قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
Qīla lahadkhuliṣ-ṣarḥ(a), falammā ra'athu ḥasibathu lujjataw wa kasyafat ‘an sāqaihā, qāla innahū ṣarḥum mumarradum min qawārīr(a), qālat rabbi innī ẓalamtu nafsī wa aslamtu ma‘a sulaimāna lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).
Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke istana.” Ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dia menyangkanya kolam air yang besar. Dia menyingkapkan (gaun yang menutupi) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai licin (berkilap) yang terbuat dari kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Kejutan berikutnya yang ingin diperlihatkan oleh Nabi Sulaiman kepada Balqis adalah ketika Balqis diajak untuk melihat seisi istana Nabi Sulaiman yang megah dan indah, untuk memperlihatkan istana-nya yang lebih hebat dari istana Balqis di Yaman. Dikatakan kepadanya Balqis, “Masuklah ke dalam istana.” Di dalamnya ada lantai yang berlapis kaca yang sangat bening, sehingga terlihat jelas apa yang ada di bawahnya. Maka ketika Ratu Balqis melihat lantai istana itu, dia terkecoh. Dikiranya dia akan memasuki kolam air yang besar, dan oleh karena itu disingkapkannya penutup kedua betisnya agar tidak basah oleh air kolam itu. Melihat kejadian cukup menggelikan itu, Nabi Sulaiman berkata, “Sesungguhnya ini bukanlah kolam airseperti yang kaukira, tapi hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Pada akhirnya Balqis mengakui semua kehebatan Nabi Sulaiman, dan apa yang dia lihat adalah betul-betul mencerminkan kekuasaan Allah Zat yang patut disembah. Balqis lalu berkata, dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang mantap, “Ya Tuhanku, Zat yang memiliki dan mengurusiku! Sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku karena telah menyembah selain Allah yaitu matahari yang tidak mempunyai kekuatan apa pun dan tidak bisa memberi perlindungan kepada penyembahnya jika mereka berada dalam keadaan bahaya.” Sebagai puncak dari pengakuan keislamannya, Ratu Balqis berkata, “Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam Dialah pemilik, pemelihara, mengurus, alam seluruh. Dialah Tuhan Yang wajib disembah.”
Menurut satu riwayat, setelah Nabi Sulaiman mengetahui dari Allah akan kedatangan Ratu Balqis ke negerinya, maka ia memerintahkan kaumnya membuat suatu istana yang besar dan indah. Lantainya terbuat dari kaca yang mengkilap yang mudah memantulkan cahaya. Di bawah lantai kaca itu, terdapat kolam yang berisikan macam-macam ikan, dan air kolam itu seakan-akan mengalir seperti sungai.
Pada waktu kedatangan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman menerimanya di istana yang baru itu dan mempersilakannya masuk. Ratu Balqis heran dan terkejut waktu memasuki istana Sulaiman itu. Menurut penglihatannya, ada sungai yang terbentang yang harus dilaluinya untuk menemui Sulaiman. Oleh karena itu, ia menyingkapkan kainnya, sehingga tampaklah kedua betisnya. Melihat yang demikian itu Sulaiman berkata, “Apa yang kau lihat itu bukanlah air atau sungai, tetapi lantai kaca yang di bawahnya ada air mengalir.” Mendengar ucapan Sulaiman itu Ratu Balqis segera menurunkan kainnya dan mengakui dalam hati bahwa istana Sulaiman lebih besar dan lebih bagus dari istananya.
Kemudian Nabi Sulaiman mengajak Balqis agar menganut agama Islam, dan menerangkan kesesatan menyembah matahari. Seruan Sulaiman itu diterima dengan baik oleh Balqis. Ia menyesali kekafirannya selama ini karena dengan demikian berarti dia berbuat aniaya kepada dirinya sendiri. Balqis juga menyatakan bahwa dia bersedia berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Kepada-Nya dia beribadah dengan seikhlas-ikhlasnya.
