اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ
Am may yujībul-muḍṭarra iżā da‘āhu wa yaksyifus-sū'a wa yaj‘alukum khulafā'a fil-arḍ(i), a'ilāhum ma‘allāh(i), qalīlam mā tażakkarūn(a).
Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.
Tanyakan pula kepada mereka, “Bukankah Dia Allah yang memperkenankan doa orang yang terpaksa, yakni berada dalam kesulitan yang mencekam apabila dia berdoa kepada-Nya? Dan bukankah Dia Yang Kuasa menghilangkan kesusahan yang menimpa siapa pun dan Yang Kuasa menjadikan kamu wahai manusia sebagai khalifah, penerus generasi sebelum kamu di bumi? Apakah ada yang mampu melakukan hal serupa itu? Pasti tidak ada. Jika demikian, apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Sedikit sekali nikmat Allah yang kamu ingat.”
Pada ayat ini, Allah mengemukakan pertanyaan yang ketiga dalam rangka menyingkapkan tabir kesesatan penyembah berhala. Kedua pertanyaan sebelumnya mengenai bidang materi, sedang pertanyaan ketiga ini menyangkut kerohanian. Pertanyaan ini berkisar pada siapakah yang mengabulkan permohonan orang yang berada dalam kesulitan, apabila ia berdoa kepada-Nya. Seperti penumpang sebuah kapal di tengah laut yang sedang diserang badai angin topan yang dahsyat, yang hampir tenggelam, kemudian ia berdoa memohon keselamatan kepada Allah. Apakah berhala yang dapat menyelamatkannya dari bahaya maut, ataukah Allah sendiri? Lalu siapakah yang menjadikan manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi? Adakah tuhan selain Allah yang dapat mengemudikan dan mengatur segala sesuatu di muka bumi ini? Hanya sedikit sekali manusia yang mau mengingat-Nya.
1. Qarāran قَرَارًا (an-Naml /27: 61)
Secara etimologis, qarāran semakna dengan kata maskan yang berarti tempat tinggal atau kediaman. Dalam konteks ayat di atas, Allah menegaskan bahwa diri-Nya yang telah menjadikan bumi sebagai qarāran atau tempat tinggal/kediaman yang nyaman bagi manusia, termasuk bagi orang-orang yang mengingkari keberadaan-Nya. Dengan penegasan ini, diharapkan orang-orang yang mengingkari keberadaan-Nya akan insaf dan kemudian beriman kepada-Nya.
2. Khulafā’ al-arḍ خُلَفَاءَ الاَرْضِ (an-Naml/27: 62)
Khulafā’ al-arḍ terdiri dari dua kata, khulafā’ (jamak dari khalīfah) yang bermakna wakil-wakil dan al-arḍ yang berarti bumi. Dengan demikian, khulafā’ al-arḍ bermakna wakil-wakil di bumi. Sedang maksud manusia dijadikan sebagai khulafā’ al-arḍ dalam konteks ayat di atas, adalah bahwa manusia dijadikan berkuasa untuk mengatur dan mengolah bumi. Dan yang menjadikan manusia sebagai khulafā’ al-arḍ tak lain adalah Allah. Karena itu, setiap orang harus selalu ingat pada-Nya. Namun ternyata, seperti diisyaratkan oleh ayat di atas, hanya sedikit yang mengingat-Nya.








































