يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ
Yas'alūnaka ‘anis-sā‘ati ayyāna mursāhā.
Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?”
Wahai Nabi Muhammad, orang-orang kafir akan mengingkari hari kiamat. Mereka bertanya kepadamu tentang hari Kiamat dengan penuh keingkaran, “Kapankah terjadinya?”
Orang-orang musyrik bertanya kepada Nabi tentang kapan waktunya hari Kiamat itu datang. Mereka menanyakan hal itu dengan nada mengejek dan mencemooh. Nabi sendiri ingin sekali menjawab pertanyaan mereka dengan tepat, akan tetapi Allah melarangnya karena hanya Dia sendirilah yang mengetahui kapan hari Kiamat itu akan terjadi.
Mursāhā مُرْسٰها (an-Nāzi‘āt/79: 42)
Mursāhā berasal dari fi‘il rasā-yarsū-raswan wa rusuwwan yang artinya tetap, berlabuh, atau mendarat. Al-Mursā adalah isim maf‘ūl yang artinya dijadikan atau terjadi. Dapat pula merupakan isim makān (tempat berlabuh atau pelabuhan). Ayyāna mursāhā artinya kapan terjadinya. Ayat 42 menerangkan tentang orang-orang kafir yang bertanya kepada Nabi Muhammad perihal hari Kiamat, kapan terjadinya? Kalimat tanya disini dalam ‘ilmu balāgah tidak berarti yang sebenarnya yaitu ingin tahu kapan terjadinya hari kiamat, melainkan berarti taubīkh yaitu mengejek. Orang-orang kafir memang tidak percaya pada adanya hari kebangkitan. Oleh karena itu, mereka selalu bertanya dengan nada mengejek, yaitu tidak mungkin ada hari kebangkitan, kapan terjadi hari kebangkitan atau hari Kiamat itu kapan? Padahal hari Kiamat dan hari kebangkitan itu pasti terjadi, dan waktunya adalah rahasia Allah sendiri.













































