وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ عِلْمًاۗ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Wa laqad ātainā dāwūda wa sulaimāna ‘ilmā(n), wa qālal-ḥamdu lillāhil-lażī faḍḍalanā ‘alā kaṡīrim min ‘ibādihil-mu'minīn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami daripada kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin.”
Setelah menjelaskan kisah Nabi Musa dan Fir’aun, Allah menjelaskan kisah Nabi Daud (1085 SM-1000 SM) dan Nabi Sulaiman (1043 SM-975 SM), untuk menghibur Nabi Muhammad saw. Dan sungguh, Kami telah memberikan anugerah yang besar yaitu ilmu baik ilmu keagamaan atau keduniaan, kepada Dawud dan puteranya Sulaiman. Dan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas semua nikmat-Nya, keduanya berkata dengan kerendahan hati, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.” Keduanya, di samping menjadi nabi, suatu kedudukan tertinggi dalam martabat keagamaan, juga menjadi raja, sebuah kedudukan tertinggi dalam jabatan kemanusiaan.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman (putra Nabi Daud) ilmu pengetahuan, baik yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti kemampuan dan bakat memimpin dan mengatur bangsanya. Kedua nabi ini tidak saja memiliki pengetahuan, tetapi juga mengamalkannya dengan baik. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang dipunyai oleh masing-masing nabi itu tidak hanya berfaedah bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan umatnya di dunia dan di akhirat kelak.
Karena memperoleh nikmat yang tidak terhingga dari Allah, keduanya mensyukuri nikmat tersebut dengan mengucapkan:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيْرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba yang beriman.
Sikap bersyukur Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam menerima nikmat Allah itu merupakan sikap yang terpuji. Oleh karena itu, para ulama meng-anjurkan agar kaum Muslimin meneladani sikap tersebut. Mensyukuri nikmat berarti hamba yang menerima nikmat itu benar-benar merasakan bahwa yang diterimanya itu merupakan pernyataan kasih sayang Allah kepadanya dan merasa bahwa ia memang memerlukan nikmat Allah itu. Tanpa nikmat itu, ia tidak akan hidup dan merasakan kebahagiaan. Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّك ُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrāhīm/14: 7).
Allah mengangkat Nabi Daud sebagai seorang kepala negara dan rasul Allah. Sebagai kepala negara, Allah menganugerahkan kepada Nabi Daud segala macam ilmu yang diperlukan. Di antara keutamaan dan ilmu yang dikaruniakan itu ialah:
1. Allah menundukkan gunung dan burung kepada Daud. Gunung dan burung itu bertasbih bersama Daud pagi dan petang. Allah berfirman:
اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِ ۙ ١٨ وَالطَّيْرَمَح ْشُوْرَةً ۗ كُلٌّ لَّهٗٓ اَوَّابٌ ١٩
Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing sangat taat (kepada Allah). (Ṣād/38: 18-19).
2. Allah menganugerahkan kepada Daud pengetahuan melunakkan besi, sehingga ia dapat membuat baju besi dan keperluan lain, untuk memperkuat pemerintahan dan kerasulannya. Allah berfirman:
وَاَلَنّ َا لَهُ الْحَدِيْدَ
... dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (Sabā’/34: 10).
3. Allah telah menguatkan kerajaan Daud dan menganugerahinya hikmah dan kebijaksanaan, sehingga ia dapat menyelesaikan dengan mudah perselisihan dan perkara yang diajukan kepadanya. Allah berfirman:
وَشَدَدْ نَا مُلْكَهٗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ ٢٠
Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara. (Ṣād/38: 20).
Menurut al-Baiḍawi, yang dimaksud dengan firman Allah, “Dan Kami perkuat kerajaannya” ialah, “Kami (Allah) telah memperkuatnya dengan kekebalan, memenangkan peperangan, dan banyak mempunyai tentara.
4. Allah menurunkan kepadanya kitab Zabur, sehingga beliau termasuk salah seorang dari empat orang rasul yang diturunkan kitab kepadanya. Allah berfirman:
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيّٖنَ عَلٰى بَعْضٍ وَّاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًا
“... Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (al-Isrā’/17: 55).
5. Allah memberikan kesanggupan kepadanya memahami pembicaraan burung, sebagaimana yang diterangkan pada ayat berikut.
1. Manṭiqaṭ-Ṭair مَنْطِقُ الطَّيْرِ (an-Naml/27: 16).
Kalimat manṭiq merupakan isim ‘alat dari kata naṭaqa-yanṭiqu yang secara bahasa berarti suara-suara yang muncul melalui salah satu organ tubuh yaitu lidah, dan dapat didengar oleh telinga serta mengandung arti. Kalimat nāṭiq biasanya juga digunakan untuk manusia. Oleh karena itu, para ahli mantiq mendefinisikan manusia dengan hayawān an-nātiq (hewan yang dapat berbicara). Tetapi kata ini pun bisa digunakan untuk selain manusia melalui kiasan. Suara burung dalam ayat ini diungkapkan dengan kata mantiq, karena Nabi Sulaiman bisa memahami bahasa burung. Bagi Sulaiman, burung tersebut bersifat nāṭiq walaupun bagi yang lain suara burung bersifat ṣāmiṭ (diam). Artinya, bagi mereka yang tidak bisa memahami bahasa yang lain, dia disebut ṣāmiṭ walaupun dia bisa bicara. Sedangkan kata ṭair adalah bentuk jamak dari ṭāir yang berarti setiap sesuatu yang memiliki sayap yang membuatnya bisa terbang di udara.
2. Yuza’ūn يُوْزَعُوْنَ (an-Naml/27: 17)
Asal katanya adalah waza’a yang berarti membagi dan mencukupkannya. Kata yuza’ūn menunjukkan adanya ketertiban dan kerapian walaupun ber-jumlah banyak. Ayat ini menerangkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman, bahwa beliau memiliki pasukan dan bala tentara yang terdiri atas berbagai macam makhluk Allah seperti manusia, jin, dan binatang-binatang. Tentaranya ini walaupun bermacam-macam dan bukan seperti Sulaiman, tetapi semuanya ketika dikerahkan untuk melawan musuh-musuh Allah, mereka bersatu dan tersusun dengan rapi di bawah satu komando Nabi Sulaiman.

