1. Sulaimān سُلَيْمَان (an-Naml/27: 36)
Sulaiman telah dikaruniai berbagai macam keajaiban oleh Allah—ilmu gaib, pasukan yang terdiri dari manusia, jin, dan burung (an-Naml/27: 17), dan dapat mengerti bahasa hewan (an-Naml/27: 16, 19), dapat mencairkan tembaga (Saba’/34: 12), mengendalikan angin (al-Anbiyā’/21: 81, Ṣād/38: 36), dan setan-setan para penyelam, mungkin untuk membawakan mutiara dari dasar laut serta pekerja bangunan (al-Anbiyā’/21: 82, Ṣād/38: 37), dan bakat seninya yang tinggi mempekerjakan jin membuat gedung-gedung sesuai dengan kehendaknya, patung-patung dan bokor besar, kolam dan periuk untuk memasak (Saba’/34: 13).
Kebanyakan kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an terdapat dalam Surah an-Naml/27, di samping beberapa surah lagi (al-Baqarah/2: 102; al-An‘ām/6: 84; al-Anbiyā’/21: 78, 79, 81; an-Naml/27: 15, 16, 17, 30, 36, 44, 78, 79, 81; Saba’/34: 12; Ṣād/38: 30, 34).
Seperti halnya dengan Daud, Sulaiman mempunyai kecerdasan dan kedudukan yang sama dengan bapaknya atau hampir sama, sebagai seorang nabi dan raja. Ia telah dikaruniai Allah kearifan dan ilmu (al-Anbiyā’/21: 79), sebagai hamba yang baik, taat, dan selalu bertobat kepada-Nya (Ṣād/38: 30). Dialah yang mendapat ilmu, kenabian, dan mewarisi kerajaan dari Daud, bapaknya, di luar anak-anaknya yang lain (an-Naml/27:16). Sungguhpun begitu, di samping memohonkan ampun untuk dirinya, Sulaiman juga memohon kepada Allah agar dianugerahi kerajaan yang tak seorang pun dapat menguasai seperti itu sesudahnya (Ṣād/38: 34). Betapa tidak, Allah sudah memberikan beberapa kelebihan kepadanya dan kepada bapaknya, dan mereka pun mengakui bahwa Allah mengutamakan mereka di atas kebanyakan hamba-Nya (an-Naml/27: 15-16). Begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada Nabi Sulaiman, termasuk kemampuannya menguasai bahasa hewan yang tidak diberikan kepada yang lain.
Sulaiman di dalam Alkitab dikenal dengan Raja Salomo (Solomon). Peranannya sebagai nabi dan raja serta kearifan dan kecerdasannya sudah terlihat dan terbukti semasa ia masih dalam usia anak kecil, seperti ketika Daud dan Sulaiman menjatuhkan putusan hukum dalam peristiwa sengketa pemilik kebun dengan penggembala kambing (al-Anbiyā’/21: 78).
Malam itu ada sekelompok kambing yang mungkin lepas dari pengawas-an gembalanya, memasuki ladang orang. Kebun itu berupa tanaman anggur yang sedang berbuah. Malam itu segerombolan kambing tiba-tiba datang dan memakan habis buah anggur dan merusak kebun itu. Pemilik tanaman datang mengadu kepada Daud sang raja. Dalam keputusannya, Daud memberikan kambing-kambing itu kepada pemilik kebun, sebagai ganti rugi atas kerusakan tanaman itu.
