat ini dalam Ilmu Balāgah menunjukkan lit-takhyīr artinya untuk memberikan dan menentukan pilihan, atau lit-taḥqīr artinya untuk menghinakannya.
3. Lilmuqw n لِلْمُقْوِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 73)
Lilmuqwīn artinya bagi para musafir. Berasal dari fi‘il aqwā-yuqwī-iqwāa’ yang mempunyai banyak arti, antara lain yaitu menjadi miskin, habis bekal, tidak berpenghuni, berhenti di tempat yang gersang dan tidak berpenghuni, sangat lapar, dan mempunyai bintang yang kuat. Bentuk isim fā‘il dari fi‘il ini ialah taqwī dan jamaknya dengan membuang huruf yā' karena dua sukun bertemu al-iltiqāu'ssakinain sehingga menjadi muqwīn artinya beberapa musafir. Pada ayat 73 Allah berfirman: naḥnu ja‘alnāhā tażkirah wa matā‘an lilmuqwīn artinya: Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi para musafir. Terutama para musafir di padang pasir, atau di tempat-tempat yang jauh dari penduduk, di tempat yang sepi tidak berpenghuni, para musafir ini sangat memerlukan api, baik untuk penerangan di malam hari, untuk menghangatkan badan, maupun untuk memasak dan memanaskan makanan mereka.












































