Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 12 - Surat An-Naba' (Berita)
النّبأ
Ayat 12 / 40 •  Surat 78 / 114 •  Halaman 582 •  Quarter Hizb 59 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ

Wa banainā fauqakum sab‘an syidādā(n).

Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.

Makna Surat An-Naba' Ayat 12
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan bukankah Kami telah pula membangun di atas kamu tujuh langit yang kukuh, padahal tidak kau jumpai tiang-tiang yang menyangganya? Tidak kamu dapati keretakan di langit itu agar dapat menjadi atap kuat yang menanungi penghuni bumi.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ketujuh, Allah membangun di atas manusia tujuh langit yang kokoh tanpa memiliki tiang dan tunduk kepada hukum Allah.

Secara ilmiah, tujuh langit yang kokoh kemungkinan dapat diartikan dengan lapisan-lapisan atmosfer yang dekat dengan bumi ini, seperti: (1) Troposphere (Troposfer), (2) Tropopause (Tropopaus), (3) Stratosphere (Stratosfer), (4) Stratopause (Stratopaus), (5) Mesosphere (Mesosfer), (6) Mesopause (Mesopause), dan (7) Thermosphere (Termosfer). Pembagian ini berdasarkan temperatur (suhu) dari lapisan-lapisan atmosfer dan jaraknya dari permukaan bumi. Kekokohan lapisan-lapisan tersebut, dalam pengertian kokoh dalam menyelimuti bola bumi kita, karena adanya gaya gravitasi bumi. (lihat pula telaah ilmiah dalam Surah ar-Ra‘d/13:2, Juz-13). Pada telaah ilmiah Surah ar-Ra‘d/13: 2 tersebut, pembagian lapisan atmosfer sedikit berbeda dengan yang dijelaskan pada telaah ilmiah ini, di mana Ionosfer dan Eksosfer disatukan dalam Termosfer.

Namun apabila pengertian tujuh langit ini dikaitkan dengan Mi’raj Rasulullah Muhammad saw, tampak kurang tepat. Tujuh langit dalam Surah an-Naba’/78: 12 ini mungkin dapat diartikan sebagai Tujuh Dimensi Ruang-Waktu dalam Kaluza-Klein Theory (KKT). Seperti dinyatakan dalam fisika bahwa terdapat empat (4) Gaya Fundamental yang ada di jagad raya ini, yaitu Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Lemah, Gaya Nuklir Kuat, dan Gaya Gravitasi. Jika keempat gaya ini terbentuk dari Ledakan Besar (Big Bang) dari suatu Singularity, maka mestinya keempat gaya ini dahulunya ‘menyatu’ sebagai Satu Gaya Tunggal (Grand Unified Force), ini yang dikenal dalam Grand Unified Theory (GUT, Teori Ketersatuan Agung?). KKT menjelaskan bahwa untuk dapat menerangkan ketersatuan gaya-gaya yang empat itu, maka adanya geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini tidaklah cukup. Geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini hanya mampu menjelaskan sedikit tentang gaya-gaya Elektromagnetik dan dalam beberapa hal Gaya Gravitasi. Untuk bisa menjelaskan keempat gaya tersebut, maka KKT menyatakan harus ada tujuh dimensi ruang-waktu (time-space dimensions) yang lain. Dengan demikian bersama empat dimensi yang sudah dikenal, yaitu: garis, bidang, ruang dan waktu; maka total dimensi ada sebelas (11) dimensi. Pernyataan ini berbasiskan pada perhitungan Matematika-Fisika. Berbasiskan pada KKT ini, para saintis telah mampu pula menghitung ‘garis tengah’ salah satu dimensi ruang-waktu itu, yaitu sebesar 10-32 cm, jadi dimensi itu sangat kecil sekali. Dengan demikian, tidaklah mungkin dengan instrument yang ada sekarang ini kita dapat menembus tujuh dimensi ruang-waktu yang lain itu. Kaluza-Klein Theory telah memberikan gambaran adanya Tujuh Dimensi Ruang-Waktu, yang kesemuanya ini akan mengokohkan geometri jagad-raya dengan empat gaya-gaya fundamentalnya. Mungkinkah tujuh langit yang kokoh tersebut adalah tujuh dimensi ruang-waktu menurut Kaluza-Klein Theory? Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Isi Kandungan Kosakata

1. Mihādan مِهَادًا (an-Naba’/78: 6)

Mihād artinya hamparan. Terambil dari kata mahhada yang artinya “menghamparkan dan menyelaraskan” tempat untuk dijadikan tempat istirahat atau kediaman. Makna kata itu sama dengan firāsy (hamparan), sebagaimana dinyatakan dalam Surah aż-Żāriyāt/51: 48 di mana makna kedua kata itu tumpang-tindih: Wal-arḍa farasynāhā fani‘mal-māhidūn. (Dan bumi Kami hamparkan; maka (Kami) sebaik-baik yang telah menghamparkan.)

Bumi ini dijadikan Allah sebagai hamparan maksudnya adalah layak huni karena datar dan tersedia dengan sumber-sumber kehidupan. Dari kata dasar itu terbentuk kata al-mahd yaitu “buaian”, karena buaian adalah tempat bayi istirahat atau tidur. Juga ada kata tamhīd yang maknanya melapangkan (menyediakan) segalanya selapang-lapangnya. “Pengantar” dalam sebuah buku juga disebut tamhīd karena “pengantar” itu menyediakan segala informasi untuk sampai kepada isi buku.

2. Subātan سُبَاتًا (an-Naba’/78: 9)

Subātan artinya tenang. Terambil dari kata sabata yang artinya “memutus”. Tidur dikatakan tenang karena di dalam tidur hubungan dengan luar terputus. Ada pula kata as-sabt (Sabtu), karena Allah menciptakan alam ini dalam enam hari dimulai hari Ahad dan selesai hari Jumat. Dengan demikian, hari Sabtu adalah hari terputusnya pekerjaan tidak bersambung ke hari itu. Juga terdapat kata yasbitūn yang artinya berada pada hari Sabtu. Penggunaan kata ini misalnya dalam Surah al-A‘rāf/7: 163.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto