Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 5 - Surat An-Najm (Bintang)
النّجم
Ayat 5 / 62 •  Surat 53 / 114 •  Halaman 526 •  Quarter Hizb 53.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ

‘Allamahū syadīdul-quwā.

yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)

Makna Surat An-Najm Ayat 5
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Wahyu yang diterimanya diajarkan kepadanya oleh Jibril, malaikat yang sangat kuat,

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa Muhammad saw (kawan mereka itu) diajari oleh Jibril. Jibril itu sangat kuat, baik ilmunya maupun amalnya. Dalam firman Allah dijelaskan:

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ١٩ ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ ٢٠ مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ٢١

Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy, yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya. (at-Takwīr/81: 19-21)

Kemudian Muhammad saw mempelajarinya dan mengamalkannya. Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Muhammad saw itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongeng (legenda-legenda) orang-orang dahulu.

Dari sini jelas bahwa Muhammad saw itu bukan diajari oleh seorang manusia, tapi ia diajari oleh malaikat Jibril yang sangat kuat.

Isi Kandungan Kosakata

1. Żū Mirrah ذُوْ مِرَّة (an-Najm/53: 6)

Kata żū mirrah merupakan sifat dari malaikat Jibril yang sebelumnya telah disebutkan ‘allamahū syadīdul-quwā (yang telah diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat) pada ayat sebelumnya. Yang dimaksud syadīdul-quwā di situ adalah malaikat Jibril, yang selanjutnya disifati pula dengan żū mirrah yang dalam banyak kitab tafsir diberi pengertian żū quwwah (yang mempunyai kekuatan). Jibril itu memang kuat, kekuatannya ada pada dirinya. Jibril mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bukti kekuatannya antara lain, seperti diterangkan para Mufasir, ia pernah mencopot dan mengangkat tanah kawasan kaum Nabi Lut, dipanggulnya di atas sayapnya dan kemudian membalikkannya menimpa kaum Lut, dan juga meneriakkan suaranya yang sangat dahsyat kepada kaum Ṡamūd, sehingga mereka musnah, teriakan dahsyat sebagai azab kepada kaum Ṡamūd.

2. Sidratul-Munta hā سِدْرَةُ ﺍلْمُنْتَهَى (an-Najm/53: 14)

Sidratul-Muntahā merupakan terminologi yang sangat dikenal di kalangan kaum Muslimin, terutama dalam hubungan mi‘rāj (naik) Nabi Muhammad saw ke langit beberapa waktu sebelum berhijrah ke Medinah al-Munawwarah. Di tanah Arab, pohon sidrah ialah pohon yang di bawahnya digunakan oleh orang-orang untuk berteduh dan beristirahat, atau yang di bawahnya dijadikan tempat beristirahat orang banyak. Kata sidrah dicantumkan pula di tempat lain dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan pohon di Surga (al-Wāqi‘ah/ 56:28). Adapun arti kata sidrah dalam ayat ini, ar-Rāgib al-Asfahānī menerangkan, antara lain maksudnya adalah tempat di mana Nabi Muhammad saw terpilih untuk menerima karunia dan kenikmatan Tuhan yang besar. Kata sidrah yang disifati al-muntahā menunjukkan bahwa tempat itu tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia. Seperti dijelaskan oleh az-Zamakhsyarī dalam Al-Kasysyāf-nya, “Pengetahuan malaikat dan lain-lainnya berhenti di tempat ini, dan tak ada satu pun yang tahu apakah yang ada di tempat itu.” Oleh karena itu, arti yang tersimpul dalam istilah itu ialah, bahwa ilmu Nabi Muhammad saw tentang perkara ketuhanan adalah yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Menurut sebagian Mufasir, kata sidratul-muntahā mempunyai arti yang sama seperti kata ‘illiyyūn dalam Surah al-Muṭaffifīn/83:19.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto