وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗوَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ ۗمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًاۢ ۙ
Wa qaulihim innā qatalnal-masīḥa ‘īsabna maryama rasūlallāh(i), wa mā qatalūhu wa mā ṣalabūhu wa lākin syubbiha lahum, wa innal-lażīnakhtalafū fīhi lafī syakkim minh(u), mā lahum bihī min ‘ilmin illattibā‘aẓ-ẓanni wa mā qatalūhu yaqīnā(n).
(Kami menghukum pula mereka) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,”184) padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang menurut mereka menyerupai (Isa). Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya (pembunuhan Isa), selalu dalam keragu-raguan terhadapnya. Mereka benar-benar tidak mengetahui (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), kecuali mengikuti persangkaan belaka. (Jadi,) mereka tidak yakin telah membunuhnya.
Kami hukum juga mereka karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam,” yang mereka ejek dengan menamainya Rasul Allah padahal mereka tidak beriman kepadanya. Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkatnya, Isa, kepada-Nya, yakni mengangkatnya ke tempat yang aman sehingga tidak dapat disentuh oleh musuh-musuhnya. Dan Allah Maha Perkasa, mengalahkan musuh-musuhnya, Maha Bijaksana dalam segala perbuatan-Nya.
Ayat ini menerangkan bahwa di antara sebab-sebab orang Yahudi mendapat kutukan dan kemurkaan Allah ialah karena ucapan mereka, bahwa mereka telah membunuh Almasih putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka sebenarnya tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang disalib dan yang dibunuh itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa Almasih bernama Yudas Iskariot, salah seorang dari 12 orang muridnya.
aṭ-Ṭūr اَلطُّوْرِ(an-Nis /4: 153)
Aṭ-ṭūr artinya “bukit atau gunung,” yang dimaksud di sini yaitu “Gunung Sinai,” tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah. Diangkatnya Gunung Sinai ke atas kepala mereka seperti akan jatuh menimpa mereka, dalam rangka mengingatkan perjanjian mereka untuk masuk ke pintu gerbang Baitulmakdis dan tidak melanggar larangan menangkap ikan pada hari Sabat (Sabtu). Orang Yahudi sudah berjanji akan menaati perjanjian tersebut tetapi ternyata mereka melanggarnya. Gunung Sinai adalah tempat bersejarah bagi Nabi Musa a.s. seperti Baitulmakdis bagi Nabi Isa a.s. dan Mekah Almukarramah bagi Nabi Muhammad saw., sebagaimana disebutkan dalam Surah at-Tīn/95:1-3, yang kemudian menjelaskan tentang manusia sebagai makhluk yang mulia dan diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tetapi jika tidak beriman dan beramal saleh maka akan ditempatkan pada tempat yang serendah-rendahnya yaitu di neraka. Sebuah surah dalam Al-Qur’an yaitu Surah ke-52 juga bernama aṭ-Ṭūr yang dimulai dengan sebuah qasam atau sumpah yang artinya “demi gunung”, yang dimaksud dalam ayat itu juga Gunung Sinai.





































