فَتِلْكَ بُيُوْتُهُمْ خَاوِيَةً ۢبِمَا ظَلَمُوْاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Fatilka buyūtuhum khāwiyatam bimā ẓalamū, inna fī żālika la'āyatal liqaumiy ya‘lamūn(a).
Itulah rumah-rumah mereka yang kosong (sebagai bukti bahwa mereka binasa) akibat kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengetahui.
Allah membinasakan mereka melalui suara yang mengguntur (Lihat: Surah Hud/11: 67), kemudian gempa yang dahsyat (Lihat: Surah al-A’raf/7: 78) yang menghancurkan. Demikian pula pada ayat ini, Allah menggambarkan kehancuran mereka. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh, luluh lantak karena kezaliman mereka, yaitu penentangan mereka terhadap ajakan Nabi Saleh untuk bertobat dan berbuat baik. Apa yang terjadi pada kaum Nabi Saleh adalah pelajaran yang sangat berguna. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui. Apa yang dikatakan oleh Allah, baik janji maupun ancaman, adalah benar adanya, pasti akan menjadi kenyataan, bukan main-main.
Ayat ini menerangkan akibat yang dialami oleh kaum Samud dan negeri mereka. Karena sambaran petir yang dahsyat itu, mereka mati di rumah-rumah mereka. Tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan diri dan merawat bangkai-bangkai mereka, karena semuanya telah mati. Bangkai-bangkai itu membusuk dan lebur bersama tanah. Bekas rumah dan negeri mereka itu dapat disaksikan oleh para musafir, sebagai dokumentasi atas kebenaran cerita Al-Qur’an tentang kaum Samud yang telah dihancurkan Allah akibat keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada Nabi Saleh yang menyeru mereka kepada agama Allah.
Dalam kisah yang diterangkan Allah pada ayat-ayat ini, yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada kaumnya, benar-benar terdapat pengajaran dan iktibar bagi manusia. Ayat ini mengingatkan sunatullah yang pasti berlaku bagi orang-orang yang mengingkari perintah-perintah Allah dan yang senantiasa mengerjakan larangan-Nya termasuk di dalamnya kaum musyrik Mekah.
1. Iṭṭayyarnā Bika اطَّيَّرْنَا بِكَ (an-Naml/27: 47).
Kata iṭṭayyarnā berasal dari taṭayyarnā. Huruf ta’ (ت) dalam proses ilal diganti dengan ṭa’ (ط), lalu ṭa’ yang pertama di-idgam-kan ke ṭa’ yang kedua. Untuk menghidupkan kalimat yang ada, ditambahkan hamzah waṣal sehingga menjadi iṭṭayyarnā. Iṭṭayyarnā bika berarti: kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu. Kata iṭṭayyarnā diambil dari kata ṭair yang artinya burung. Orang Arab Jahiliah selalu mengaitkan nasib mereka dengan burung. Jika ada burung yang terbang ke kanan, maka nasibnya akan baik, dan jika ke kiri akan buruk. Sikap seperti ini dinamakan taṭayyur atau ṭiyarah. Lalu kata ini diucapkan untuk mengungkapkan nasib buruk.
Dalam konteks ayat di atas, ucapan ini diungkapkan oleh sekelompok orang yang masih ragu mengikuti dakwah Nabi Saleh. Mereka beranggapan bahwa nasib buruk yang mereka alami karena faktor Nabi Saleh dan para pengikutnya. Itu adalah tuduhan tak berdasar dari sekelompok orang yang hendak mencari kambing hitam atas nasib buruk yang dialaminya. Oleh karenanya, Nabi Saleh lalu membantah tuduhan itu dengan mengatakan, “Nasibmu ada di sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” Ujian itu, menurut Qatādah, berupa ketaatan dan kemaksiatan.
2. Tis’ah Rahṭ تِسْعَةُ رَهْطٍ (an-Naml/27: 48).
Tis’ah rahṭ berarti sembilan orang. Bisa juga diartikan tis’ah nafar yaitu sembilan kelompok, sebagaimana dikatakan Ibnu Kasir. Kata rahṭ digunakan untuk kelompok orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh. Akan tetapi, ada juga yang mengatakan sampai 40 orang.
Dalam konteks ayat di atas, sembilan orang itu adalah para pembesar dan pemimpin kaum Samud yang melakukan kerusakan di bumi. Menurut as-Suddi, seperti diriwayatkannya dari Ibnu Malik dari Ibnu ‘Abbās, kesembilan pembesar Samud itu adalah Da’ma, Du’aim, Harma, Huraim, Dab, Ṣawab, Rayyab, Musṭi’, dan Qidar bin Salif. Mereka selalu berbuat kerusakan tanpa pernah berbuat kebaikan. Orang-orang inilah yang berusaha melakukan makar untuk membunuh Nabi Saleh. Hanya saja sebelum rencana mereka kesampaian, Allah terlebih dahulu membinasakan mereka beserta kaumnya.































