وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ وَاَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ
Wa lūṭan iż qāla liqaumihī ata'tūnal-fāḥisyata wa antum tubṣirūn(a).
(Ingatlah kisah) Lut ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji,554) padahal kamu mengetahui (kekejiannya)?
Dan ingatlah, wahai Rasul, dan ceritakan kepada kaummu kisah Nabi Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah, perilaku keji, yaitu melakukan hubungan seksual antara lelaki dengan sesama jenis padahal kamu melihatnya yaitu kekejian perbuatan maksiat itu? Mengapa kamu membiarkan hal itu terus terjadi dan kamu melakukannya?
Ayat ini menerangkan kebejatan moral kaum Lut. Oleh karena itu, Lut memperingatkan mereka dengan keras, agar mereka menghentikan perbuatannya. Perbuatan kaum Lut itu ialah:
1. Mereka melakukan perbuatan homoseksual, padahal mereka mengetahui bahwa perbuatan itu terlarang.
2. Perbuatan homoseksual itu mereka lakukan di muka umum, pada berbagai pertemuan, seakan-akan mereka menganjurkan agar orang lain melakukannya pula.
3. Bila mereka tidak dapat melakukan perbuatan itu pada seseorang dengan sukarela, mereka memaksanya. Oleh karena itu, kalau ada tamu-tamu yang singgah di negeri mereka, maka mereka berusaha agar tamu-tamu itu mau mengikuti kehendak mereka. Jika tamu-tamu itu enggan melakukannya, maka mereka akan memaksanya.
1. Syahwah min Dūni an-Nisā’ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ (an-Naml/27: 55).
Syahwah min dūni an-nisā’ berarti: nafsu birahi kepada selain perempuan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada kaum Nabi Lut, yaitu penduduk negeri Sodom, yang lebih memilih sesama jenis daripada lain jenis untuk melakukan hubungan seks. Perilaku seperti ini disebut homoseksual atau berhubungan intim sesama jenis; laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Nabi Lut dan pengikutnya yang tidak mau melakukan perbuatan itu diejek dengan sebutan unāsun yataṭahharūn (manusia yang mengaku dirinya suci). Perilaku menyimpang ini pulalah yang menyebabkan Allah menurunkan azab.
2. Al-Gābirīn اَلْغَابِرِيْن َ (an-Naml/27: 57).
Min al-gābirīn berarti: termasuk di antara orang yang tertinggal atau dibinasakan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada istri Nabi Lut yang tidak mau mengikuti seruannya. Ketika Allah menurunkan azab yang menyebabkan kebinasaan kepada kelompok homoseksual, maka Allah menyelamatkan para pengikut setia Nabi Lut. Istri Nabi Lut termasuk yang ditakdirkan oleh Allah menerima kebinasaan, karena tidak mau mengikuti ajakan suaminya.
















































