وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ ࣖ
Wa jaḥadū bihā wastaiqanathā anfusuhum ẓulmaw wa ‘uluwwā(n), fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn(a).
Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
Allah mengungkapkan jati diri mereka yang sebenarnya. Dan mereka mengingkarinya, yakni bukti-bukti kebenaran Nabi Musa, karena kezaliman dan kesombongannya dengan tidak mau mengakui bukti-bukti tersebut, padahal hati mereka meyakini kebenaran-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Mereka pasti akan terkena sanksi berat dari Allah.
Mereka mendustakan bukti-bukti tersebut dengan perkataan, sedangkan di dalam hati kecil, mereka membenarkan bahwa Musa utusan Allah. Mereka ingkar karena hati mereka dipenuhi sifat zalim dan rasa sombong, akibatnya mereka tidak mau mengikuti kebenaran. Sikap mereka yang takabur, sombong, dan tinggi hati ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
فَاسْتَ ْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا عَالِيْنَ
... Tetapi mereka angkuh dan mereka memang kaum yang sombong. (al-Mu’minūn/23: 46).
Hal ini merupakan peringatan bagi Nabi Muhammad dan umatnya. Mereka diseru untuk memperhatikan akibat yang dialami Fir‘aun dan kaumnya, yaitu binasa tenggelam di laut, sebagaimana Allah berfirman:
فَانْتَق َمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنٰهُ مْ فِى الْيَمِّ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ ١٣٦
Maka Kami hukum sebagian di antara mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan melalaikan ayat-ayat Kami. (al-A‘rāf/7: 136).
Ayat di atas juga merupakan peringatan bagi orang-orang yang mendustakan Nabi Muhammad. Mereka akan menerima akibat yang sama seperti orang-orang dahulu yang mendustakan ajaran-ajaran Allah.
Istaiqanathā إِسْتَيْقَنَتْ هَا (an-Naml/27: 14)
Kata istaiqana terambil dari kata aiqana yang kata dasarnya adalah yaqana berarti mengetahui sesuatu dengan pasti dan nyata. Kata yaqīn merupakan tingkatan tertinggi dari sifat mengetahui selain kata ma’rifah. Kata yaqīn menunjukkan kepada pengetahuan yang mendalam dan kepastian yang jelas serta mantap. Ayat ini menjelaskan tentang sikap dan keyakinan Fir‘aun bersama kaumnya ketika menyaksikan apa yang diperlihatkan Musa dengan mukjizatnya. Dalam hati kecil mereka sebetulnya terdapat “keyakinan yang kuat” bahwa apa yang dibawa oleh Musa adalah suatu kebenaran dari Allah, tetapi kesombongan dan keangkuhan sifat mereka menutupi keyakinan itu. Mereka enggan untuk mengakui kebenaran risalah Musa.

































