لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِۚ وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰىۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ
Lil-lażīna lā yu'minūna bil-ākhirati maṡalus-sau'(i), wa lillāhil-maṡalul-a‘lā, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).
Orang-orang yang tidak beriman pada (kehidupan) akhirat mempunyai sifat yang buruk, sedangkan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Allah menegaskan bahwa bagi orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, ada sifat, sikap, dan perbuatan yang buruk; dan Allah Yang Maha Esa dan Mahakuasa mempunyai sifat Yang Mahatinggi. Ketinggian, kesucian, dan kekuasaan-Nya tidak dapat dijangkau oleh siapa pun dari makhluk-Nya. Dan Dia Mahaperkasa atas segala sesuatu, Mahabijaksana dalam kekuasaan-Nya dengan menempatkan sesuatu sesuai hikmah yang ditetapkan-Nya.
Allah swt menjelaskan bahwa nasib buruk itu justru dimiliki oleh orang-orang kafir itu, yaitu mereka akan terhina karena dimasukkan ke dalam neraka. Sedangkan Allah akan tetap mulia, tidak memerlukan anak atau siapa pun dalam menciptakan dan mengelola alam ini. Bahkan bila semua manusia di alam ini membangkang kepada-Nya, tidak akan merusak kemuliaan dan kemahakuasaan-Nya. Bahkan manusia itu sendiri yang rugi di dunia karena tidak menikmati keuntungan yang diperoleh dari pelaksana-an nilai-nilai mulia yang diajarkan-Nya dan di akhirat masuk neraka. Itulah yang ditegaskan Allah pada penutup ayat ini, bahwa ia Mahaperkasa dalam kemahakuasaan-Nya dan Mahabijaksana dalam menjatuhkan azab bagi yang ingkar. Artinya, azab itu memang sesuatu yang pantas bagi orang-orang yang ingkar itu.
1. Yatawārā يَتَوَارَى (an-Naḥl/16: 59)
Kata yatawāra adalah fi‘il muḍāri‘ dari kata tawāra-yatawāra-tawāriyan . Terambil dari kata warat al-ibilu yang berarti unta gemuk dan tidak terlihat tulangnya akibat banyak lemak. Darinya terambil kata wāra yang berarti menguburkan, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala, “Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepada-nya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya.” (al-Mā'idah/5: 31). Kata tersebut juga berarti menutup, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala, “Pakaian untuk menutupi auratmu…” (al-A‘rāf/7: 26). Kata tawāra-yatawāra-tawāriyan yang disebutkan dalam ayat ini berarti mundur ke belakang sehingga tidak terlihat oleh banyak orang (bersembunyi).
2. Yadussuhū يَدُسُّهُ (an-Naḥl/16: 59)
Kata yadussu adalah fi’il muḍāri‘ dari kata dassa. Secara harfiah ia berarti “menyisipkan ke dalam tanah”. Sebuah ungkapan menyebutkan: الْعِرْقُ دَسَّاسٌ. Secara harfiah ungkapan ini berarti “akar itu menyisip-nyisip ke dalam tanah”, sedangkan makna ungkapan ini adalah bahwa akhlak ayah itu menurun kepada anak. Dalam ayat lain, kata ini berarti mengotori, sebagaimana dalam firman Allah, “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams/91: 10). Menurut ulama tafsir, makna kata yadussu yang disebut dalam ayat ini adalah mengubur hidup-hidup.















