Dalam ayat berikutnya, “Kami memberi pengertian kepada Sulaiman,” menurut Ibnu ‘Abbās, bahwa Sulaiman menawarkan keputusan yang menurut pendapatnya lebih baik dan lebih adil buat pelanggaran semacam itu. Pemilik kebun cukup menahan kambing-kambing itu selama waktu tertentu untuk dimanfaatkan—mengambil hasil susu, bulu, dan anak-anak domba kalau ada—kemudian mengembalikan ternak itu kepada pemiliknya, sementara sang gembala memanfaatkan hasil tanamannya. Cara ini dipandang lebih tepat dan adil. Dalam hal ini, Sulaiman dapat membedakan antara modal pokok dengan penghasilan. Daud pun setuju dengan keputusan anaknya kendati ia hanya anak kecil, yang tanpa segan-segan menyampaikan pendapatnya itu. Betapapun juga, Sulaiman adalah calon nabi ketika itu, yang tentu sudah mendapat bimbingan Tuhan, seperti halnya dengan Yusuf anak Yakub dulu ketika menafsirkan mimpi raja di Mesir.
Sulaiman adalah anak Daud dari ibu Batsyeba seperti disebutkan dalam Perjanjian Lama (II Samuel 12: 24). Dalam literatur gereja, Sulaiman disebutkan lahir tahun Ussher 1033 Pra Masehi. Dari anak-anak Daud yang lebih tua, hanya Sulaiman dengan segala bawaan, watak, penampilan, dan sifat-sifat pribadinya yang patut menjadi penggantinya (I Raja-raja 1). Tetapi sebelum itu, sesudah Daud berusia lanjut dan lemah, Adonia (Adonijah), anaknya yang lebih tua, mengumumkan diri sebagai raja, tetapi Daud meminta Sulaiman yang harus menggantikannya. Dalam pertarungan dua bersaudara lain ibu itu, dengan bantuan Nabi Natan, Imam Zadok dan Batsyeba ibunya, Adonia dapat dikalahkan, dan Sulaiman disuruh oleh Daud pergi ke Gihon untuk diurapi dan diumumkan sebagai raja (I Raja-raja 1: .28-53). Maka ia menggantikan ayahnya sebagai raja dalam usia muda sekali, dan berkuasa di Kanaan selama empat puluh tahun. Selama pemerintahannya itu, keadaan negeri aman dan damai—sesuai dengan namanya, yang berarti “aman” dan “damai.” Oleh karenanya, perdagangan di dalam dan hubungan dengan luar negeri pun mencapai kemajuan yang luar biasa.
Dalam sejarah Bani Israil, kerajaan Sulaiman inilah yang memberi kekayaan terbesar dan kerajaannya pun menjadi yang terkaya. Raja Sulaiman juga adalah seorang arsitek bangunan yang besar, dan karena itu pula, dalam program pembangunannya yang luas dan telah mencapai puncaknya, ia membangun kuil yang pertama di Yerusalem, yang juga dikenal dengan nama Kuil Sulaiman, atau Haikal Sulaiman.
Sulaiman berkuasa dari Sungai Furat (Efrat) sampai Palestina dan perbatasan Mesir, dan ia dipandang sebagai raja Israel terbesar yang pernah ada (I Raja-Raja 4: 21-34), kendati ada juga yang menyebutkan, bahwa kerajaan Daud dan Sulaiman tidak lebih dari Teluk Ailah (Elat), Palestina, Yordania, Suria dan Libanon sampai di Furat saja. Bahkan Ratu Saba’ (Bibel, Syeba, Sheba) di Yaman, mengakui kekuasaannya, yang di dalam al-Qur’an dilukiskan begitu indah dan penuh tamsil (an-Naml/27: 22-44; Ṣād/38: 15-21).
Kisahnya berawal dari ketika suatu hari Sulaiman memeriksa burung-burung, tetapi ia tidak melihat burung hud-hud. Kalau dia menghilang tanpa alasan yang jelas, Sulaiman mengancam burung itu akan dijatuhi hukuman berat atau akan dibunuh. Tetapi tak lama kemudian ia datang dan melaporkan bahwa dia baru kembali dari kota Saba’ di Yaman, sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang ratu, dengan singgasana yang sangat megah. Dia dan rakyatnya menyembah matahari.
Sulaiman ingin menguji, laporannya itu benar atau bohong. Ia menulis surat kepada ratu itu dan dibawa oleh hud-hud, supaya dilayangkan kepada sang ratu, dan tinggalkan. Surat itu berisi: “Dari Sulaiman, Bismillāhir-Raḥmānir-Ra īm.” Sulaiman meminta agar Ratu Saba’ jangan menyom-bongkan diri dan datang menyerahkan diri kepadanya. Ratu lalu berunding dengan stafnya yang sebagian mau bertahan, karena merasa kerajaannya lebih kuat dan beranggapan bahwa kekuatan itu sanggup menghadapi siapa saja. Akan tetapi, Ratu yang arif melihat lebih baik ia dan staf kerajaannya datang sendiri menghadap Sulaiman. Sebelumnya, ia mengirim berbagai hadiah, tetapi Sulaiman menolaknya dan mengancam akan mendatangi kerajaan itu dengan kekuatan pasukan yang besar.
Sebelum kedatangan Ratu Saba’, Sulaiman meminta kepada yang hadir, siapakah di antara mereka yang sanggup membawakan singgasana ratu itu kepadanya. Ifrit menjawab bahwa ia sanggup membawanya sebelum Sulaiman berdiri dari kursinya, dan yang seorang lagi yang sudah mengerti tentang Kitab (Taurat dan Zabur) mengatakan bahwa dia akan membawa singgasana itu sebelum Sulaiman mengedipkan mata. Kemudian Ratu Saba’ dan rombongannya berangkat dengan membawa sendiri aneka macam hadiah.
Istana Sulaiman yang sudah dipersiapkan untuk menyambutnya, memang terlihat dalam lukisan lembut yang sangat indah dan megah. Ratu Saba’ penyembah matahari itu—yang dalam tradisi Arab biasa disebut bernama Balqis—ketika dipersilakan memasuki istana, ia berjalan sambil menarik gaunnya yang panjang sedikit ke atas, sehingga kedua betisnya terlihat. Ia berbuat begitu, karena dikira lantai istana yang berkilauan itu digenangi air. Melihat yang demikian Sulaiman berkata, mungkin sambil tersenyum mengejek, “Tidak apa-apa, biasa. Lantai ini berlapis kaca.” Alangkah malunya Sang Ratu! Selama ini ia membanggakan istananya yang dikiranya sudah tak ada lagi istana di dunia yang dapat menandinginya. Suatu sindiran halus untuk menundukkan kesombongan Sang Ratu karena kekayaannya selama ini, dan sekaligus menjadi pelajaran baginya bahwa di atas segala kekuasaan di dunia, masih ada kekuasaan Tertinggi, masih ada Tuhan yang Mahakuasa. Saat itu ia berkata, “O Tuhan! Sekarang aku berserah diri bersama Sulaiman dan tunduk kepada Tuhan semesta alam.” (an-Naml/27: 20-44).
Dalam Alkitab, setelah Ratu Syeba (Saba’) mendengar tentang Salomo (Sulaiman), berhubung dengan nama Tuhan, Ratu hendak mengujinya dengan teka-teki, dan datang dengan pasukan pengiring yang sangat besar, membawa hadiah yang banyak sekali berupa emas, batu permata yang mahal-mahal, rempah-rempah, dan sebagainya. Setelah sampai, Ratu mengatakan segala yang ada dalam hatinya kepada Salomo. Salomo menjawab segala pertanyaan Ratu itu. Baginya tak ada yang tersembunyi (I Raja-raja 10, dan II Tawarikh 9).
Dalam Surah Ṣād/38: 34-35, Tuhan hendak menguji Sulaiman dengan meletakkan sesosok tubuh tanpa nyawa di atas singgasananya, yang ditafsirkan bahwa betapa pun besar kekuasaan manusia di dunia, hanyalah seperti tubuh tanpa nyawa, kecuali bila ia dihayati oleh roh Tuhan. Kendati kekuasaan Sulaiman sudah begitu besar hampir atas segalanya, ia meminta kerajaan yang tak seorang pun dapat menguasai sesudahnya. Akan tetapi, kemudian ia bertobat dan memohon ampun.
Jika Sulaiman dituduh terlibat dalam praktek sihir, tentu ini tuduhan yang mengada-ada dari pihak musuhnya, termasuk setan-setan yang selalu menggodanya agar ia menjadi kafir, menjadi pesihir, dan menyembah berhala. Akan tetapi, Sulaiman tak sampai terjerumus ke dalam perangkap setan dan teman-temannya yang tertarik pada ilmu-ilmu klenik, sihir, jimat, dan semacamnya. Yang demikian ini lalu dihubung-hubungkan kepada Raja Sulaiman dan kekuasaannya dalam berbagai ilmu yang dianggap ajaib itu. Mereka lalu mengira Sulaiman juga menguasai ilmu sihir dan melakukan praktek sihir. “Mereka mengikuti apa yang dibacakan setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia …” (al-Baqarah/2: 102). Lihat juga kosakata “Harut” dan “Marut”..
Hal ini sepintas lalu seolah hampir sama dengan yang terdapat dalam Perjanjian Lama, tetapi sebenarnya terdapat perbedaan filosofis yang sangat mendasar. Di dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa Salomo telah jatuh ke dalam penyembahan berhala. Ia mencintai perempuan-perempuan asing, padahal Tuhan telah melarang orang Israel bergaul dengan mereka dan “mereka pun janganlah bergaul dengan kamu,” sebab mereka akan membuat hati orang Israel condong kepada tuhan-tuhan mereka, dan hati Salomo sudah “terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik. “Pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya mencondongkan hatinya kepada tuhan-tuhan lain, sehingga dia tidak sepenuh hati terpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.” Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan mendirikan bukit-bukit untuk dewa-dewa sembahan… Tuhan berfirman kepada Salomo, “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu, dan akan memberikannya kepada hambamu.” (I Raja-Raja, 11: 1-13).
Dalam cerita lain, konon Nabi Sulaiman belajar ilmu sihirnya dari Mambres, pesihir Mesir terkenal, dan Pythagoras mendapatkan ilmu batinnya dari Nabi Sulaiman. Dongeng-dongeng yang bukan-bukan tentang Nabi Sulaiman dalam kepustakaan berbahasa Arab dan Persia setelah itu banyak sekali, bahkan dalam sebagian tafsir al-Qur’an pun. Mungkin secara tidak sadar terimbas oleh pengaruh Talmud—cerita-cerita tradisi Yahudi, dan Midrash—kitab penjelasan tentang Perjanjian Lama menurut penafsiran Yahudi. Sumber-sumber yang berasal dari tradisi semacam itu biasa disebut Israiliyat (Judaica). Kitab-kitab tafsir al-Qur’an yang mengandung pikiran-pikiran semacam ini, jika tidak menyebut sumbernya, dapat dikatakan telah kemasukan unsur-unsur Israliyat. Masih banyak legenda dan cerita fantastik lainnya yang masuk ke dalam kategori ini.
Dalam buku-buku referensi disebutkan bahwa Sulaiman, Salomo, atau Solomon, hidup sekitar tahun 1033-931 Sebelum Masehi. Ia mewarisi bapaknya, Daud, yang juga disebut raja. Secara tradisi, yang sudah tentu termasuk juga Perjanjian Lama, ia dipandang sebagai Raja Israil terbesar dan sebagai tokoh yang luar biasa. Dia mempertahankan negeri-negeri yang dikuasainya dengan kekuatan militer dan membentuk koloni-koloni Israel di luar perbatasan kerajaannya. Dia memperkuat kerajaannya, dan memperluas pengaruhnya dengan sejumlah negeri lain. Kebijakan dan kecerdasannya, kemampuannya meramal masa depan, dan menghadapi berbagai macam sihir, sering melampaui kemampuan imajinasi biasa. Pada hari tuanya ia mendapat reputasi oleh kearifannya yang khas karena dipercaya telah menulis kitab-kitab Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung dalam Perjanjian Lama dan ‘Hikmat Salomo’ atau ‘Wisdom of Solomon’ (I Raja-raja 4: 29-34). Ada beberapa di antaranya yang dianggap Apocrypha.*
Di kalangan sufi ia sering ditampilkan dalam cerita-cerita dalam bentuk metafora, untuk mengungkapkan perumpamaan, terutama karena kemam-puannya mengendalikan angin dan jin. Begitu juga dalam buku Seribu Satu Malam jin banyak berperan, yang erat hubungannya dengan cincin Nabi Sulaiman dan cerita-cerita jimat, terutama karena ia dapat memerintah jin dan berhadapan dengan para pesihir. Nama dan ketokohannya telah menjadi lambang segala macam cerita ajaib, dibawa oleh tukang-tukang cerita yang imajinatif.
Kematian Nabi Sulaiman
Mengenai kematian Salomo, Perjanjian Lama menuturkan bahwa sesudah dia memerintah di Yerusalem atas seluruh Israel selama empat puluh tahun, ia “mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud, ayahnya. Maka Rehabeam, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.” (I Raja-Raja 11: 42-43).
Di dalam Al-Qur’an, kematian Nabi Sulaiman disebutkan sepintas dalam sebuah ayat pendek, “Maka, tatkala Kami sudah menentukan kematian baginya, tak ada yang menunjukkan kematiannya kepada mereka kecuali rayap yang menggerogoti tongkatnya. Sesudah itu ia tersungkur.… (Saba’/34: 14).
Keterangan dalam Al-Qur’an hanya menyebutkan sekali dalam satu ayat pendek mengenai kematian Sulaiman, yang baru diketahui setelah sekumpulan rayap menggerogoti tongkatnya dan ia tersungkur jatuh. Ketika itulah sekelompok jin yang bekerja untuk Sulaiman merasa lepas dari siksaan bekerja di bawah pengawasannya, karena jin-jin itu menganggap pekerjaan itu sebagai hukuman bagi mereka (Saba’/34: 14).
Ayat pendek itu oleh beberapa mufasir telah direntang panjang lebar dengan mengutip hadis-hadis yang oleh kalangan ulama dinilai lemah dan dari sumber yang tidak jelas. Salah satunya, misalnya, dikatakan bahwa Nabi Sulaiman meninggal di tongkatnya itu baru diketahui sesudah satu tahun kemudian. Ibnu Kasir pun mengkritik pernyataan serupa itu dan dinilainya aneh sekali. Ibnu Kasir mengemukakan beberapa dalil, antara lain, bahwa tak mungkin istri-istrinya selama itu tidak tahu, padahal ada beberapa hari raya suci yang menurut syariat Musa harus dipatuhi, dan yang seharusnya dihadiri oleh Nabi Sulaiman.
2. ‘Ifrīt عِفْرِيْت (an-Naml/27: 39)
Kata yang terambil dari (‘ain-fa’-ra’) mempunyai banyak arti antara lain: warna, tumbuhan, kuat/keras, zaman, dan sesuatu bentuk pada hewan. Arti yang tepat untuk kata ‘ifrīt pada ayat ini adalah yang ketiga. Para ahli tafsir mengembalikan arti ‘ifrīt kepada beberapa arti yaitu: yang kuat, keras, jahat, melampaui batas, atau cerdik. Dari arti yang disebutkan tadi maka ‘Ifrīt adalah makhluk jin yang mempunyai sifat kokoh, kuat, keras, dan cerdik yang mampu melakukan upaya yang menakjubkan karena kekuatannya yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.

























