Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 13 - Surat An-Najm (Bintang)
النّجم
Ayat 13 / 62 •  Surat 53 / 114 •  Halaman 526 •  Quarter Hizb 53.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ

Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,

Makna Surat An-Najm Ayat 13
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sungguh, dia, yaitu Nabi Muhammad, telah melihatnya, yakni Jibril, dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain,

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Selanjutnya dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa sesungguhnya Muhammad saw pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan mi‘raj ke Sidratul Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.

Ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah seperti dalam firman Allah:

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ ٤٢

Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu). (an- Najm/53: 42)

Setiap Mukmin wajib mempercayai bahwa Sidratul Muntaha itu sebagaimana yang telah diterangkan oleh Allah dalam ayat-Nya. Tetapi ia tidak boleh menerangkan tempatnya dan sifat-sifatnya, dengan keterangan yang melebihi daripada apa yang telah diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, kecuali bila keterangan itu kita dapat dari hadis Nabi Muhammad saw yang

menerangkan kepada kita dengan jelas dan pasti, karena hal itu termasuk dalam hal yang gaib yang belum diizinkan kita untuk mengetahuinya.

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Aḥmad, Muslim, at-Tirmīzī, dan lain-lainnya bahwa Sidratul Muntaha itu ada di langit yang ketujuh.

Isi Kandungan Kosakata

1. Żū Mirrah ذُوْ مِرَّة (an-Najm/53: 6)

Kata żū mirrah merupakan sifat dari malaikat Jibril yang sebelumnya telah disebutkan ‘allamahū syadīdul-quwā (yang telah diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat) pada ayat sebelumnya. Yang dimaksud syadīdul-quwā di situ adalah malaikat Jibril, yang selanjutnya disifati pula dengan żū mirrah yang dalam banyak kitab tafsir diberi pengertian żū quwwah (yang mempunyai kekuatan). Jibril itu memang kuat, kekuatannya ada pada dirinya. Jibril mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bukti kekuatannya antara lain, seperti diterangkan para Mufasir, ia pernah mencopot dan mengangkat tanah kawasan kaum Nabi Lut, dipanggulnya di atas sayapnya dan kemudian membalikkannya menimpa kaum Lut, dan juga meneriakkan suaranya yang sangat dahsyat kepada kaum Ṡamūd, sehingga mereka musnah, teriakan dahsyat sebagai azab kepada kaum Ṡamūd.

2. Sidratul-Munta hā سِدْرَةُ ﺍلْمُنْتَهَى (an-Najm/53: 14)

Sidratul-Muntahā merupakan terminologi yang sangat dikenal di kalangan kaum Muslimin, terutama dalam hubungan mi‘rāj (naik) Nabi Muhammad saw ke langit beberapa waktu sebelum berhijrah ke Medinah al-Munawwarah. Di tanah Arab, pohon sidrah ialah pohon yang di bawahnya digunakan oleh orang-orang untuk berteduh dan beristirahat, atau yang di bawahnya dijadikan tempat beristirahat orang banyak. Kata sidrah dicantumkan pula di tempat lain dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan pohon di Surga (al-Wāqi‘ah/ 56:28). Adapun arti kata sidrah dalam ayat ini, ar-Rāgib al-Asfahānī menerangkan, antara lain maksudnya adalah tempat di mana Nabi Muhammad saw terpilih untuk menerima karunia dan kenikmatan Tuhan yang besar. Kata sidrah yang disifati al-muntahā menunjukkan bahwa tempat itu tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia. Seperti dijelaskan oleh az-Zamakhsyarī dalam Al-Kasysyāf-nya, “Pengetahuan malaikat dan lain-lainnya berhenti di tempat ini, dan tak ada satu pun yang tahu apakah yang ada di tempat itu.” Oleh karena itu, arti yang tersimpul dalam istilah itu ialah, bahwa ilmu Nabi Muhammad saw tentang perkara ketuhanan adalah yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh manusia. Menurut sebagian Mufasir, kata sidratul-muntahā mempunyai arti yang sama seperti kata ‘illiyyūn dalam Surah al-Muṭaffifīn/83:19.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto