وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۚ فَسَاۤءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِيْنَ ࣖ
Wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā(n), fasā'a maṭarul-munżarīn(a).
Kami hujani mereka (dengan batu). Betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.
Dan Kami hujani mereka dengan hujan batu yang membinasakan sebagai bentuk azab dari Kami, maka sangat buruklah hujan yang ditimpakan pada orang-orang yang diberi peringatan akan datangnya azab itu tetapi tidak mengindahkan.
Karena kaum Lut tetap ingkar dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, maka Allah membinasakan mereka dan menyelamatkan Lut dan orang-orang yang besertanya, kecuali istrinya. Istrinya termasuk orang-orang yang ingkar, sehingga ia tinggal bersama-sama kaumnya yang ingkar. Dia pun ikut tertimpa malapetaka yang dahsyat.
Azab Allah yang ditimpakan kepada kaum Lut itu berupa hujan batu yang berasal dari tanah liat yang keras. Keadaan mereka yang sedang terkena azab itu sangat mengerikan. Demikianlah balasan yang diterima oleh orang-orang yang durhaka.
1. Syahwah min Dūni an-Nisā’ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ (an-Naml/27: 55).
Syahwah min dūni an-nisā’ berarti: nafsu birahi kepada selain perempuan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada kaum Nabi Lut, yaitu penduduk negeri Sodom, yang lebih memilih sesama jenis daripada lain jenis untuk melakukan hubungan seks. Perilaku seperti ini disebut homoseksual atau berhubungan intim sesama jenis; laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Nabi Lut dan pengikutnya yang tidak mau melakukan perbuatan itu diejek dengan sebutan unāsun yataṭahharūn (manusia yang mengaku dirinya suci). Perilaku menyimpang ini pulalah yang menyebabkan Allah menurunkan azab.
2. Al-Gābirīn اَلْغَابِرِيْن َ (an-Naml/27: 57).
Min al-gābirīn berarti: termasuk di antara orang yang tertinggal atau dibinasakan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada istri Nabi Lut yang tidak mau mengikuti seruannya. Ketika Allah menurunkan azab yang menyebabkan kebinasaan kepada kelompok homoseksual, maka Allah menyelamatkan para pengikut setia Nabi Lut. Istri Nabi Lut termasuk yang ditakdirkan oleh Allah menerima kebinasaan, karena tidak mau mengikuti ajakan suaminya.














































