قُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَسَلٰمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰىۗ ءٰۤاللّٰهُ خَيْرٌ اَمَّا يُشْرِكُوْنَ ۔
Qulil-ḥamdu lillāhi wa salāmun ‘alā ‘ibādihil-lażīnaṣṭafā, āllāhu khairun ammā yusyrikūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)?”
Demikianlah uraian kisah-kisah para nabi dan umatnya yang memberi tuntunan dan pelajaran yang harus disyukuri, maka katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Segala puji hanya bagi Allah dalam segala situasi dan kondisi dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya sebagai pengemban misi kerasulan.” Katakan pula kepada orang-orang musyrik, “Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau mudarat?”[]
Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya, agar mengucapkan puji-pujian yang tertera dalam ayat ini. Puji-pujian itu ialah al-ḥamdulillāh, segala puji diperuntukkan hanya untuk Allah yang telah mengutus para rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang dimenangkan-Nya atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak menyenangi kemenangan itu. Agama yang dibawa para Nabi itu adalah agama yang benar. Keselamatan dan kesejahteraan agar dilimpahkan Allah kepada para rasul yang diutus-Nya dan atas hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman. Ayat ini senada dengan ayat yang lain:
سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَۚ ١٨٠ وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْن َۚ ١٨١ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ ١٨٢
Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. (aṣ-Ṣāffāt/37: 180-182).
Ayat ini merupakan pengajaran yang baik, dan budi pekerti yang tinggi. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar orang-orang yang beriman mengakhiri segala perbuatannya, seperti bicara, menulis kitab, dan sebagainya dengan memuji Allah dan bersalawat kepada rasul.
Kemudian ayat ini menyuruh manusia berpikir dan membandingkan mana yang terbaik antara Allah dengan sesuatu yang mereka persekutukan dengan-Nya. Sekalipun menurut lahirnya ayat ini menyuruh manusia agar memperbandingkan Allah dengan berhala-berhala, tetapi maksudnya ialah bahwa dengan keterangan dan bukti yang telah dikemukakan, seandainya orang-orang kafir mau menggunakan pikirannya, tentulah mereka sampai kepada kesimpulan bahwa Allah-lah yang berhak disembah, bukan berhala-berhala yang tidak mampu berbuat sesuatu itu.
Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah membaca ayat ini, maka beliau mengucapkan:
بَلِ اللهُ خَيْرٌ وَاَبْقَى وَاَجَلُّ وَاَكْرَمُ وَأَجَلُّ وَأَعْظَمُ مِمَّا يُشْرِكُوْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ. (رواه البيهقي عن على بن الحسين)
Bahkan Allah lebih baik, lebih kekal, lebih agung, dan lebih mulia daripada apa yang mereka sekutukan. Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (Riwayat al-Baihaqī dari ‘Alī bin al-Ḥusain)
1. Syahwah min Dūni an-Nisā’ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ (an-Naml/27: 55).
Syahwah min dūni an-nisā’ berarti: nafsu birahi kepada selain perempuan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada kaum Nabi Lut, yaitu penduduk negeri Sodom, yang lebih memilih sesama jenis daripada lain jenis untuk melakukan hubungan seks. Perilaku seperti ini disebut homoseksual atau berhubungan intim sesama jenis; laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Nabi Lut dan pengikutnya yang tidak mau melakukan perbuatan itu diejek dengan sebutan unāsun yataṭahharūn (manusia yang mengaku dirinya suci). Perilaku menyimpang ini pulalah yang menyebabkan Allah menurunkan azab.
2. Al-Gābirīn اَلْغَابِرِيْن َ (an-Naml/27: 57).
Min al-gābirīn berarti: termasuk di antara orang yang tertinggal atau dibinasakan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada istri Nabi Lut yang tidak mau mengikuti seruannya. Ketika Allah menurunkan azab yang menyebabkan kebinasaan kepada kelompok homoseksual, maka Allah menyelamatkan para pengikut setia Nabi Lut. Istri Nabi Lut termasuk yang ditakdirkan oleh Allah menerima kebinasaan, karena tidak mau mengikuti ajakan suaminya.











































