وَّاَخْذِهِمُ الرِّبٰوا وَقَدْ نُهُوْا عَنْهُ وَاَكْلِهِمْ اَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۗوَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ مِنْهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا
Wa akhżihimur-ribā wa qad nuhū ‘anhu wa aklihim amwālan-nāsi bil-bāṭil(i), wa a‘tadnā lil-kāfirīna minhum ‘ażāban alīmā(n).
melakukan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya; dan memakan harta orang dengan cara tidak sah (batil). Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang sangat pedih.
Dan, selain itu, juga karena mereka menjalankan riba yang merupakan perbuatan yang tidak manusiawi, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, sebagaimana diterangkan di dalam kitab Taurat, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara tidak sah, cara yang batil, seperti penipuan, sogok menyogok, dan lain-lainnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih kelak di akhirat.
Diharamkannya sebagian makanan yang baik kepada orang-orang Yahudi juga disebabkan oleh tindakan mereka memakan uang riba yang nyata-nyata telah dilarang Allah dan disebabkan pula oleh perbuatan mereka yang batil seperti memperoleh harta melalui sogokan, penipuan, perampasan dan sebagainya. Terhadap perbuatan-perbuatan yang jahat itu Allah menyediakan siksa yang pedih di akhirat.
ar-Rāsikhūn اَلرَّاسِخُوْن َ (an-Nisā/4:162)
Kata raskh mempunyai arti “tetap dan kukuh pada tempatnya”. Jika dikatakan rasakha al-gadir artinya “air dalam kolam meresap”, jika dikaitkan dengan ilmu maka maksudnya ilmu itu menancap kuat-kuat di dada. Dari pengertian tersebut kata ar-rāsikhūn artinya “orang-orang yang mendalam ilmunya”, maksudnya orang-orang yang mampu menguasai ilmu secara benar sejalan dengan petunjuk Allah. Di samping berbagai keburukan yang dilakukan orang-orang Yahudi ada juga orang-orang Yahudi yang mendalam ilmunya seperti Abdullāh bin Salām dan kawan-kawannya yang masuk Islam bersama dengan orang-orang mukmin yang beriman pada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelumnya. Mereka rajin melaksanakan salat, menunaikan zakat dan menjaga iman mereka kepada Allah dan hari akhir. Mereka pasti akan memperoleh pahala yang besar. Jadi menguasai ilmu secara benar dan mendalam, sesuai dengan petunjuk Allah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran agama. Dalam Surah Āli ‘Imrān/3:7 Allah juga menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka ini sebagai kelompok penting di masyarakat yang berfungsi sebagai motivator dan penggerak pembangunan umat.













































