Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 39 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 39 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 85 •  Quarter Hizb 9.25 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللّٰهُ ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِهِمْ عَلِيْمًا

Wa māżā ‘alaihim lau āmanū billāhi wal-yaumil-ākhiri wa anfaqū mimmā razaqahumullāh(u), wa kānallāhu bihim ‘alīmā(n).

Apa ruginya bagi mereka seandainya mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir serta menginfakkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka? Allah adalah Maha Mengetahui (keadaan) mereka.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 39
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sebenarnya beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta menginfakkan sebagian dari karunia yang diberikan oleh Allah yang sangat banyak itu, tidaklah berat. Dan apa sebenarnya keberatan bagi mereka jika mereka beriman kepada Allah dan hari Kemudian dan apa kesulitannya jika mereka menginfakkan sebagian, bukan seluruhnya, dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh tidak ada kesulitan sedikit pun untuk melakukan hal itu. Dan ingatlah bahwa Allah sesungguhnya Maha Mengetahui segala sesuatu tentang keadaan mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini merupakan pertanyaan yang mengandung peringatan kepada manusia yang mempunyai sifat dan perbuatan seperti tersebut dalam ayat di atas. Sudah jelas, mereka akan beruntung dan berbahagia serta selamat sejahtera di dunia dan di akhirat bila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta mau memberikan sebagian rezeki yang telah Allah berikan kepadanya untuk kemaslahatan sesama manusia. Sifat orang yang sombong dan takabur dan mereka yang bakhil, sudah jelas akan mendatangkan kerugian dan bahaya bagi mereka, dan mereka akan mendapat siksa nanti di akhirat. Tetapi mengapa mereka tidak mau sadar dan insaf, dan tidak mau mengikuti ajaran Allah dan Rasul. Apakah mungkin karena kebodohan mereka atau mungkin karena hati mereka sudah tertutup untuk menerima kebenaran.

Mengharapkan pujian dan balasan dari manusia akan banyak mendatangkan kekecewaan dan putus asa. Apalagi kalau sudah ditimpa oleh musibah, maka timbullah kegoncangan dan kegelisahan dalam pikiran dan jiwa yang mengakibatkan putus asa dan hilang harapan. Berapa banyaknya korban yang jatuh akibat putus asa dan hilang harapan di mana manusia berani bunuh diri karenanya. Seandainya mereka orang yang beriman, tentu tidak akan ada sifat putus asa dan hilang harapan pada mereka. Mereka tentu akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kalau mendapat karunia dan nikmat, mereka bersyukur kepada Allah dan mempergunakan karunia itu untuk mengerjakan amal yang diridai-Nya. Tapi sebaliknya, kalau dia mendapat musibah, dia sabar dan tawakal kepada Allah. Bahkan musibah itu dianggapnya sebagai ujian dari Allah untuk memperkuat imannya.

Iman yang kuat dan keyakinan yang membaja adalah senjata yang ampuh untuk mempengaruhi hidup yang beraneka ragam corak dan bentuknya. Kadang-kadang menjadikan hati gembira dan kadang-kadang sedih dan duka. Kadang-kadang menjadikan seseorang gelak tertawa dan kadang-kadang menangis mengucurkan air mata. Tetapi di dalam hati orang beriman itu tetap ada keyakinan, bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan manusia. Allah mengetahui mana manusia yang ikhlas beramal dan mana manusia yang beramal karena mengharapkan pujian manusia. Allah akan memberikan balasan kepada seseorang sesuai dengan niatnya.

Isi Kandungan Kosakata

1. żī al-Qurbā ذِى الْقُرْبَى (an-Nisā’/4: 36)

Kata żī berarti mempunyai. Sedangkan kata al-qurbā berarti keluarga, kaum kerabat, atau karib. Kata qurbā atau qurbānan sebagai asal kata dari fi’il qaruba-yaqrubu, berarti menghampiri atau mendekati (dalam nasab). Jika kata żī dan al-qurbā digabungkan (dijadikan muḍāf dan muḍāfun ilaihi), berarti keluarga atau kerabat.

Kata żī al-qurbā disebutkan enam kali dalam Al-Qur’an, antara lain dalam an-Nisā’/4:36. Kata żā al-qurbā disebutkan lima kali, dan kata żawī al-qurbā disebutkan satu kali.

2. Yabkhalūn (Al-Bakhīl) يَبْخَلُوْنَ (an-Nisā’/4: 37)

Kata ini berasal dari kata al-bukhl (bakhala) yaitu tidak mau mengeluarkan atau mendermakan apa yang ada pada seseorang (Al-Qurṭubi) atau biasa disebut dengan kikir. Apa yang ada pada seseorang bisa berupa materi seperti harta atau bukan materi seperti ilmu, namun sifat bukhl atau kikir ini lebih banyak terkait dengan persoalan harta. Sifat bakhil yang dicerca oleh Islam adalah jika seseorang menolak memberikan kewajiban yang semestinya dia keluarkan kepada orang lain. Seperti enggan membayar zakat.

Kata lain yang dipakai dalam Al-Qur’an adalah asy-syuh, namun asy-syuh keadaannya lebih berat lagi dari al-bukhl, sebab asy-syuh adalah sifat bakhil yang disertai dengan keinginan yang sangat untuk memiliki apa yang tidak ada pada dirinya. Atau sifat kikir yang disertai dengan keinginan yang sangat akan apa yang ada padanya. Sifat ini adalah sifat yang buruk yang bila terdapat pada seseorang akan menjadikan orang lain tidak simpati kepadanya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto