فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ
Fa qāla ana rabbukumul-a‘lā.
Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”
Fir’aun berkata dengan sombong dan angkuh, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi. Hanya aku yang berhak kamu taati, bukan Tuhan Nabi Musa. Akulah yang paling berkuasa di negeri Mesir ini.”
Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa Fir‘aun mengumpulkan pembesar-pembesarnya dan berseru memanggil kaumnya yang sebagiannya terdiri dari para tukang sihir. Dengan penuh kesombongan, Fir‘aun berkata, “Akulah tuhan kamu yang paling tinggi. Jangan ikuti ajakan Musa.”
Nakāl نَكَالَ (an-Nāzi‘āt/79: 25)
Nakāl artinya siksaan. Terambil dari kata kerja nakala yang artinya ‘lemah’. Nakāl berarti “siksaan” karena siksaan itu membuat orang lemah tak berdaya. Dalam Al-Qur’an juga terdapat kata ankāl, bentuk jamak dari nakl, yang secara harfiah berarti “kekang” atau “tambatan” hewan, karena keduanya membuat hewan itu harus patuh dan tentu saja tersiksa. Dalam Surah al-Muzzammil/73: 12 disebutkan bahwa Allah memiliki alat-alat untuk menyiksa dan neraka bagi orang kafir: inna ladainā ankālan wa jaḥīman (sungguh, di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang menyala-nyala). Juga terdapat kata tankīl yang merupakan maṣdar dari nakkala (menyiksa).











































