Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat An-Najm (Bintang)
النّجم
Ayat 4 / 62 •  Surat 53 / 114 •  Halaman 526 •  Quarter Hizb 53.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

In huwa illā waḥyuy yūḥā.

Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)

Makna Surat An-Najm Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Al-Qur’an yang disampaikannya tidak lain adalah wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah menguatkan ayat sebelumnya, yakni bahwa Muhammad saw hanyalah mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, tidak ditambah-tambah dan tidak pula dikurangi menurut apa yang diwahyukan kepadanya.

‘Abdullāh bin ‘Amr bin ‘Aṣ menulis setiap apa yang ia dengar dari Rasulullah saw, karena ia mau menghafalkannya. Tapi orang-orang Quraisy melarangnya. Mereka mengatakan mengapa ia menulis setiap perkataan Muhammad saw, sedangkan Muhammad itu adalah manusia biasa yang berkata dalam keadaan marah. Maka berhentilah Abdullah bin Umar menulis. Kemudian ia mendatangi Rasulullah saw, dan memberitahukan perihalnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah saw:

اُكْتُبْ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّيْ اِلَّا الْحَقُّ. (رواه أحمد وأبوداود)

“Tulisl ah demi Zat yang menguasai diriku, tidak ada yang keluar dari perkataanku kecuali kebenaran.” (Riwayat Aḥmad dan Abū Dāwud)

Al-Ḥāfiẓ, Abu Bakar al-Bazzār menyebutkan riwayat Abu Hurairah bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:

مَا أَخْبَرْتُكُمْ اَنَّهُ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ فَهُوَ الَّذِيْ لَا شَكَّ فِيْهِ. (رواه ابن حبان والبزار)

“Sesuatu yang aku kabarkan kepadamu bahwa ia dari Allah swt, maka tidak ada keraguan padanya.” (Riwayat Ibnu Ḥibbān dan al-Bazzār)

Dari Yunus, Laiṣ, Muhammad bin Said bin Abu Said, dari Abu Hurairah mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا اَقُوْلُ إِلَّاحَقًّا. (رواه أحمد والبزار)

“Tidaklah aku berkata kecuali yang benar.” (Riwayat Aḥmad dan al-Bazzar)

Isi Kandungan Kosakata

1. Żū Mirrah ذُوْ مِرَّة (an-Najm/53: 6)

Kata żū mirrah merupakan sifat dari malaikat Jibril yang sebelumnya telah disebutkan ‘allamahū syadīdul-quwā (yang telah diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat) pada ayat sebelumnya. Yang dimaksud syadīdul-quwā di situ adalah malaikat Jibril, yang selanjutnya disifati pula dengan żū mirrah yang dalam banyak kitab tafsir diberi pengertian żū quwwah (yang mempunyai kekuatan). Jibril itu memang kuat, kekuatannya ada pada dirinya. Jibril mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bukti kekuatannya antara lain, seperti diterangkan para Mufasir, ia pernah mencopot dan mengangkat tanah kawasan kaum Nabi Lut, dipanggulnya di atas sayapnya dan kemudian membalikkannya menimpa kaum Lut, dan juga meneriakkan suaranya yang sangat dahsyat kepada kaum Ṡamūd, sehingga mereka musnah, teriakan dahsyat sebagai azab kepada kaum Ṡamūd.

2. Sidratul-Munta hā سِدْرَةُ ﺍلْمُنْتَهَى (an-Najm/53: 14)

Sidratul-Muntahā merupakan terminologi yang sangat dikenal di kalangan kaum Muslimin, terutama dalam hubungan mi‘rāj (naik) Nabi Muhammad saw ke langit beberapa waktu sebelum berhijrah ke Medinah al-Munawwarah. Di tanah Arab, pohon sidrah ialah pohon yang di bawahnya digunakan oleh orang-orang untuk berteduh dan beristirahat, atau yang di bawahnya dijadikan tempat beristirahat orang banyak. Kata sidrah dicantumkan pula di tempat lain dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan pohon di Surga (al-Wāqi‘ah/ 56:28). Adapun arti kata sidrah dalam ayat ini, ar-Rāgib al-Asfahānī menerangkan, antara lain maksudnya adalah tempat di mana Nabi Muhammad saw terpilih untuk menerima karunia dan kenikmatan Tuhan yang besar. Kata sidrah yang disifati al-muntahā menunjukkan bahwa tempat itu tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia. Seperti dijelaskan oleh az-Zamakhsyarī dalam Al-Kasysyāf-nya, “Pengetahuan malaikat dan lain-lainnya berhenti di tempat ini, dan tak ada satu pun yang tahu apakah yang ada di tempat itu.” Oleh karena itu, arti yang tersimpul dalam istilah itu ialah, bahwa ilmu Nabi Muhammad saw tentang perkara ketuhanan adalah yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Menurut sebagian Mufasir, kata sidratul-muntahā mempunyai arti yang sama seperti kata ‘illiyyūn dalam Surah al-Muṭaffifīn/83:19.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto